Monday, August 14, 2017
Palgunadi /Ekalaya
Bambang Palgunadi adalah sebuah karakter di pewayangan baik versi Mahabarata asli dan versi Jawa. Dalam versi Mahabarata Palgunadi atau disebut juga dengan Bambang Ekalaya adalah seorang dari kasta rendah yang memiliki semangat belajar tinggi. Karena kurang beruntung dengan kastanya, ia tidak diterima murid oleh Begawan Durna, Profesor di negara Astina. Tak patah arang, Palgunadi pun tetap belajar dengan tekun didampingi patung Resi Durna yang tiap hari selalu dihormatinya.
Buah ketekunan belajar dan sikap tazimya kepada sang Guru, walaupun hanya berupa patung, membuat Palgunadi piawai dalam memanah, konon murid kesayangan sang Durna, Arjuna yang juga memiliki nama lain Bambang Palguna, kalah hebat dan kalah piawai.
Akhirnya dengan tipu muslihat, karena sang Guru Egois tak mau merasa tercoreng nama besarnya dikalahkan oleh seorang murid yang belajar dari patung, maka dimintalah sang Palgunadi untuk memotong 2 ibu jarinya sebagai bukti hormat pada Sang Guru. Tanpa pikir panjang Palgunadi pun mengaturkan 2 ibu jarinya kepada sang Durna si Guru Egois.
Karena ketekunan dalam belajar dan rasa hormat kepada Guru, Bambang Palgunadi dalam versi wayang Jawa dibuat menjadi tokoh yang lebih baik daripada versi aslinya. Ia digambarkan sangat mirip dengan Arjuna alias Palguna. Kematiannya pun dibuat lebih ksatria. Ini berbeda dengan versi asli India, Palguna mati setelah perang melawan Krisna dan Balaram (Baladewa) dua karakter yang identik dengan ksatria pilihan Dewa.
Hikmah yang luar biasa dari Bambang Palgunadi sang Pembelajar sejati. Tak ada waktu terlambat untuk belajar dan tak ada alasan usia untuk tetap belajar. Dan sebagai motivasi agar senantiasa bersemangat untuk tetap tekun belajar dan menghormati kepada para Guru dan Senior, saya menjadikan karakter wayang Palgunadi sebagai header dari blog ini.
(Sumber dari sebuah blog yang banyak bercerita tentang wayang di :http://wayang.wordpress.com/2010/07/...laya-palgunadi )
http://www.sripurwantono.web.id/2011...ang-palgunadi/
Monday, August 7, 2017
Pusaka Warisan Indra
Menjelang tengah malam, Harjuna memasuki halaman padepokan Sokalima.
Temaramnya cahaya lampu minyak menyambut wajah halus nan tampan di pintu
gerbang padepokan. Wajah tersebut sudah sangat dikenal oleh para
cantrik yang jaga, sehingga dengan serta-merta mereka menyambutnya
dengan penuh hormat, dan mengantarnya sampai di depan pintu, tempat sang
guru menanti.
Sang Guru Durna sudah cukup lama duduk bersila di ruang dalam menghadap meja dengan lampu minyak yang diletakkan di tengah-tengahnya. Di meja pendek itulah Guru Durna meletakan pusaka andalan yang berujud busur panah pemberian Batara Indra, namanya Gandewa. Kedahsyatan pusaka ini adalah, jika busur tersebut ditarik di medan perang, akan mengeluarkan anak panah dengan jumlah tak terbatas, dapat mencapai ratusan ribu, tergantung dari pemakainya. Sesungguhnya busur ini akan diwariskan kepada Aswatama, anak laki-laki satu-satunya. Namun rupanya sang guru Durna tidak cukup puas dengan kemampuan Aswatama. Dibandingkan dengan murid-murid yang lain, Aswatama tidak memiliki keistimewaan, sehingga jika pusaka Gandewa dipercayakan kepada Aswatama, ia akan mengalami kesulitan untuk menggunakannya, apalagi jika harus menarik busur Gandewa di medan perang.
Dengan mempertimbangkan kemampuan yang ada, terlebih pada penguasaan berolah senjata panah, maka Harjunalah yang mempunyai kemampuan memanah jauh meninggalkan murid-murid yang lain. Maka tidak dapat disalahkan jika Harjuna lebih diistimewakan dibanding murid-murid yang lain, termasuk juga Aswatama, karena Harjuna memang istimewa.
Suara gemerit menandakan pintu ruang tengah dibuka.
Saya datang menghadap di tengah malam ini bapa guru, maafkan saya
Masuklah Harjuna, aku telah lama menunggumu.
Dengan langkah hati-hati Harjuna memasuki ruangan, menyembah, untuk kemudian laku dhodhok dan duduk menunduk di hadapan sang guru Durna. Mata Harjuna menatap sebuah busur yang pernah diperlihatkan kepadanya. Ada getar yang kuat di hati Harjuna melihat busur Gandewa yang sengaja diletakan dan disiapkan di meja. Sebagai murid yang lantip dan cerdas Harjuna dapat membaca bahwa ada hubungannya antara pemanggilan dirinya dengan pusaka Gandewa.
Suasana menjadi hening dan khidmat ketika Durna mengawali pembicaraan yang wigati dan serius.
Harjuna murid yang aku kasihi, engkau tahu pusaka ini adalah pemberian Batara Indra pemimpin para Dewa. Diberikan padaku karena ketekunanku menjalani laku belajar ilmu memanah, baik secara lahir dan juga secara batin. Sehingga bagiku busur Gandewa ini merupakan tanda puncak prestasiku dalam hal ilmu memanah.
Namun sekarang aku tidak muda lagi, apalagi fisikku cacat sehingga tidak mungkin berprestasi seperti dulu lagi. Oleh karenanya, busur Gandewa ini sebaiknya aku wariskan kepada murid yang dapat mencecap ilmu memanahku dengan tuntas.
Pada mulanya aku memang berharap banyak kepada anakku Aswatama, namun dengan jujur aku mengakui bahwa ia tidak mampu mewarisi pusaka dahsyat ini, dikarenakan ilmu memanahnya tidak sempurna. Harjuna tentunya engkau dapat membaca arah pembicaraanku ini. namun pasti engkau tidak akan pernah menduga rencanaku atas pusaka ini.
Ampun Bapa Guru, saya tidak akan pernah mengungkapkan isi hatiku, sebelum Bapa Guru mengatakan kepadaku. Karena sesungguhnya, bapa guru dapat membaca isi hatiku.
He he he, Harjuna engkau memang murid yang selalu bisa membuat aku bangga. Kepatuhan, ketekunan, kemampuan dan kesetiaan yang telah engkau baktikan kepadaku selama ini adalah dasar pertimbanganku untuk memberikan semua ilmu yang ada padaku, khususnya ilmu memanah. Sehingga dengan demikian kemampuan memanah yang telah engkau kuasai sejajar dengan dengan kemampuanku. Jika aku lebih unggul dalam pengalaman, engkaupun lebih unggul dalam hal tenaga.
Harjuna bocah bagus, seorang guru sejati akan sangat berbahagia jika dapat menghasilkan murid yang mempunyai kemampuan melebihi gurunya. Maka untuk itulah aku memanggilmu secara khusus di tengah malam ini untuk menyempurnakan ilmu memanah yang telah aku ajarkan padamu.
Tangan Durna yang mulai menampakan keriputnya tersebut bergetar, dengan perlahan dan hati-hati ia mengambil pusaka Gandewa.
Terimalah pusaka ini, Harjuna
Bapa Guru
Seperti ketika aku menerima pusaka ini dari Batara Indra, demikian pula aku memberikan pusaka ini kepadamu sebagai tanda penghargaan atas prestasimu dalam ilmu memanah.
Adhuh Bapa Guru, apakah aku cukup pantas menerima penghargaan yang demikian tinggi? Tidakkah Aswatama yang lebih berhak menerima warisan pusaka dari Bapa Guru Durna?
Harjuna, purbawasesa ada padaku, aku masih percaya bahwa engkau tidak akan pernah mencoba untuk tidak taat kepada perintahku.
Ampun bapa guru Durna, dengan penuh rasa bakti dan hormat pusaka Gandewa aku terima. terimakasih bapa guru atas penghargaan ini.
Dengan perlahan tangan Harjuna dijulurkan menerima pusaka Gandewa.
Di sisi gelap, jauh dari jangkauan cahaya lampu minyak, ada sepasang mata yang sejak awal memperhatikan dialog antara guru dan murid tersebut. Pada saat pusaka Gandewa telah berpindah ke tangan Harjuna, dari ke dua sudut mata tersebut menyembul airmata bening berkilau. Walau hanya beberapa tetes, namun telah mampu membasahi ke dua pipinya.
Sang Guru Durna sudah cukup lama duduk bersila di ruang dalam menghadap meja dengan lampu minyak yang diletakkan di tengah-tengahnya. Di meja pendek itulah Guru Durna meletakan pusaka andalan yang berujud busur panah pemberian Batara Indra, namanya Gandewa. Kedahsyatan pusaka ini adalah, jika busur tersebut ditarik di medan perang, akan mengeluarkan anak panah dengan jumlah tak terbatas, dapat mencapai ratusan ribu, tergantung dari pemakainya. Sesungguhnya busur ini akan diwariskan kepada Aswatama, anak laki-laki satu-satunya. Namun rupanya sang guru Durna tidak cukup puas dengan kemampuan Aswatama. Dibandingkan dengan murid-murid yang lain, Aswatama tidak memiliki keistimewaan, sehingga jika pusaka Gandewa dipercayakan kepada Aswatama, ia akan mengalami kesulitan untuk menggunakannya, apalagi jika harus menarik busur Gandewa di medan perang.
Dengan mempertimbangkan kemampuan yang ada, terlebih pada penguasaan berolah senjata panah, maka Harjunalah yang mempunyai kemampuan memanah jauh meninggalkan murid-murid yang lain. Maka tidak dapat disalahkan jika Harjuna lebih diistimewakan dibanding murid-murid yang lain, termasuk juga Aswatama, karena Harjuna memang istimewa.
Suara gemerit menandakan pintu ruang tengah dibuka.
Saya datang menghadap di tengah malam ini bapa guru, maafkan saya
Masuklah Harjuna, aku telah lama menunggumu.
Dengan langkah hati-hati Harjuna memasuki ruangan, menyembah, untuk kemudian laku dhodhok dan duduk menunduk di hadapan sang guru Durna. Mata Harjuna menatap sebuah busur yang pernah diperlihatkan kepadanya. Ada getar yang kuat di hati Harjuna melihat busur Gandewa yang sengaja diletakan dan disiapkan di meja. Sebagai murid yang lantip dan cerdas Harjuna dapat membaca bahwa ada hubungannya antara pemanggilan dirinya dengan pusaka Gandewa.
Suasana menjadi hening dan khidmat ketika Durna mengawali pembicaraan yang wigati dan serius.
Harjuna murid yang aku kasihi, engkau tahu pusaka ini adalah pemberian Batara Indra pemimpin para Dewa. Diberikan padaku karena ketekunanku menjalani laku belajar ilmu memanah, baik secara lahir dan juga secara batin. Sehingga bagiku busur Gandewa ini merupakan tanda puncak prestasiku dalam hal ilmu memanah.
Namun sekarang aku tidak muda lagi, apalagi fisikku cacat sehingga tidak mungkin berprestasi seperti dulu lagi. Oleh karenanya, busur Gandewa ini sebaiknya aku wariskan kepada murid yang dapat mencecap ilmu memanahku dengan tuntas.
Pada mulanya aku memang berharap banyak kepada anakku Aswatama, namun dengan jujur aku mengakui bahwa ia tidak mampu mewarisi pusaka dahsyat ini, dikarenakan ilmu memanahnya tidak sempurna. Harjuna tentunya engkau dapat membaca arah pembicaraanku ini. namun pasti engkau tidak akan pernah menduga rencanaku atas pusaka ini.
Ampun Bapa Guru, saya tidak akan pernah mengungkapkan isi hatiku, sebelum Bapa Guru mengatakan kepadaku. Karena sesungguhnya, bapa guru dapat membaca isi hatiku.
He he he, Harjuna engkau memang murid yang selalu bisa membuat aku bangga. Kepatuhan, ketekunan, kemampuan dan kesetiaan yang telah engkau baktikan kepadaku selama ini adalah dasar pertimbanganku untuk memberikan semua ilmu yang ada padaku, khususnya ilmu memanah. Sehingga dengan demikian kemampuan memanah yang telah engkau kuasai sejajar dengan dengan kemampuanku. Jika aku lebih unggul dalam pengalaman, engkaupun lebih unggul dalam hal tenaga.
Harjuna bocah bagus, seorang guru sejati akan sangat berbahagia jika dapat menghasilkan murid yang mempunyai kemampuan melebihi gurunya. Maka untuk itulah aku memanggilmu secara khusus di tengah malam ini untuk menyempurnakan ilmu memanah yang telah aku ajarkan padamu.
Tangan Durna yang mulai menampakan keriputnya tersebut bergetar, dengan perlahan dan hati-hati ia mengambil pusaka Gandewa.
Terimalah pusaka ini, Harjuna
Bapa Guru
Seperti ketika aku menerima pusaka ini dari Batara Indra, demikian pula aku memberikan pusaka ini kepadamu sebagai tanda penghargaan atas prestasimu dalam ilmu memanah.
Adhuh Bapa Guru, apakah aku cukup pantas menerima penghargaan yang demikian tinggi? Tidakkah Aswatama yang lebih berhak menerima warisan pusaka dari Bapa Guru Durna?
Harjuna, purbawasesa ada padaku, aku masih percaya bahwa engkau tidak akan pernah mencoba untuk tidak taat kepada perintahku.
Ampun bapa guru Durna, dengan penuh rasa bakti dan hormat pusaka Gandewa aku terima. terimakasih bapa guru atas penghargaan ini.
Dengan perlahan tangan Harjuna dijulurkan menerima pusaka Gandewa.
Di sisi gelap, jauh dari jangkauan cahaya lampu minyak, ada sepasang mata yang sejak awal memperhatikan dialog antara guru dan murid tersebut. Pada saat pusaka Gandewa telah berpindah ke tangan Harjuna, dari ke dua sudut mata tersebut menyembul airmata bening berkilau. Walau hanya beberapa tetes, namun telah mampu membasahi ke dua pipinya.
Aji Narantaka VS Aji Gineng
Di Negara Astina Prabu Duryudana, Patih Harya Sangkuni dan kerabat
kerajaan Astina sedang membicarakan perihal berdiamnya keluarga Pandawa
di Tegal Kuru Setra, ini menunjukan bahwa negara Astina segera ingin
dikuasai lagi pihak Pandawa.
Untuk mengembalikan Negara Astina kepihak Pandawa, Prabu Duryudana merasa sayang dan tidak rela, untuk itu segala daya upaya dicari untuk membinasakan keluarga Pandawa agar tidak selalu mengusik-usik negara Astina yang memang menjadi haknya.
Begawan Dorna lalu mengusulkan agar Dursala muridnya dapat diberi tugas tersebut. Tetapi sebelum Dursala pergi ke Tegal Kuru Setra untuk membinasakan pihak Pandawa, Dursala harus tanding lebih dahulu dengan Prabu Baladewa, sebab Prabu Baladewa menyangsikan kemampuan dan kesaktian R.Dursala.
Setelah perang tanding dengan Prabu Baladewa, maka dengan diiringi bala tentara Kurawa berangkatlah R.Dursala ke Tegal Kuru Setra.
Kedatangan R.Dursala di Tegal Kuru Setra menjadikan keributan dan perkelahian, namun para putra Pandawa dan Pandawa tak satupun mampu menandingi kesaktian R.Dursala. Dengan Aji Gineng pemberian gurunya (Pisaca ), R.Dursala mengalahkan semua kerabat Pandawa.
Kemampuan Aji Gineng bila digunakan dan mengenai seseorang, maka orang yang terkena aji Gineng akan hancur lebur, dan R,Gatotkaca terkena aji Gineng tidak mampu menahanya dan gemetar tubuhnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya R.Gatotkaca melarikan diri untuk menghadap Resi Seta. Oleh Resi Seta, R.Gatotkaca diberi Aji Narantaka untuk menandingi Aji Gineng milik R.Dursala. Setelah mendapatkan kesaktian dan aji Narantaka, R.Gatotkaca kembali menemui Dursala.
Melihat kedatangan R.Gatokaca, Dursala lalu menghantamnya dengan aji Gineng namun dapat ditangkis dengan aji Narantaka milik Gatotkaca. Benturan Aji Gineng milik R.Dursala dan Aji Narantaka milik R.Gatotkaca menimbulkan suara yang dahsyat. Akhirnya Aji Gineng tidak dapat mengalahkan Aji Narantaka milik Gatotkaca, akibatnya tubuh R.Dursala hancur lebur terkena hantaman Aji Narantaka. Dengan kematian R.Dursala, bala tentara Kurawa kucar-kacir dan melarikan diri kembali ke negara Astina untuk memberi kabar kematian R.Dursala.
Gatotkaca dengan memiliki Aji Narantaka, sesumbar barang siapa wanita yang mampu menahan Aji Narantaka miliknya, ia akan diperistri. Ternyata Dewi Sampani mampu menahan Aji Narantaka miliknya, maka diperistrilah Dewi Sampani dan berputra Jaya Sumpena.
Untuk mengembalikan Negara Astina kepihak Pandawa, Prabu Duryudana merasa sayang dan tidak rela, untuk itu segala daya upaya dicari untuk membinasakan keluarga Pandawa agar tidak selalu mengusik-usik negara Astina yang memang menjadi haknya.
Begawan Dorna lalu mengusulkan agar Dursala muridnya dapat diberi tugas tersebut. Tetapi sebelum Dursala pergi ke Tegal Kuru Setra untuk membinasakan pihak Pandawa, Dursala harus tanding lebih dahulu dengan Prabu Baladewa, sebab Prabu Baladewa menyangsikan kemampuan dan kesaktian R.Dursala.
Setelah perang tanding dengan Prabu Baladewa, maka dengan diiringi bala tentara Kurawa berangkatlah R.Dursala ke Tegal Kuru Setra.
Kedatangan R.Dursala di Tegal Kuru Setra menjadikan keributan dan perkelahian, namun para putra Pandawa dan Pandawa tak satupun mampu menandingi kesaktian R.Dursala. Dengan Aji Gineng pemberian gurunya (Pisaca ), R.Dursala mengalahkan semua kerabat Pandawa.
Kemampuan Aji Gineng bila digunakan dan mengenai seseorang, maka orang yang terkena aji Gineng akan hancur lebur, dan R,Gatotkaca terkena aji Gineng tidak mampu menahanya dan gemetar tubuhnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya R.Gatotkaca melarikan diri untuk menghadap Resi Seta. Oleh Resi Seta, R.Gatotkaca diberi Aji Narantaka untuk menandingi Aji Gineng milik R.Dursala. Setelah mendapatkan kesaktian dan aji Narantaka, R.Gatotkaca kembali menemui Dursala.
Melihat kedatangan R.Gatokaca, Dursala lalu menghantamnya dengan aji Gineng namun dapat ditangkis dengan aji Narantaka milik Gatotkaca. Benturan Aji Gineng milik R.Dursala dan Aji Narantaka milik R.Gatotkaca menimbulkan suara yang dahsyat. Akhirnya Aji Gineng tidak dapat mengalahkan Aji Narantaka milik Gatotkaca, akibatnya tubuh R.Dursala hancur lebur terkena hantaman Aji Narantaka. Dengan kematian R.Dursala, bala tentara Kurawa kucar-kacir dan melarikan diri kembali ke negara Astina untuk memberi kabar kematian R.Dursala.
Gatotkaca dengan memiliki Aji Narantaka, sesumbar barang siapa wanita yang mampu menahan Aji Narantaka miliknya, ia akan diperistri. Ternyata Dewi Sampani mampu menahan Aji Narantaka miliknya, maka diperistrilah Dewi Sampani dan berputra Jaya Sumpena.
Ujian di Perguruan Sokalima
Belum lama gema kenthongan yang dipukul sebelas kali hilang dari
pendengaran, para murid Soka Lima, yang terdiri dari Pandawa dan Kurawa
memenuhi Pendapa induk padepokan. Suasana pada malam itu menjadi khusus,
karena ada hal yang terlalu penting yang akan disampaikan oleh Pandita
Durna kepada semua muri-muridnya, tepat pada jam sebelas malam.
Temaramnya lampu minyak yang menggantung di tengah saka guru, mampu
menampakan raut wajah mereka yang serius. Tidak lama kemudian Pandita
Durna muncul didampingi oleh Aswatama, anak semata wayang.
Setelah duduk di antara murid-muridnya, Pandita Durna membuka pembicaraan.
Sudah lebih dari tiga tahun kalian berlatih dengan sungguh-sungguh, Aku bangga atas kemajuan yang kalian capai. Aku menghargai kalian, seperti engkau menghormati aku. Aku mencintai kalian, seperti engkau juga mencintai aku. Selama ini aku telah membantu kesulitan kalian, demikian pula yang aku harapkan kalian juga membantu kesulitanku.
Bapa guru, bukankah bantuan kami selama ini terus mengalir. Tidak sedikit harta yang kami berikan untuk membangun pendapa yang megah ini, membangun asrama para murid, membangun pintu gapura dan tembok keliling padepokan, juga membantu fasilitas-fasilitas yang lain. Namun jika semua bantuan tersebut belum dapat mengatasi kesulitan, katakan saja Bapa Guru, kesulitan apa lagi yang perlu kami bantu.
Anak Mas Duryudana, apa yang engkau katakan perihal bantuan itu memang benar, namun bukan itu yang aku maksudkan. Aku membutuhkan bantuan untuk menyembuhkan luka batin yang selama ini masih menganga di dalam hatiku. Oleh karenanya hidupku tidak akan pernah tenang sebelum luka itu sembuh.
Bapa Guru yang aku hormati, hati yang menganga karena luka dan tidak segera pulih kembali itu hanya terjadi pada hati yang darahnya dialiri dendam. Apakah Bapa Guru Durna menyimpan dendam?
Benar Harjuna, engkau memang murid yang lantip, aku menyimpan dendam. Dan demi anakku Aswatama dendam tersebut aku hidupi, sembari menunggu waktu yang tepat untuk melampiaskan.
Lalu, kepada siapa dendam itu akan dilampiaskan.?
Kepada Sucitra dan Gandamana
Para murid terdiam, mereka tahu bahwa dua nama yang disebut Pandita Durna adalah raja dan beteng kekuatan Cempalaradya atau Pancalaradya. Bagi para Kurawa Gandamana dan Sucitra atau Prabu Durpada adalah dua orang pilih tanding, yang tidak mudah dikalahkan. Hati mereka tergetar membayangkan sepak terjang Gandamana di medan perang. Dengan aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa, Gandamana mampu memporakporandakan ratusan prajurit dalam sekejap Lain halnya dengan perasaan yang berkecamuk di hati Para Pandawa. Bagi mereka Prabu Durpada dan Gandamana adalah dua orang Pepunden yang pantas di hormati. Maka jika karena janji baktinya kepada Bapa Guru Durna harus menghadapi Gandamana dan Prabu Durpada, ada perang batin yang tidak mudah untuk diselesaikannya
Demi dendam itulah aku mengumpulkan kalian semua, untuk meminta tanda baktimu, seperti yang pernah engkau nyatakan pada saat kalian akan menjadi muridku, sekaligus sebagai pendadaran atas ilmu yang telah aku ajarkan. Jika hal ini dianggap sebagai perintah, maka tidak ada pilihan bagi kalian selain melaksanakan perintahku. Maka perintahku adalah: Besok lusa pada hari Respati Manis, sebelum matahari tenggelam, aku menginginkan Durpada dan Gandamana sampai di depanku dalam keadaan terikat.
Perintah Pandita Durna dapat diartikan bahwa para murid yang berhasil merangket Durpada dan Gandamana, adalah para murid yang lolos pendadaran. Keberhasilannya akan menempatkan mereka pada jenjang selanjutnya dan mendapatkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi tatarannya. Tentunnya bagi mereka yang berhasil, mendapat perhatian khusus di hati Pandita Durna, lebih dari pada para murid yang tidak berhasil. Oleh karenanya walaupun para Kurawa tergetar hatinya mendengar nama Gandamana, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat pujian sang guru, maka Para Kurawa mendahului para Pandawa berangkat ke Cempalaradya.
Sebentar kemudian pendapa induk Padepokan Soka Lima menjadi sepi, Durna tersenyum tipis memandangi murid-muridnya yang bergegas meninggalkan pendapa, untuk mengemban tugas berat merangket Durpada dan Gandamana.
Aswatama jangan pergi jauh-jauh dariku, karena sebentar lagi engkau akan menyaksikan peristiwa yang telah lama kita tunggu, pembalasanku kepada Sucitra dan Gandamana
Keberanian para Kurawa yang kemudian muncul tidak terlepas dari ambisinya untuk selalu ingin berada di atas mengungguli para Pandawa. Peran Sengkuni sangat menentukan dalam mengobarkan kesombongan Duryudana dan Dursasana. Maka tidaklah heran, ketika para Kurawa dengan senjata lengkap sampai di pintu gerbang kotaraja Cempalaradya, Dursasana berteriak-teriak menantang Durpada.
Hei! Raja penakut, Durpada! Jangan bersembunyi di balik tembok tebal, jangan berlindung di balik dada para prajurit, Jangan keenakan tidur bersama selir-selirmu keluarlah hadapi Dursasana dan Para Kurawa. Jika sampai tengah hari tidak mau keluar keraton akan saya bumihanguskan.
Mendengar tantangan Dursasana, kepala prajurit jaga tidak dengan serta merta terpancing. Ia cukup waspada dan berhati-hati menghadapi para kurawa, sebatas tidak merusak dan menerobos masuk keraton.
Karena tidak ada tanggapan, Dursasana, Duryudana dan saudara-saudaranya ingin menerobos prajurit jaga yang menyilangkan tombaknya di depan pintu gapura. Melihat gelagat yang membahayakan, kepala prajurit jaga menyerukan perintah.
Tahan mereka! Jangan sampai masuk sitihinggil!
Dursasana memandang remeh prajurit rucah yang menghadang di pintu gerbang. Sambil berteriak-teriak mata pedangnya menyambar-nyambar, bak elang mencari mangsa. Sementara itu Duryudana dengan gadanya berusaha menghancurkan setiap musuh yang menghadang di depannya.
Bentrokan antara dua kelompok bersenjata akhirnya terjadi. Dursasana dan Duryudana sangat bernafsu untuk segera menghabisi para prajurit jaga yang menghadang di depan pintu gapura. Namun niatnya tidak segera kesampaian. Walaupun secara perorangan kemampuan para prajurit berada jauh dibawah murid-murid Sokalima, mereka adalah prajurit terlatih yang berani mati. Dapat bekerja sama dengan kompak dan disiplin, mampu saling menutupi celah-celah kelemahannya. Sehingga mereka bagaikan tembok tebal yang tidak mudah untuk ditembus.
Ketika belum ada satupun senjata yang menggores, tiba-tiba berkelebatlah bayangan yang mengacaukan para murid Sokalima. Bentrokan berhenti seketika. Semua mata memandang sesorang yang berdiri tegak diantara para prajurit jaga.
Gandamana!
Ucap para Kurawa hampir bersamaan.
Benar aku Gandamana Beteng Negara Pancalaradya. Barang siapa ingin menerobos masuk ke dalam cepuri keraton dengan niatan buruk, terlebih dahulu harus mampu merobohkan aku.
Rupanya Gandamana mau bertindak cepat untuk mengusir para Kurawa agar tidak membuat kerusakan dan ketidak tentraman di depan pintu gapura kraton, yang merupakan pintu utama bagi keluar masuknya para tamu, sahabat, kerabat raja dan kawula Pancalaradya. Maka segera di bangunlah sebuah mantra ajian Bandung Bandawasa. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kedua telapak tangan Gandamana. Ke mana tangan digerakan, angin prahara menyapu dengan tenaga berlipat ganda, sebanding dengan tenaga seribu gajah.
Para Kurawa kesulitan untuk mendekat, apalagi untuk balas menyerang. Duryudana dan Dursasana orang yang dianggap mempunyai kelebihan dibanding dengan para Kurawa yang lain, tidak mampu membendung amukan Gandamana. Bahkan sebelum keringat mereka jatuh ke tanah, Duryudana dan Dursasana telah meninggalkan halaman pintu gerbang diikuti oleh para Kurawa dengan menyisakan debu dan umpatan kotor.
Gandamanan menghela napas lega, Pancalaradya terhindar dari bahaya. Ia tidak gentar jika para Kurawa akan datang kembali dengan membawa kekuatan yang jauh lebih besar.
Belum beranjak dari tempat ia berdiri, Pandawa Lima datang menghampiri Gandamana untuk menyembah. Menerima sembahnya Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa, Gandamana melepaskan keperkasaan yang ditunjukkan sewaktu mengetrapkan aji Bandung Bandawasa.
Ngger, cucu-cucuku Pandawa, berdirilah dan katakan apa yang kau inginkan atas diriku.
Eyang Gandamana sungguh berat dan tidak mungkin kami haturkan maksud kedatangan kami, tentunya Eyang Gandamana dapat membaca apa yang berkecamuk di dalam hati kami.
Sebagai orang yang berpengalaman, Gandamana dapat membaca bahwa kedatangan para Pandawa yang adalah murid-murid Soka Lima, tentunya mempunyai tujuan yang sama dengan Kurawa. Artinya bahwa Gandamana harus menghadapi Pandawa seperti ketika ia menghadapi Kurawa.
Apakah kejadian ini merupakan gambaran nyata dari mimpiku? Ketika aku bermimpi, Prabu Pandu datang untuk menjajagi kesetiaanku dan mengajakku ke medan perang sendirian. Tetapi Gandamana tidak sampai hati berperang melawan Pandawa, apalagi sampai melukainya? Mengingat mereka adalah anak-anak Prabu Pandu Dewanata, raja yang dijunjung tinggi, dihormati, dicintai dan dirindukan. Sehingga kedatangan para Pandawa tidak dipandang sebagai musuh seperti Kurawa, namun justru menjadi pelepas rindunya kepada Prabu Pandu yang telah tiada. Dengan mata berkaca-kaca, dipandangnya Puntadewa, Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa bergantian.
Siapa yang mewakili kalian untuk melaksanakan perintah gurumu Resi Durna?
Aku Eyang! Bimasena menyahut mantap.
Bagus! Majulah, ikat kedua tanganku dan bawalah kepada Resi Durna.
Tunggu Raden Gandamana! Sebagai kepala prajurit jaga, kami tidak mebiarkan Bimasena menawan Raden tanpa perlawanan. Jika Raden tidak mau berperang kepada Pandawa, biarlah kami yang akan berperang sampai kami tidak mampu lagi berperang demi menjaga Negara Pancalaradya, Prabu Durpada dan juga Raden Gandamana.
Gandamana tertawa. Ia membenarkan apa yang dikatakan Kepala Prajurit Jaga. Jika ia menyerah tanpa syarat, bukankah artinya ia telah mengingkari sumpahnya sebagai panglima perang tertinggi dibawah raja, dan membiarkan Prabu Durpada dengan mudah dijadikan tawanan.
Terimakasih Kepala Prajurit, engkau telah mengingatkan aku yang lemah ini. Bimasena ayo majulah ikatlah kedua tanganku ini.
Sembari mengulurkan kedua tangannya, diam-diam Gandamana mengetrapkan mantra aji Wungkal Bener. Ajian tersebut merupakan salah satu kesaktian Gandamana yang istimewa. Karena aji Wungkal Bener seakan-akan mempunyai mata hati, ia akan memilih untuk menghancurkan lawan yang bersalah, sedangkan lawan yang benar akan luput dari aji Wungkal Bener. Karena alasan tersebut Gandamana sengaja mengetrapkan aji Wungkal Bener karena percaya bahwa Pandawa berada dalam kebenaran, sehingga tidak terluka karenanya.
Bima waspada, melihat ke dua tangan Gandamana yang dijulurkan untuk diikat mengeluarkan asap putih. Eyang Gandamana telah mengetrapkan ajian sakti. Maka Bimasena pun tidak mau membuang waktu, ia segera mempersiapkan diri menghadapi Gandamana Namun sebelum bentrokan terjadi, Prabu Durpada yang tiba-tiba berada di tempat itu telah mencegahnya.
Seperti Gandamana, Prabu Durpada merasakan hal yang sama saat bertemu dengan Pandawa Lima. Gambaran sosok Pandu yang luhur budi muncul dari ingatannya. Ia telah membantunya memenangkan sayembara. di Pancalaradya dengan mengalahkan Gandamana sehingga mendapatkan Gandawati, anak Prabu Gandabayu Raja Pancalaradya. Setelah Gandabayu surud, Sucitra menggantikan mertuanya menjadi raja dengan gelar Prabu Durpada. Sedangkan Gandamana diangkat Pandudewanata menjadi patihnya di Hastinapura. Maka sebagai upaya balas budi kepada Pandu Dewanata yang sudah meninggal, mikul dhuwur memdhem jero, Prabu Durpada dan Gandamana sepakat menyerahkan diri kepada Bimasena tanpa perlawanan, untuk di bawa menghadap Resi Durna sebagai tawanan.
Setelah duduk di antara murid-muridnya, Pandita Durna membuka pembicaraan.
Sudah lebih dari tiga tahun kalian berlatih dengan sungguh-sungguh, Aku bangga atas kemajuan yang kalian capai. Aku menghargai kalian, seperti engkau menghormati aku. Aku mencintai kalian, seperti engkau juga mencintai aku. Selama ini aku telah membantu kesulitan kalian, demikian pula yang aku harapkan kalian juga membantu kesulitanku.
Bapa guru, bukankah bantuan kami selama ini terus mengalir. Tidak sedikit harta yang kami berikan untuk membangun pendapa yang megah ini, membangun asrama para murid, membangun pintu gapura dan tembok keliling padepokan, juga membantu fasilitas-fasilitas yang lain. Namun jika semua bantuan tersebut belum dapat mengatasi kesulitan, katakan saja Bapa Guru, kesulitan apa lagi yang perlu kami bantu.
Anak Mas Duryudana, apa yang engkau katakan perihal bantuan itu memang benar, namun bukan itu yang aku maksudkan. Aku membutuhkan bantuan untuk menyembuhkan luka batin yang selama ini masih menganga di dalam hatiku. Oleh karenanya hidupku tidak akan pernah tenang sebelum luka itu sembuh.
Bapa Guru yang aku hormati, hati yang menganga karena luka dan tidak segera pulih kembali itu hanya terjadi pada hati yang darahnya dialiri dendam. Apakah Bapa Guru Durna menyimpan dendam?
Benar Harjuna, engkau memang murid yang lantip, aku menyimpan dendam. Dan demi anakku Aswatama dendam tersebut aku hidupi, sembari menunggu waktu yang tepat untuk melampiaskan.
Lalu, kepada siapa dendam itu akan dilampiaskan.?
Kepada Sucitra dan Gandamana
Para murid terdiam, mereka tahu bahwa dua nama yang disebut Pandita Durna adalah raja dan beteng kekuatan Cempalaradya atau Pancalaradya. Bagi para Kurawa Gandamana dan Sucitra atau Prabu Durpada adalah dua orang pilih tanding, yang tidak mudah dikalahkan. Hati mereka tergetar membayangkan sepak terjang Gandamana di medan perang. Dengan aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa, Gandamana mampu memporakporandakan ratusan prajurit dalam sekejap Lain halnya dengan perasaan yang berkecamuk di hati Para Pandawa. Bagi mereka Prabu Durpada dan Gandamana adalah dua orang Pepunden yang pantas di hormati. Maka jika karena janji baktinya kepada Bapa Guru Durna harus menghadapi Gandamana dan Prabu Durpada, ada perang batin yang tidak mudah untuk diselesaikannya
Demi dendam itulah aku mengumpulkan kalian semua, untuk meminta tanda baktimu, seperti yang pernah engkau nyatakan pada saat kalian akan menjadi muridku, sekaligus sebagai pendadaran atas ilmu yang telah aku ajarkan. Jika hal ini dianggap sebagai perintah, maka tidak ada pilihan bagi kalian selain melaksanakan perintahku. Maka perintahku adalah: Besok lusa pada hari Respati Manis, sebelum matahari tenggelam, aku menginginkan Durpada dan Gandamana sampai di depanku dalam keadaan terikat.
Perintah Pandita Durna dapat diartikan bahwa para murid yang berhasil merangket Durpada dan Gandamana, adalah para murid yang lolos pendadaran. Keberhasilannya akan menempatkan mereka pada jenjang selanjutnya dan mendapatkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi tatarannya. Tentunnya bagi mereka yang berhasil, mendapat perhatian khusus di hati Pandita Durna, lebih dari pada para murid yang tidak berhasil. Oleh karenanya walaupun para Kurawa tergetar hatinya mendengar nama Gandamana, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat pujian sang guru, maka Para Kurawa mendahului para Pandawa berangkat ke Cempalaradya.
Sebentar kemudian pendapa induk Padepokan Soka Lima menjadi sepi, Durna tersenyum tipis memandangi murid-muridnya yang bergegas meninggalkan pendapa, untuk mengemban tugas berat merangket Durpada dan Gandamana.
Aswatama jangan pergi jauh-jauh dariku, karena sebentar lagi engkau akan menyaksikan peristiwa yang telah lama kita tunggu, pembalasanku kepada Sucitra dan Gandamana
Keberanian para Kurawa yang kemudian muncul tidak terlepas dari ambisinya untuk selalu ingin berada di atas mengungguli para Pandawa. Peran Sengkuni sangat menentukan dalam mengobarkan kesombongan Duryudana dan Dursasana. Maka tidaklah heran, ketika para Kurawa dengan senjata lengkap sampai di pintu gerbang kotaraja Cempalaradya, Dursasana berteriak-teriak menantang Durpada.
Hei! Raja penakut, Durpada! Jangan bersembunyi di balik tembok tebal, jangan berlindung di balik dada para prajurit, Jangan keenakan tidur bersama selir-selirmu keluarlah hadapi Dursasana dan Para Kurawa. Jika sampai tengah hari tidak mau keluar keraton akan saya bumihanguskan.
Mendengar tantangan Dursasana, kepala prajurit jaga tidak dengan serta merta terpancing. Ia cukup waspada dan berhati-hati menghadapi para kurawa, sebatas tidak merusak dan menerobos masuk keraton.
Karena tidak ada tanggapan, Dursasana, Duryudana dan saudara-saudaranya ingin menerobos prajurit jaga yang menyilangkan tombaknya di depan pintu gapura. Melihat gelagat yang membahayakan, kepala prajurit jaga menyerukan perintah.
Tahan mereka! Jangan sampai masuk sitihinggil!
Dursasana memandang remeh prajurit rucah yang menghadang di pintu gerbang. Sambil berteriak-teriak mata pedangnya menyambar-nyambar, bak elang mencari mangsa. Sementara itu Duryudana dengan gadanya berusaha menghancurkan setiap musuh yang menghadang di depannya.
Bentrokan antara dua kelompok bersenjata akhirnya terjadi. Dursasana dan Duryudana sangat bernafsu untuk segera menghabisi para prajurit jaga yang menghadang di depan pintu gapura. Namun niatnya tidak segera kesampaian. Walaupun secara perorangan kemampuan para prajurit berada jauh dibawah murid-murid Sokalima, mereka adalah prajurit terlatih yang berani mati. Dapat bekerja sama dengan kompak dan disiplin, mampu saling menutupi celah-celah kelemahannya. Sehingga mereka bagaikan tembok tebal yang tidak mudah untuk ditembus.
Ketika belum ada satupun senjata yang menggores, tiba-tiba berkelebatlah bayangan yang mengacaukan para murid Sokalima. Bentrokan berhenti seketika. Semua mata memandang sesorang yang berdiri tegak diantara para prajurit jaga.
Gandamana!
Ucap para Kurawa hampir bersamaan.
Benar aku Gandamana Beteng Negara Pancalaradya. Barang siapa ingin menerobos masuk ke dalam cepuri keraton dengan niatan buruk, terlebih dahulu harus mampu merobohkan aku.
Rupanya Gandamana mau bertindak cepat untuk mengusir para Kurawa agar tidak membuat kerusakan dan ketidak tentraman di depan pintu gapura kraton, yang merupakan pintu utama bagi keluar masuknya para tamu, sahabat, kerabat raja dan kawula Pancalaradya. Maka segera di bangunlah sebuah mantra ajian Bandung Bandawasa. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kedua telapak tangan Gandamana. Ke mana tangan digerakan, angin prahara menyapu dengan tenaga berlipat ganda, sebanding dengan tenaga seribu gajah.
Para Kurawa kesulitan untuk mendekat, apalagi untuk balas menyerang. Duryudana dan Dursasana orang yang dianggap mempunyai kelebihan dibanding dengan para Kurawa yang lain, tidak mampu membendung amukan Gandamana. Bahkan sebelum keringat mereka jatuh ke tanah, Duryudana dan Dursasana telah meninggalkan halaman pintu gerbang diikuti oleh para Kurawa dengan menyisakan debu dan umpatan kotor.
Gandamanan menghela napas lega, Pancalaradya terhindar dari bahaya. Ia tidak gentar jika para Kurawa akan datang kembali dengan membawa kekuatan yang jauh lebih besar.
Belum beranjak dari tempat ia berdiri, Pandawa Lima datang menghampiri Gandamana untuk menyembah. Menerima sembahnya Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa, Gandamana melepaskan keperkasaan yang ditunjukkan sewaktu mengetrapkan aji Bandung Bandawasa.
Ngger, cucu-cucuku Pandawa, berdirilah dan katakan apa yang kau inginkan atas diriku.
Eyang Gandamana sungguh berat dan tidak mungkin kami haturkan maksud kedatangan kami, tentunya Eyang Gandamana dapat membaca apa yang berkecamuk di dalam hati kami.
Sebagai orang yang berpengalaman, Gandamana dapat membaca bahwa kedatangan para Pandawa yang adalah murid-murid Soka Lima, tentunya mempunyai tujuan yang sama dengan Kurawa. Artinya bahwa Gandamana harus menghadapi Pandawa seperti ketika ia menghadapi Kurawa.
Apakah kejadian ini merupakan gambaran nyata dari mimpiku? Ketika aku bermimpi, Prabu Pandu datang untuk menjajagi kesetiaanku dan mengajakku ke medan perang sendirian. Tetapi Gandamana tidak sampai hati berperang melawan Pandawa, apalagi sampai melukainya? Mengingat mereka adalah anak-anak Prabu Pandu Dewanata, raja yang dijunjung tinggi, dihormati, dicintai dan dirindukan. Sehingga kedatangan para Pandawa tidak dipandang sebagai musuh seperti Kurawa, namun justru menjadi pelepas rindunya kepada Prabu Pandu yang telah tiada. Dengan mata berkaca-kaca, dipandangnya Puntadewa, Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa bergantian.
Siapa yang mewakili kalian untuk melaksanakan perintah gurumu Resi Durna?
Aku Eyang! Bimasena menyahut mantap.
Bagus! Majulah, ikat kedua tanganku dan bawalah kepada Resi Durna.
Tunggu Raden Gandamana! Sebagai kepala prajurit jaga, kami tidak mebiarkan Bimasena menawan Raden tanpa perlawanan. Jika Raden tidak mau berperang kepada Pandawa, biarlah kami yang akan berperang sampai kami tidak mampu lagi berperang demi menjaga Negara Pancalaradya, Prabu Durpada dan juga Raden Gandamana.
Gandamana tertawa. Ia membenarkan apa yang dikatakan Kepala Prajurit Jaga. Jika ia menyerah tanpa syarat, bukankah artinya ia telah mengingkari sumpahnya sebagai panglima perang tertinggi dibawah raja, dan membiarkan Prabu Durpada dengan mudah dijadikan tawanan.
Terimakasih Kepala Prajurit, engkau telah mengingatkan aku yang lemah ini. Bimasena ayo majulah ikatlah kedua tanganku ini.
Sembari mengulurkan kedua tangannya, diam-diam Gandamana mengetrapkan mantra aji Wungkal Bener. Ajian tersebut merupakan salah satu kesaktian Gandamana yang istimewa. Karena aji Wungkal Bener seakan-akan mempunyai mata hati, ia akan memilih untuk menghancurkan lawan yang bersalah, sedangkan lawan yang benar akan luput dari aji Wungkal Bener. Karena alasan tersebut Gandamana sengaja mengetrapkan aji Wungkal Bener karena percaya bahwa Pandawa berada dalam kebenaran, sehingga tidak terluka karenanya.
Bima waspada, melihat ke dua tangan Gandamana yang dijulurkan untuk diikat mengeluarkan asap putih. Eyang Gandamana telah mengetrapkan ajian sakti. Maka Bimasena pun tidak mau membuang waktu, ia segera mempersiapkan diri menghadapi Gandamana Namun sebelum bentrokan terjadi, Prabu Durpada yang tiba-tiba berada di tempat itu telah mencegahnya.
Seperti Gandamana, Prabu Durpada merasakan hal yang sama saat bertemu dengan Pandawa Lima. Gambaran sosok Pandu yang luhur budi muncul dari ingatannya. Ia telah membantunya memenangkan sayembara. di Pancalaradya dengan mengalahkan Gandamana sehingga mendapatkan Gandawati, anak Prabu Gandabayu Raja Pancalaradya. Setelah Gandabayu surud, Sucitra menggantikan mertuanya menjadi raja dengan gelar Prabu Durpada. Sedangkan Gandamana diangkat Pandudewanata menjadi patihnya di Hastinapura. Maka sebagai upaya balas budi kepada Pandu Dewanata yang sudah meninggal, mikul dhuwur memdhem jero, Prabu Durpada dan Gandamana sepakat menyerahkan diri kepada Bimasena tanpa perlawanan, untuk di bawa menghadap Resi Durna sebagai tawanan.
Impian Gandamana
Dendam mengandung daya penghancur yang luar biasa. Si penyimpan dendam tidak akan pernah merasakan cara kerjanya dalam proses penghancuran hidup dan kehidupan. Seperti dendam yang ditumbuhkan di hati Durna. Sebagai Maha Guru ia memang suntuk mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para murid-muridnya, tetapi tujuan utamanya bukan untuk para murid, melainkan untuk melampiaskan dendamnya kepada Prabu Durpada dan Gandamana. Sungguh luar biasa, dendam tidak akan pernah berhenti sebelum tuannya hancur.
Dikarenakan yang menjadi tujuan utama pengajaran di Sokalima adalah pembalasan sakit hati, maka pesan Resi Bisma kepada Durna agar tidak lupa menanamkan rasa saling mencintai, sikap saling menghargai dan rela memberi maaf kepada Kurawa dan Pandhawa menjadi tidak begitu penting.
Dendam itu pulahlah yang telah menyeret Pandita Durna untuk memperlakukan murid-muridnya dengan tidak adil, Mban cindhe mban siladan, pilih-kasih. Murid yang satu diemban dengan kain cindhe sedangkan murid yang lain diemban dengan siladan (kulit bambu). Diantara ratusan muridnya, Bimasena dan Harjuna mendapat perlakuan istimewa melebihi Aswatama anaknya. Karerna mereka berdua yang memang sebelumnya gemar berguru kepada orang-orang sakti, mempunyai kemampuan di atas rata-rata, bahkan kesaktiannya jauh meninggalkan murid-murid yang lain. Melalui Bimasena dan Harjuna inilah, Durna berharap dendamnya kepada Prabu Durpada dan Gandamana dapat dilampiaskan.
Salahkan aku, sebagai guru menaruh perhatian khusus kepada murid-murid berprestasi? Dosakah aku, sebagai seorang guru mencintai murid-murid yang patuh berbakti, dan menjunjung tinggi nama sang guru? Jika kalian ingin mendapat perhatian dan rasa cintaku seperti yang aku berikan kepada Bimasena dan Harjuna, berusahalah patuh dan berprestasi seperti mereka.
Demikianlah Durna selalu membela diri, mencari alasan untuk membenarkan tindakannya. Tanpa pernah mengakui bahwa itu semua adalah buah karya dari dendamnya yang di sekam.
Walaupun tenaga Durna yang memang tidak sempurna lagi itu telah ditumpahkan untuk murid-muridnya, tidaklah mudah membentuk orang-orang sakti dalam waktu singkat. Beberapa tahun berlalu, semenjak Durna mengangkat murid Pandhawa dan Kurawa, belum ada satupun muridnya yang kemampuannya berada diatas kemampuan Gandamana, termasuk juga Bimasena dan Harjuna, murid andalannya.
Pada suatu pagi, sebelum matahari terasa panas sinarnya. Durna berdiri diatas panggungan, dengan matanya yang tajam, ia mengamati sepasang-sepasang muridnya di arena latih tanding. Ketika tiba gilirannya pasangan Bimasena dan pasangan Harjuna menunjukkan kemampuannya, ia tersenyum puas melihat ilmu kedua murid kesayangan tersebut maju dengan pesat. Namun apakah kemampuan mereka cukup memadai untuk menandingi Gandamana? Siang-malam Durna senantiasa berharap agar saat pembalasan segera tiba. Ia ingin melunasi janjinya kepada Aswatama, sewaktu anaknya menangis melihat luka-luka yang dideritanya. Jangan menangis Aswatama bocah bagus, bersabarlah. Nanti jika saatnya tiba, akan kutunjukan di depanmu pembalasanku kepada Sucitra (Prabu Durpada) dan Gandamana. He he he
Di Keraton Cempalaradya pada suatu malam, Gandamana tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Waktu tepat menunjukkan pukul dua dinihari. Jatungnya masih berdetak keras. Mimpi yang baru saja datang dalam tidurnya, membuat bergetar hatinya. Dalam mimpi tersebut ia didatangi Prabu Pandudewanata.
Patih Gandamana, apakah engkau masih setia padaku?
Adhuh Sinuwun Prabu, aku selalu setia kepada Hastinapura dan Prabu Pandudewanata sampai akhir hayatku.
Terimakasih Gandamana, aku ingin bukti dengan apa yang engkau katakan.
Sinuwun Prabu, apakah yang Paduka kehendaki atas diriku ini?
Bersiaplah mengikuti aku ke medan perang!
Baiklah Sinuwun, di mana dan berapa pasukan mesthi aku persiapan?
Aku tidak memerlukan pasukan kerajaan. Cukup engkau seorang. Prabu Pandudewanata tersenyum, sebentar kemudian hilang dari pandangan. Aku tiba-tiba sudah berada di medan pertempuran yang sengit. Mereka saling membunuh dengan ganas. Jantungku berdegup keras, selama menjadi Patih Hastinapura baru kali ini aku melihat pertempuran yang lebih dahsyat dari Perang Pamukswa perang antara Hastinapura dan Pringgandani. Aku menebarkan pandangan ke delapan penjuru mata angin, dan dengan jelas melihat bahwa pertempuran tersebut melibatkan empat raja. Yang membedakan antara raja yang satu dengan raja yang lainnya adalah warna pakaiannya, termasuk bala tentaranya. Raja yang berpakaian serba Merah, bala tentaranya berpakaian serba merah. Raja yang berpakaian Hitam, bala tentaranya juga berpakaian serba Hitam. Demikian juga raja yang berpakaian Kuning dan Putih. Diantara raja-raja tersebut, aku tidak melihat Prabu Pandudewanata. Dimanakah beliau berada? Bukankah beliau yang mengajakku ke medan perang?
Sebelum pertanyaanku terjawab, tiba-tiba ke empat raja beserta pengikutnya menyerang aku. Puluhan ribu senjata diacung-acungkan kepadaku. Sungguh mengerikan sekujur tubuhku bergetar. Sebentar lagi badanku akan lumat dicincang mereka. Namun aku tidak bisa meninggalkan medan perang. Aku bukan pengecut. Apa lagi aku telah berjanji kepada Prabu Pandudewanata untuk ikut ke medan perang, bertempur sampai titik darah penghabisan. Maka aku songsong mereka dengan muka tegak dan dada terbuka. Dhuaarr! Benturan dahsyat terjadi, aku terbangun.
Sementara kidung malam masih menyisakan suaranya, pikiran Gandamana menerawang jauh di masa lampau, ketika ia masih menjadi Maha Patih Hastinapura. Kenangan bersama Prabu Pandudewanata sungguh membangkitkan kerinduan. Rindu masa-masa kejayaan, rindu kepada Raja yang ia cintai dan ia hormati.
Namun kini semua tinggal kenangan, Prabu Pandu Dewanata telah memasuki alam keabadian. Namun ia masih berkenan mengunjungi aku. Apakah Sang prabu juga rindu kepadaku? Aku sangat bahagia karenanya, Sang Prabu meninggalkan senyum abadi kepadaku. Meskipun hanya di dalam mimpi.
Gojali Suta
Raja trajutisna prabu sitidja alias boma narakasura merasa sangat sedih
dan kecewa. karena istrinya Dewi Hagnyawanawati atau dei Mustikawati tak
mau melayaninya sebagai suami. malah sang istri mabok kepayang dengan
saudaranya sendiri yaitu raden samba wisnubrata.
susana sangat suram menyelimuti paseban agung. sang raja prabu sitidja cuma diam saja. sedangkan Prabu Supala, patih Pancadnyana, Ditya Maudara, Ditya Ancak Ogra, Ditya Yayahgriwa, Ditya Sinundha cuma bisa ikutan diam sambil memandang kosong ke lantai. mereka sangat takut melihat keadaan rajanya yang sedang bermuram durja. untuk memecah kesunyian maka sang raja prabu sitidja berkata kepada patihnya prabu supala:
"paman supala saya mengadakan pertemuan ini sengaja ingin membhas masalah raden samba dan dhiajeng Hagnyanawati. dua orang itu sudah bener bener kasmaran sampe dhiajeng Hagnyanawati dibawa pulang ke dwarawati. maksud saya daripada didengar orang luar, mending adik saya samba saya nikahkan dengan istri saya dhiajeng Hagnyanawati. lalu saya dudukan di kerajaan trajutisna dengan baik baik"
"sebentar kanjeng prabu, bukankah kelakuan adik baginda samba itu berarti telah berani melakukan tindakan mesum dan berkhianat kepada sang prabu?barani mengambil istri paduka sebagai pacarnya?bukankah itu sama dengan berani menginjak injak kepala sang prabu sendiri"
"tidak apa apa paman, karena samba itu adik saya yang paling saya sayangi. karena itu saya akan mengirim utusan ke dwarawati yaitu maudara dan ancak ogra untuk menghadap ke prabu kresna agar mau mengijinkan membawa samba dan hgnywati untuk saya nikahkan di trajutisna."
kemudian prabu sutidja memberikan perintah kepada maudara dan ancak ogra untuk berangkat ke dwarawati untuk menghadap sri baginda kresna ayahnya untuk menyampaikan keinginan prabu boma narakasura. maka maudara dan ancak ogra segera berangkat.
di paseban agung kerajaan dwarawati. disana sang raja sri baginda raja bhatara kresna sedang berdiskusi dengan patih udawa dan raden setyaki. yang dibicarakan tidak lain adalah kelakuan raden samba yan telah merusak pagar ayu dengan membawa istri saudaranya sendiri untuk dijadikan sebagai kekasih. belum lama pembicaraan berlangsung datanglah ditya maudara dan ancak ogra.
setelah datang dan saling beramah tamah mereka mengatakan tujuan kedatanganya ke pada prabu kresna. lalu prabu bhatara kresna yang sudah mengetahui akan jadi apa lelakon ini mengijinkan raden samba untuk dibawa ke trajutisna. maka ditya maudara dan ancak ogra segera pamit dengan membawa raden samba ke trajutisna.
setelah kedua utusan pamit, setyaki maju menghadap bhatara kresna dan matur:
" kakanda prabu kenapa kakanda ijinkan mereka membawa raden samba?iya jika kedua utusan tadi berkata benar, bagaimana jika mereka berbohong dan ingkar janji?di sana nantinya raden samba bukan akan dinikahkan mlah akan dihukum?bagaimana kakanda prabu"
"wahai adiku setyaki, janagn berpikiran seperti itu. ingat semua itu sudah diatur takdir. walopun digedong baja sekalipun, jika sudah saatnya mati pasti terjadi. walopun dihujani tembakan peluru pun jika masih belom waktunya pasti kan selamat. adi setyaki jangan ikut campur, biarkan saja samba mau diapkan saja. yang jelas jangan sampe sitidja melawan dan melibatkan orang yang tanpa dosa!!. jika itu dilakukan apalagi melawan adi arjuna maka aku sendiri yang akan menghadapi sitidja anaku. sekarang adi setyaki bubarkan paseban pertemuan ini. saya mau tidur dan menenangkan hati"
diceritakan smapelah rombongan ditya maudara dan ancak ogra yang mengiring jaka samba ditengah hutan. disana 2 rksasa ini gak menerima kelakuan jka samba yang mengambil istri baginda rajanya. maka mereka berdua menyiksa jaka samba. sehingga jaka samba menjerit kesakitan. kebetulan saat itu datanglah arjuna yang kan menuju kerajaan dwarawati. kaget hati arjuna mendengar jeritan dari raden samba.
karena kaget maka arjuna segera bertanya dan mencegat rombongan itu:
"kalo ga salah ini maudara dan samba. kenapa ini kok badan samba biru biru seperti ini?dan kalian hendak pergi kemana?"
maudara menjawab:
"kalo raden arjuna bertanya maka sebenarnya saya dan ancak ogra menjalankan perintah kanjeng gusti sitidja untuk membawa anak mas raden samba ke trajutisna untuk di nikahkan dengan dewi hagnyawati. nah kenapa badan raden samba biru biru?karena kena duri dan onak di dalam hutan"
"apa benar seperti itu samba" tanya arjuna tidak percaya kepada samba.
"aduh paman itu tak benar, kenapa saya babak belur begini karena saya sebenernya digebuki oleh paman maudara dan ancak ogra"
karena marah maka maudara di tusuk oleh raden arjuna dengan pusaka pulanggeni hingga tewas dan balik ke asalnya yaitu bangkai burung dara. sementara ancak ogra diberikan surat tantangan yg ditulis arjuna untuk sitidja. karena temen seperjalananya tewas segera ancak ogra berlaripulang ke trajutisna. sementara raden samba dan dewi hagnywati untuk sementara waktu dipersilahkan menginap di kasatrian madukoro.
di kerajaan trajutisna sedang duduk prabu sitdja diatas singgasana dengan menhadap para bawahanya. tiba tiba datanglah ancak ogra dengan ngos ngosan dan berdarah darah. prabu sitidja sangat marah membaca surat tantangan. dan langsung menyerang madukoro. prabu sitidja naik diatas garuda wilmuna sementara semua prajuritnya berbaris didaratan.
tetapi sebelum tanding dengan arjuna prabu sitidja hendak mencari terlebih dahulu dimana raden samba yang menjadi pnyebab kejadian perkara ini. sementara perang pun pecah. baladewa, arjuna, setyaki, gatotkaca berperang melawan wadya bala dr trajutisna. perang besar pun pecah di madukoro.
diluar terjadi perang besar sementara di dalamkesatrin madukoro 2 muda mudi sedang bermadu asmara. yaitu raden samba dan dewi hagnywati. mereka berdua mabuk asmara bercumbu dan juga berpeluk peluk. apalagi raden samba merasa pamanya arjuna merestui dan melindungi dirinya. karena sedang asyik masyuk tak merasa ada endung yang tiba. itulah garuda wiluma yang segera turun. dan kagetlah raden samba melihat turunya garuda yang ditunggangi kakanya sitidja. segera raden samba tergopoh gopoh menghaturkan sembah.
"sembah saya kepada kakanda prabu, saya tak menyangka kakanda prabu sendiri yang akan datang kemari. mohon kakanda prabu mau memaafkan segla kesalahan hamba"
prabu seitidja berkata
"iya adiku, sebenarnya aku kesini akan marah kepada di samba, tp melihat adi seperti ini seolah hilang kemarahanku. sudahlah bukan watak trajutisna untuk marah cuma gara gara wanita"
ketika naik kembali ke garuda prabu sitidja mendengar omongan togog yang berkata:
"bagaimana sih ndoro?bukankah ndoro itu hendak marah dan menjatuhkan hukuman kepada samba yang telah merebut istri paduka?kenapa jadinya ketika sudah ketemu orangnya malah batal begini?"
lalu tanpa peringatan karena sangat marah dari atas garuda prabu sitidja melemparkan senjata limpung ke arah raden samba.sehingga lukanya sekujur tubuh. kemudian mengingat perang trajutisna dan madukoro terjadi karena samba plus melihat banyaknya mayat bergelimpangan. kemarahan prabu sitidja semakin membara. di hancurkanya tubuh samba. di robek mulutnya, dihancurkan hidungnya, tanganya dipatah dan dipuntir, lalu mayatnya dijuwing juwing. melihat keadaan ini dewi hagnywati menghunus patrem dan menusukan ke tubuhnya. ikut belapati.
sesudah itu prabu sitidja mengambil sisa mayat samba dan dilemparkan ke medan perang. dan sang prabu menaiki garuda untuk mengejar jatuhnya mayat. di medan perang para pandawa merasa sangat marah karena merasa tak mampu menjaga kselamatan raden samba. arjuna segera membidikan panahkyai sarotama yang di lepaskan ke leher prabu supala. dan tewaslah seketika prabu supala.
sementara patih pancatnyana di gemplang senjata neggala oleh bladewa dan tewas seketika. semua wadyabala trajutisna mulai habis di bantai oleh gatokaca dan werkudoro serta setyaki. mengetahui ini segera prabu sitidja maju perang. terjadi perang dahsyat antara arjuna dan prabu sitidja. tetapi prabu sitidja punya ajian pancasona. mati 7 kali sehari bisa hidup kembali. jd tak ada guna. ahirnya arjuna memilih keluar dr perang dan bertapa lg dengan nama benggawan cipto ening
karena malu arjuna keluar dr perang dan memilih betapa menjadi begawan cipto ening. mengetahui keluarnya arjuna maka para pndawa segera mencari bantuan sri bhatara kresna. malah sri bhatara kresna tidur tak bisa dibangunkan. bahkan diceritakan anaknya samba mati dijuwing juga tak bangun. sri bhatara kresna hanya bangun ketika diceritakan arjuna merasa malu dan keluar serta menghilang dr perang. rupanya sri bhatara kresna mengunjungi ibunyi sitidja yaitu dewi pratiwi di kayangan sapta pratala. di sana bhatara kresna menanyakan apa kelemahan sitidja. dei pratiwi menceritakan:
"sitidja punya aji pancasona tak akan mati selama masih menyentuh tanah. nah kelemahanya adalah sebuah anjang anjang besi. dalam episode topeng waja terjadi perkelahian antara sutedja dan gatotkaca. dimana topeng waja gatot di gemplang oleh senjata gamparan kencana milik sutedja lalu terjadi salah kedaden. ahirnya topeng itu berubah wujud jd anjang anjang besi di alas pramonokoti daerah pringgondani. itu pengapesan dr anak saya sitidja"
ketika bngun prabu kresna segera bilang kepada gatotkaca:
"jika nanti mayat saudaramu sitidja jatuh, segera bawa kabur ke alas pramonokoti dan baringkan di anjang anjang besi"
"baik paman prabu" kata gatotkaca
kemudian sitidja yang sedang menaiki garuda wiluma sedang terbang berputran di arena perang dilepasi senjata chakra oleh sri kresna. ahirnya tubuhnya terbelah dan jatuh kebumi lalu segera dibawa terbang oleh gatotkaca ke alas pramonoti dan diletakan di anjang anjang besi. sehingga matilah sitidja karena tak menyentuh tanah. maka berahirlah kisah perang gojali suta ini.
susana sangat suram menyelimuti paseban agung. sang raja prabu sitidja cuma diam saja. sedangkan Prabu Supala, patih Pancadnyana, Ditya Maudara, Ditya Ancak Ogra, Ditya Yayahgriwa, Ditya Sinundha cuma bisa ikutan diam sambil memandang kosong ke lantai. mereka sangat takut melihat keadaan rajanya yang sedang bermuram durja. untuk memecah kesunyian maka sang raja prabu sitidja berkata kepada patihnya prabu supala:
"paman supala saya mengadakan pertemuan ini sengaja ingin membhas masalah raden samba dan dhiajeng Hagnyanawati. dua orang itu sudah bener bener kasmaran sampe dhiajeng Hagnyanawati dibawa pulang ke dwarawati. maksud saya daripada didengar orang luar, mending adik saya samba saya nikahkan dengan istri saya dhiajeng Hagnyanawati. lalu saya dudukan di kerajaan trajutisna dengan baik baik"
"sebentar kanjeng prabu, bukankah kelakuan adik baginda samba itu berarti telah berani melakukan tindakan mesum dan berkhianat kepada sang prabu?barani mengambil istri paduka sebagai pacarnya?bukankah itu sama dengan berani menginjak injak kepala sang prabu sendiri"
"tidak apa apa paman, karena samba itu adik saya yang paling saya sayangi. karena itu saya akan mengirim utusan ke dwarawati yaitu maudara dan ancak ogra untuk menghadap ke prabu kresna agar mau mengijinkan membawa samba dan hgnywati untuk saya nikahkan di trajutisna."
kemudian prabu sutidja memberikan perintah kepada maudara dan ancak ogra untuk berangkat ke dwarawati untuk menghadap sri baginda kresna ayahnya untuk menyampaikan keinginan prabu boma narakasura. maka maudara dan ancak ogra segera berangkat.
di paseban agung kerajaan dwarawati. disana sang raja sri baginda raja bhatara kresna sedang berdiskusi dengan patih udawa dan raden setyaki. yang dibicarakan tidak lain adalah kelakuan raden samba yan telah merusak pagar ayu dengan membawa istri saudaranya sendiri untuk dijadikan sebagai kekasih. belum lama pembicaraan berlangsung datanglah ditya maudara dan ancak ogra.
setelah datang dan saling beramah tamah mereka mengatakan tujuan kedatanganya ke pada prabu kresna. lalu prabu bhatara kresna yang sudah mengetahui akan jadi apa lelakon ini mengijinkan raden samba untuk dibawa ke trajutisna. maka ditya maudara dan ancak ogra segera pamit dengan membawa raden samba ke trajutisna.
setelah kedua utusan pamit, setyaki maju menghadap bhatara kresna dan matur:
" kakanda prabu kenapa kakanda ijinkan mereka membawa raden samba?iya jika kedua utusan tadi berkata benar, bagaimana jika mereka berbohong dan ingkar janji?di sana nantinya raden samba bukan akan dinikahkan mlah akan dihukum?bagaimana kakanda prabu"
"wahai adiku setyaki, janagn berpikiran seperti itu. ingat semua itu sudah diatur takdir. walopun digedong baja sekalipun, jika sudah saatnya mati pasti terjadi. walopun dihujani tembakan peluru pun jika masih belom waktunya pasti kan selamat. adi setyaki jangan ikut campur, biarkan saja samba mau diapkan saja. yang jelas jangan sampe sitidja melawan dan melibatkan orang yang tanpa dosa!!. jika itu dilakukan apalagi melawan adi arjuna maka aku sendiri yang akan menghadapi sitidja anaku. sekarang adi setyaki bubarkan paseban pertemuan ini. saya mau tidur dan menenangkan hati"
diceritakan smapelah rombongan ditya maudara dan ancak ogra yang mengiring jaka samba ditengah hutan. disana 2 rksasa ini gak menerima kelakuan jka samba yang mengambil istri baginda rajanya. maka mereka berdua menyiksa jaka samba. sehingga jaka samba menjerit kesakitan. kebetulan saat itu datanglah arjuna yang kan menuju kerajaan dwarawati. kaget hati arjuna mendengar jeritan dari raden samba.
karena kaget maka arjuna segera bertanya dan mencegat rombongan itu:
"kalo ga salah ini maudara dan samba. kenapa ini kok badan samba biru biru seperti ini?dan kalian hendak pergi kemana?"
maudara menjawab:
"kalo raden arjuna bertanya maka sebenarnya saya dan ancak ogra menjalankan perintah kanjeng gusti sitidja untuk membawa anak mas raden samba ke trajutisna untuk di nikahkan dengan dewi hagnyawati. nah kenapa badan raden samba biru biru?karena kena duri dan onak di dalam hutan"
"apa benar seperti itu samba" tanya arjuna tidak percaya kepada samba.
"aduh paman itu tak benar, kenapa saya babak belur begini karena saya sebenernya digebuki oleh paman maudara dan ancak ogra"
karena marah maka maudara di tusuk oleh raden arjuna dengan pusaka pulanggeni hingga tewas dan balik ke asalnya yaitu bangkai burung dara. sementara ancak ogra diberikan surat tantangan yg ditulis arjuna untuk sitidja. karena temen seperjalananya tewas segera ancak ogra berlaripulang ke trajutisna. sementara raden samba dan dewi hagnywati untuk sementara waktu dipersilahkan menginap di kasatrian madukoro.
di kerajaan trajutisna sedang duduk prabu sitdja diatas singgasana dengan menhadap para bawahanya. tiba tiba datanglah ancak ogra dengan ngos ngosan dan berdarah darah. prabu sitidja sangat marah membaca surat tantangan. dan langsung menyerang madukoro. prabu sitidja naik diatas garuda wilmuna sementara semua prajuritnya berbaris didaratan.
tetapi sebelum tanding dengan arjuna prabu sitidja hendak mencari terlebih dahulu dimana raden samba yang menjadi pnyebab kejadian perkara ini. sementara perang pun pecah. baladewa, arjuna, setyaki, gatotkaca berperang melawan wadya bala dr trajutisna. perang besar pun pecah di madukoro.
diluar terjadi perang besar sementara di dalamkesatrin madukoro 2 muda mudi sedang bermadu asmara. yaitu raden samba dan dewi hagnywati. mereka berdua mabuk asmara bercumbu dan juga berpeluk peluk. apalagi raden samba merasa pamanya arjuna merestui dan melindungi dirinya. karena sedang asyik masyuk tak merasa ada endung yang tiba. itulah garuda wiluma yang segera turun. dan kagetlah raden samba melihat turunya garuda yang ditunggangi kakanya sitidja. segera raden samba tergopoh gopoh menghaturkan sembah.
"sembah saya kepada kakanda prabu, saya tak menyangka kakanda prabu sendiri yang akan datang kemari. mohon kakanda prabu mau memaafkan segla kesalahan hamba"
prabu seitidja berkata
"iya adiku, sebenarnya aku kesini akan marah kepada di samba, tp melihat adi seperti ini seolah hilang kemarahanku. sudahlah bukan watak trajutisna untuk marah cuma gara gara wanita"
ketika naik kembali ke garuda prabu sitidja mendengar omongan togog yang berkata:
"bagaimana sih ndoro?bukankah ndoro itu hendak marah dan menjatuhkan hukuman kepada samba yang telah merebut istri paduka?kenapa jadinya ketika sudah ketemu orangnya malah batal begini?"
lalu tanpa peringatan karena sangat marah dari atas garuda prabu sitidja melemparkan senjata limpung ke arah raden samba.sehingga lukanya sekujur tubuh. kemudian mengingat perang trajutisna dan madukoro terjadi karena samba plus melihat banyaknya mayat bergelimpangan. kemarahan prabu sitidja semakin membara. di hancurkanya tubuh samba. di robek mulutnya, dihancurkan hidungnya, tanganya dipatah dan dipuntir, lalu mayatnya dijuwing juwing. melihat keadaan ini dewi hagnywati menghunus patrem dan menusukan ke tubuhnya. ikut belapati.
sesudah itu prabu sitidja mengambil sisa mayat samba dan dilemparkan ke medan perang. dan sang prabu menaiki garuda untuk mengejar jatuhnya mayat. di medan perang para pandawa merasa sangat marah karena merasa tak mampu menjaga kselamatan raden samba. arjuna segera membidikan panahkyai sarotama yang di lepaskan ke leher prabu supala. dan tewaslah seketika prabu supala.
sementara patih pancatnyana di gemplang senjata neggala oleh bladewa dan tewas seketika. semua wadyabala trajutisna mulai habis di bantai oleh gatokaca dan werkudoro serta setyaki. mengetahui ini segera prabu sitidja maju perang. terjadi perang dahsyat antara arjuna dan prabu sitidja. tetapi prabu sitidja punya ajian pancasona. mati 7 kali sehari bisa hidup kembali. jd tak ada guna. ahirnya arjuna memilih keluar dr perang dan bertapa lg dengan nama benggawan cipto ening
karena malu arjuna keluar dr perang dan memilih betapa menjadi begawan cipto ening. mengetahui keluarnya arjuna maka para pndawa segera mencari bantuan sri bhatara kresna. malah sri bhatara kresna tidur tak bisa dibangunkan. bahkan diceritakan anaknya samba mati dijuwing juga tak bangun. sri bhatara kresna hanya bangun ketika diceritakan arjuna merasa malu dan keluar serta menghilang dr perang. rupanya sri bhatara kresna mengunjungi ibunyi sitidja yaitu dewi pratiwi di kayangan sapta pratala. di sana bhatara kresna menanyakan apa kelemahan sitidja. dei pratiwi menceritakan:
"sitidja punya aji pancasona tak akan mati selama masih menyentuh tanah. nah kelemahanya adalah sebuah anjang anjang besi. dalam episode topeng waja terjadi perkelahian antara sutedja dan gatotkaca. dimana topeng waja gatot di gemplang oleh senjata gamparan kencana milik sutedja lalu terjadi salah kedaden. ahirnya topeng itu berubah wujud jd anjang anjang besi di alas pramonokoti daerah pringgondani. itu pengapesan dr anak saya sitidja"
ketika bngun prabu kresna segera bilang kepada gatotkaca:
"jika nanti mayat saudaramu sitidja jatuh, segera bawa kabur ke alas pramonokoti dan baringkan di anjang anjang besi"
"baik paman prabu" kata gatotkaca
kemudian sitidja yang sedang menaiki garuda wiluma sedang terbang berputran di arena perang dilepasi senjata chakra oleh sri kresna. ahirnya tubuhnya terbelah dan jatuh kebumi lalu segera dibawa terbang oleh gatotkaca ke alas pramonoti dan diletakan di anjang anjang besi. sehingga matilah sitidja karena tak menyentuh tanah. maka berahirlah kisah perang gojali suta ini.
Brajadenta dan Brajamusthi
prabu duryodana dan para punggawa kurawa sedang bertemu di dampar agung negara hastina. mereka membicarakan krisis yang menimpa pringgondani. karena brajadenta ga mau menyerahkan kursi kepada prabo anom gatotkaca. duryodana melihat hal ini sebagai peluang. hal ini diamini oleh resi drona dan patih sengkuni. maka diutuslah patih sengkuni dan resi drona untuk bertamu ke brajadenta. maka berangkatlah utusan hastina menemui brajadenta.
dikediaman brajadenta para utusan hastina diterima. drona menceritakan bagaimana perang dengan ayah pandawa menewaskan prabu tremboko ayah dari brajadenta. kemudian ditambah cerita patih sengkuni tentang werkudoro yang membunuh kakak mereka tertua arimba. dan memanas manasi bahwa arimbi malah membelot menikah dengan werkudoro. karena dipanasi brajadenta tambah marah dan bersumpah merebut tahta pringgandani.
di pringgandani prabu anom gatotkaca menghadapi para pamanya. ada brajamusti dan kala bendana. prabu anom menanyakan kenapa brajadenta pamanya ga pernah sowan. karena dianggap aneh maka gatotkaca mengutus dua pamanya brajamusti dan kala bendana mengunjungi kediaman brajadenta. apalagi telah santer beredar kabar bahwa brajadenta akan mengkudeta gatotkaca dari kursi raja pringgondani.
berangkatlah dua utusan tadi ke kediaman brajadenta. mereka kaget melihat adanya rombongan dari kerajaan hastina sudah ada disana. mereka masuk lalu menyampaikan pesan kedatanganya adalah karena diutus gatotkaca. untuk melihat kabar brajadenta apakah sakit kenapa kok ga pernah sowan ke sitihinggil keraton pringgondani.
brajadenta marah besar dan mengatakan dengan lantang bahwa dia akan merebut kedaton dari tangan gatotkaca. brajamusti dan kala bendana berusaha mengingatkan brajadenta. bahwa dia sudah dipengaruhi oleh drona dan sengkuni. tapi brajadenta tak mau peduli dan menyuruh kedua adiknya itu kembali membawa surat tantangan. maka keluarlah brajamusti dan kala bendana dan diikuti oleh bala tentara hastina.
bala tentara hastina disuruh untuk membunuh kedua utusan tapi mereka dikalahkan dengan mudah oleh brajamusti. dan segera mereka kembali ke kedaton pringgondani. mereka mengatakan apa yang mereka dengar langsung dari brajadenta kepada prabu anom gatotkaca. gatotkaca menjadi resah dan merasa rikuh berhadapan dengan paman sendiri. sementara bala tentara brajadenta bersiap menuju ke istana pringgandani.
ketika pasukan brajadenta sampai terjadi pertempuran. brajadenta sakti luar biasa sehingga hampir semua mereka yang membela gatotkaca dikalahkan. sampai sampai gatotkaca sendiri maju dan dikalahkan oleh brajadenta. kemudian gatotkaca mundur dan ebrkeluh kesah kepada pamanya brajamusti. paman saya dikalahkan dan kerajaan direbut. bagaimana baiknya?. brajamusti berkata...masalah bisa beres jika tuan raja mengorbankan satu pilar kerajaan.
gatotkaca mengira pilar yg dimaksud adalah bener bener pilar bangunan keraton. maka dia mensetujui saja perkataan pamanya. tiba tiba brajamusti berkata bahwa brajadenta bisa mati asal bertarung sampai sama sama mati melawan dirinya. lalu brajamusti pamit dan melawan brajadenta. pertarungan sangat seru. keduanya seimbang. dan ahirnya sama sama mati tertusuk keris pusaka masing masing.
gatotkaca menangisi mayat kedua pamanya. lama lama mayat itu mengecil lalu masuk ke dalam tangan kanan dan kiri gatotkaca menjadi sebuah keilmuan. dan keilmuan itu dikenal dnegan keilmuan brajadenta dan brajamusti. sementara sisa pasukan pemberontak dan hastina dipukul mundur.
Subscribe to:
Posts (Atom)


