var adfly_protocol = 'https'; var popunder = true;

Thursday, November 16, 2017

Jenis Jenis Tembang




•    Pangkur
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada  tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna.  Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.  Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang.

•    Sinom
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.

•    Pocung
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.

•    Gambuh
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti.  Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada  yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.

•    Kinanthi
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.

Tuesday, October 17, 2017

Sendratari Ramayana


Sendratari Ramayana Candi Prambanan Yorgyakarta

Sabetan Ki Manteb yang Legendaris

Sabetan Wayang Kulit oleh Ki Manteb Sudarsono yang Legendaris

Kompilasi Lakon Wayang Orang

Anoman Obong


Lakon Sukesi




Banowati Edan




Lesmana Wuyung




Penampilan Dalang-dalang Top



Ki Manteb Sudarsono: Kresna Duta


Ki Sutono Hadi Sugito: Baratayuda


Ki Wisnu: Wirata Parwa


Ki Entus Saksmono : Makrifat Deworuci


Ki Seno Nugroho : Wisanggeni Lahir



Penampilan Sinden-sinden Top Sedunia


Mbak Ginta & Mbak Diwang : Yen Ing Tawang & Memanik


Mbak Megan Colin : Ojo Lamis




Mbak Hiromi Kano : Caping Gunung






Mbak Soimah : Setyo Tuhu



Mbak Lusi Brahman



Mbak Agnes dari Hongaria






Wednesday, October 4, 2017

Wayang Klithik Mbah marlan


Wayang klithik semacam gabungan antara wayang golek dan wayang kulit. Yaitu terbuat dari kayu seperti wayang golek namun pipih yang hampir mendekati bentuk wayang kulit. Karena terbuat dari kayu, wayang klithik tidak menggunakan cempurit (tiang penyangga wayang kulit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, atau kayu secang-KP). Debog (batang pisang) sebagai landasan dalam wayang kulit diganti dengan kayu panjang berlubang. Tidak dipilihnya kulit sebagai bahan dasar wayang, diyakini erat kaitannya dengan dikeramatkannya sapi oleh pemeluk agama Hindu saat itu. 

Cara memainkan wayang klithik tidak jauh berbeda dengan wayang kulit. Adanya iringan gamelan, sinden, dan bahasa yang dipergunakan pun sama. Yang membedakan adalah ceritanya. Isi cerita wayang klitik berkisar pada babad tanah Jawa atau cerita rakyat mengenai legenda tanah Jawa, seperti cerita Menak atau Panji Semirang. 

Kembali ke desa Wonosoco. Tersebutlah pak Sumarlan, atau biasa dipanggil Mbah Marlan yang secara konsisten menjadi dalang wayang Klithik di Wonosoco. Mbah Marlan menjadi dalang bukanlah karena keturunan atau warisan. Mbah Marlan berkisah bahwa proses menjadi dalang dilaluinya secara alami, tidak ada perlakuan atau persiapan secara khusus. Sewaktu muda, Mbah Marlan hanya mengamati dan memperhatikan saat dalang Prawoto dari desa sebelah memainkan wayang klithik. Dan wayang milik dalang Prawoto itu pulalah yang dia mainkan setelah perangkat wayang tersebut dibeli oleh pak lurah Wonosoco. 

Promo

Promo
discount
var adfly_protocol = 'https'; var popunder = true;