Belum lama gema kenthongan yang dipukul sebelas kali hilang dari
pendengaran, para murid Soka Lima, yang terdiri dari Pandawa dan Kurawa
memenuhi Pendapa induk padepokan. Suasana pada malam itu menjadi khusus,
karena ada hal yang terlalu penting yang akan disampaikan oleh Pandita
Durna kepada semua muri-muridnya, tepat pada jam sebelas malam.
Temaramnya lampu minyak yang menggantung di tengah saka guru, mampu
menampakan raut wajah mereka yang serius. Tidak lama kemudian Pandita
Durna muncul didampingi oleh Aswatama, anak semata wayang.
Setelah duduk di antara murid-muridnya, Pandita Durna membuka pembicaraan.
“Sudah lebih dari tiga tahun kalian berlatih dengan sungguh-sungguh, Aku
bangga atas kemajuan yang kalian capai. Aku menghargai kalian, seperti
engkau menghormati aku. Aku mencintai kalian, seperti engkau juga
mencintai aku. Selama ini aku telah membantu kesulitan kalian, demikian
pula yang aku harapkan kalian juga membantu kesulitanku.”
“Bapa guru, bukankah bantuan kami selama ini terus mengalir. Tidak
sedikit harta yang kami berikan untuk membangun pendapa yang megah ini,
membangun asrama para murid, membangun pintu gapura dan tembok keliling
padepokan, juga membantu fasilitas-fasilitas yang lain. Namun jika semua
bantuan tersebut belum dapat mengatasi kesulitan, katakan saja Bapa
Guru, kesulitan apa lagi yang perlu kami bantu.”
“Anak Mas Duryudana, apa yang engkau katakan perihal bantuan itu memang
benar, namun bukan itu yang aku maksudkan. Aku membutuhkan bantuan untuk
menyembuhkan luka batin yang selama ini masih menganga di dalam hatiku.
Oleh karenanya hidupku tidak akan pernah tenang sebelum luka itu
sembuh.”
“Bapa Guru yang aku hormati, hati yang menganga karena luka dan tidak
segera pulih kembali itu hanya terjadi pada hati yang darahnya dialiri
dendam. Apakah Bapa Guru Durna menyimpan dendam?”
“ Benar Harjuna, engkau memang murid yang ‘lantip,’ aku menyimpan
dendam. Dan demi anakku Aswatama dendam tersebut aku hidupi, sembari
menunggu waktu yang tepat untuk melampiaskan.”
“Lalu, kepada siapa dendam itu akan dilampiaskan.?”
“Kepada Sucitra dan Gandamana”
Para murid terdiam, mereka tahu bahwa dua nama yang disebut Pandita
Durna adalah raja dan beteng kekuatan Cempalaradya atau Pancalaradya.
Bagi para Kurawa Gandamana dan Sucitra atau Prabu Durpada adalah dua
orang pilih tanding, yang tidak mudah dikalahkan. Hati mereka tergetar
membayangkan sepak terjang Gandamana di medan perang. Dengan aji Wungkal
Bener dan Bandung Bandawasa, Gandamana mampu memporakporandakan ratusan
prajurit dalam sekejap Lain halnya dengan perasaan yang berkecamuk di
hati Para Pandawa. Bagi mereka Prabu Durpada dan Gandamana adalah dua
orang Pepunden yang pantas di hormati. Maka jika karena janji baktinya
kepada Bapa Guru Durna harus menghadapi Gandamana dan Prabu Durpada, ada
perang batin yang tidak mudah untuk diselesaikannya
“Demi dendam itulah aku mengumpulkan kalian semua, untuk meminta tanda
baktimu, seperti yang pernah engkau nyatakan pada saat kalian akan
menjadi muridku, sekaligus sebagai pendadaran atas ilmu yang telah aku
ajarkan. Jika hal ini dianggap sebagai perintah, maka tidak ada pilihan
bagi kalian selain melaksanakan perintahku. Maka perintahku adalah:
Besok lusa pada hari Respati Manis, sebelum matahari tenggelam, aku
menginginkan Durpada dan Gandamana sampai di depanku dalam keadaan
terikat.”
Perintah Pandita Durna dapat diartikan bahwa para murid yang berhasil
merangket Durpada dan Gandamana, adalah para murid yang lolos
pendadaran. Keberhasilannya akan menempatkan mereka pada jenjang
selanjutnya dan mendapatkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi tatarannya.
Tentunnya bagi mereka yang berhasil, mendapat perhatian khusus di hati
Pandita Durna, lebih dari pada para murid yang tidak berhasil. Oleh
karenanya walaupun para Kurawa tergetar hatinya mendengar nama
Gandamana, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat pujian
sang guru, maka Para Kurawa mendahului para Pandawa berangkat ke
Cempalaradya.
Sebentar kemudian pendapa induk Padepokan Soka Lima menjadi sepi, Durna
tersenyum tipis memandangi murid-muridnya yang bergegas meninggalkan
pendapa, untuk mengemban tugas berat merangket Durpada dan Gandamana.
“Aswatama jangan pergi jauh-jauh dariku, karena sebentar lagi engkau
akan menyaksikan peristiwa yang telah lama kita tunggu, pembalasanku
kepada Sucitra dan Gandamana“
Keberanian para Kurawa yang kemudian muncul tidak terlepas dari
ambisinya untuk selalu ingin berada di atas mengungguli para Pandawa.
Peran Sengkuni sangat menentukan dalam mengobarkan kesombongan Duryudana
dan Dursasana. Maka tidaklah heran, ketika para Kurawa dengan senjata
lengkap sampai di pintu gerbang kotaraja Cempalaradya, Dursasana
berteriak-teriak menantang Durpada.
“Hei! Raja penakut, Durpada! Jangan bersembunyi di balik tembok tebal,
jangan berlindung di balik dada para prajurit, Jangan keenakan tidur
bersama selir-selirmu keluarlah hadapi Dursasana dan Para Kurawa. Jika
sampai tengah hari tidak mau keluar keraton akan saya bumihanguskan.”
Mendengar tantangan Dursasana, kepala prajurit jaga tidak dengan serta
merta terpancing. Ia cukup waspada dan berhati-hati menghadapi para
kurawa, sebatas tidak merusak dan menerobos masuk keraton.
Karena tidak ada tanggapan, Dursasana, Duryudana dan saudara-saudaranya
ingin menerobos prajurit jaga yang menyilangkan tombaknya di depan pintu
gapura. Melihat gelagat yang membahayakan, kepala prajurit jaga
menyerukan perintah.
“Tahan mereka! Jangan sampai masuk sitihinggil!”
Dursasana memandang remeh prajurit rucah yang menghadang di pintu
gerbang. Sambil berteriak-teriak mata pedangnya menyambar-nyambar, bak
elang mencari mangsa. Sementara itu Duryudana dengan gadanya berusaha
menghancurkan setiap musuh yang menghadang di depannya.
Bentrokan antara dua kelompok bersenjata akhirnya terjadi. Dursasana dan
Duryudana sangat bernafsu untuk segera menghabisi para prajurit jaga
yang menghadang di depan pintu gapura. Namun niatnya tidak segera
kesampaian. Walaupun secara perorangan kemampuan para prajurit berada
jauh dibawah murid-murid Sokalima, mereka adalah prajurit terlatih yang
berani mati. Dapat bekerja sama dengan kompak dan disiplin, mampu saling
menutupi celah-celah kelemahannya. Sehingga mereka bagaikan tembok
tebal yang tidak mudah untuk ditembus.
Ketika belum ada satupun senjata yang menggores, tiba-tiba berkelebatlah
bayangan yang mengacaukan para murid Sokalima. Bentrokan berhenti
seketika. Semua mata memandang sesorang yang berdiri tegak diantara para
prajurit jaga.
“Gandamana!”
Ucap para Kurawa hampir bersamaan.
“Benar aku Gandamana Beteng Negara Pancalaradya. Barang siapa ingin
menerobos masuk ke dalam cepuri keraton dengan niatan buruk, terlebih
dahulu harus mampu merobohkan aku.”
Rupanya Gandamana mau bertindak cepat untuk mengusir para Kurawa agar
tidak membuat kerusakan dan ketidak tentraman di depan pintu gapura
kraton, yang merupakan pintu utama bagi keluar masuknya para tamu,
sahabat, kerabat raja dan kawula Pancalaradya. Maka segera di bangunlah
sebuah mantra ajian Bandung Bandawasa. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh
dari kedua telapak tangan Gandamana. Ke mana tangan digerakan, angin
prahara menyapu dengan tenaga berlipat ganda, sebanding dengan tenaga
seribu gajah.
Para Kurawa kesulitan untuk mendekat, apalagi untuk balas menyerang.
Duryudana dan Dursasana orang yang dianggap mempunyai kelebihan
dibanding dengan para Kurawa yang lain, tidak mampu membendung amukan
Gandamana. Bahkan sebelum keringat mereka jatuh ke tanah, Duryudana dan
Dursasana telah meninggalkan halaman pintu gerbang diikuti oleh para
Kurawa dengan menyisakan debu dan umpatan kotor.
Gandamanan menghela napas lega, Pancalaradya terhindar dari bahaya. Ia
tidak gentar jika para Kurawa akan datang kembali dengan membawa
kekuatan yang jauh lebih besar.
Belum beranjak dari tempat ia berdiri, Pandawa Lima datang menghampiri
Gandamana untuk menyembah. Menerima sembahnya Puntadewa, Bimasena,
Arjuna, Nakula dan Sadewa, Gandamana melepaskan keperkasaan yang
ditunjukkan sewaktu mengetrapkan aji Bandung Bandawasa.
“Ngger, cucu-cucuku Pandawa, berdirilah dan katakan apa yang kau inginkan atas diriku.”
“Eyang Gandamana sungguh berat dan tidak mungkin kami haturkan maksud
kedatangan kami, tentunya Eyang Gandamana dapat membaca apa yang
berkecamuk di dalam hati kami.”
Sebagai orang yang berpengalaman, Gandamana dapat membaca bahwa
kedatangan para Pandawa yang adalah murid-murid Soka Lima, tentunya
mempunyai tujuan yang sama dengan Kurawa. Artinya bahwa Gandamana harus
menghadapi Pandawa seperti ketika ia menghadapi Kurawa.
Apakah kejadian ini merupakan gambaran nyata dari mimpiku? Ketika aku
bermimpi, Prabu Pandu datang untuk menjajagi kesetiaanku dan mengajakku
ke medan perang sendirian. Tetapi Gandamana tidak sampai hati berperang
melawan Pandawa, apalagi sampai melukainya? Mengingat mereka adalah
anak-anak Prabu Pandu Dewanata, raja yang dijunjung tinggi, dihormati,
dicintai dan dirindukan. Sehingga kedatangan para Pandawa tidak
dipandang sebagai musuh seperti Kurawa, namun justru menjadi pelepas
rindunya kepada Prabu Pandu yang telah tiada. Dengan mata berkaca-kaca,
dipandangnya Puntadewa, Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa bergantian.
“Siapa yang mewakili kalian untuk melaksanakan perintah gurumu Resi Durna?”
“Aku Eyang!” Bimasena menyahut mantap.
“Bagus! Majulah, ikat kedua tanganku dan bawalah kepada Resi Durna.”
“Tunggu Raden Gandamana! Sebagai kepala prajurit jaga, kami tidak
mebiarkan Bimasena menawan Raden tanpa perlawanan. Jika Raden tidak mau
berperang kepada Pandawa, biarlah kami yang akan berperang sampai kami
tidak mampu lagi berperang demi menjaga Negara Pancalaradya, Prabu
Durpada dan juga Raden Gandamana.”
Gandamana tertawa. Ia membenarkan apa yang dikatakan Kepala Prajurit
Jaga. Jika ia menyerah tanpa syarat, bukankah artinya ia telah
mengingkari sumpahnya sebagai panglima perang tertinggi dibawah raja,
dan membiarkan Prabu Durpada dengan mudah dijadikan tawanan.
“Terimakasih Kepala Prajurit, engkau telah mengingatkan aku yang lemah ini. Bimasena ayo majulah ikatlah kedua tanganku ini.”
Sembari mengulurkan kedua tangannya, diam-diam Gandamana mengetrapkan
mantra aji Wungkal Bener. Ajian tersebut merupakan salah satu kesaktian
Gandamana yang istimewa. Karena aji Wungkal Bener seakan-akan mempunyai
mata hati, ia akan memilih untuk menghancurkan lawan yang bersalah,
sedangkan lawan yang benar akan luput dari aji Wungkal Bener. Karena
alasan tersebut Gandamana sengaja mengetrapkan aji Wungkal Bener karena
percaya bahwa Pandawa berada dalam kebenaran, sehingga tidak terluka
karenanya.
Bima waspada, melihat ke dua tangan Gandamana yang dijulurkan untuk
diikat mengeluarkan asap putih. Eyang Gandamana telah mengetrapkan ajian
sakti. Maka Bimasena pun tidak mau membuang waktu, ia segera
mempersiapkan diri menghadapi Gandamana Namun sebelum bentrokan terjadi,
Prabu Durpada yang tiba-tiba berada di tempat itu telah mencegahnya.
Seperti Gandamana, Prabu Durpada merasakan hal yang sama saat bertemu
dengan Pandawa Lima. Gambaran sosok Pandu yang luhur budi muncul dari
ingatannya. Ia telah membantunya memenangkan sayembara. di Pancalaradya
dengan mengalahkan Gandamana sehingga mendapatkan Gandawati, anak Prabu
Gandabayu Raja Pancalaradya. Setelah Gandabayu surud, Sucitra
menggantikan mertuanya menjadi raja dengan gelar Prabu Durpada.
Sedangkan Gandamana diangkat Pandudewanata menjadi patihnya di
Hastinapura. Maka sebagai upaya balas budi kepada Pandu Dewanata yang
sudah meninggal, mikul dhuwur memdhem jero, Prabu Durpada dan Gandamana
sepakat menyerahkan diri kepada Bimasena tanpa perlawanan, untuk di bawa
menghadap Resi Durna sebagai tawanan.
No comments:
Post a Comment