var adfly_protocol = 'https'; var popunder = true;

Wednesday, October 4, 2017

Wayang Klithik Mbah marlan


Wayang klithik semacam gabungan antara wayang golek dan wayang kulit. Yaitu terbuat dari kayu seperti wayang golek namun pipih yang hampir mendekati bentuk wayang kulit. Karena terbuat dari kayu, wayang klithik tidak menggunakan cempurit (tiang penyangga wayang kulit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, atau kayu secang-KP). Debog (batang pisang) sebagai landasan dalam wayang kulit diganti dengan kayu panjang berlubang. Tidak dipilihnya kulit sebagai bahan dasar wayang, diyakini erat kaitannya dengan dikeramatkannya sapi oleh pemeluk agama Hindu saat itu. 

Cara memainkan wayang klithik tidak jauh berbeda dengan wayang kulit. Adanya iringan gamelan, sinden, dan bahasa yang dipergunakan pun sama. Yang membedakan adalah ceritanya. Isi cerita wayang klitik berkisar pada babad tanah Jawa atau cerita rakyat mengenai legenda tanah Jawa, seperti cerita Menak atau Panji Semirang. 

Kembali ke desa Wonosoco. Tersebutlah pak Sumarlan, atau biasa dipanggil Mbah Marlan yang secara konsisten menjadi dalang wayang Klithik di Wonosoco. Mbah Marlan menjadi dalang bukanlah karena keturunan atau warisan. Mbah Marlan berkisah bahwa proses menjadi dalang dilaluinya secara alami, tidak ada perlakuan atau persiapan secara khusus. Sewaktu muda, Mbah Marlan hanya mengamati dan memperhatikan saat dalang Prawoto dari desa sebelah memainkan wayang klithik. Dan wayang milik dalang Prawoto itu pulalah yang dia mainkan setelah perangkat wayang tersebut dibeli oleh pak lurah Wonosoco. 

No comments:

Post a Comment

var adfly_protocol = 'https'; var popunder = true;