• Pangkur
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang
(mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia
terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia
lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu
tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina
dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta
sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang
dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja,
sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun
sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji,
tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji.
Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu
untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun
sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak
melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu
yang gemar mentang-mentang.
• Sinom
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan
dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua
menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya
tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup
masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih
sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk
menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda)
hidupnya sering salah kaprah.
• Pocung
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain
kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak
dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian
justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup
di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai
lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan
dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi
azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.
• Gambuh
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah
sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh.
Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar
merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat
mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau
hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya
berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri
kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah
dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang
pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang
didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi.
Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan
menghayati. Bila merasa ada yang kurang, menjadikannya sakit hati dan
rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri.
Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah
dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan
kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar
ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu
menjadi mati.
• Kinanthi
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak
yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan
berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan
harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati
tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan
mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang
harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing)
agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.