Monday, December 19, 2011

SASTRA PEDALANGAN

SASTRA PEDALANGAN

3.1 Sastra Pedalangan
Kandungan nilai sastra yang ada pada seni pertunjukkan
wayang adalah sangat luas. Pada hakikatnya seni pertunjukkan wayang
ini sebagai pelaku utamanya adalah dalang, maka sastra dalam
seni pertunjukkan ini sering disebut Sastra Pedalangan.
Sejak dalang manggung di bawah lampu penerang (blencong)
untuk memulai karya mendalangnya, maka nilai sastrawi itu
langsung nampak jelas mulai tergambarkan, tergelar dan terucapkan.
Bahkan apabila nilai sastrawi tersebut dimaknai sebagai pernyataan
filosofis, maka sebelum ki dalang memulainya, nilai-nilai
sastrawinya telah kelihatan. Sejak wayang itu digelar, dinyatakan dalam
bentuk tata panggung, semua yang berada serta terkait pada
panggung itu akan nampak jelas nilai-nilai sastrawinya dan sudah
mulai bisa dibaca oleh penonton terutama bagi yang memperhatikan
dan para pengamat, juga para penggemarnya.
Bentuk-bentuk wayang, bentangan kelir, nyala blencong
yang sangat terang dan penataan gamelan yang rapi dan berwibawa
serta indah itupun sudah menyatakan suatu gambaran yang sangat
filosofis. Demikian juga seperti bentuk penataan wayang yang berada
pada deretan sebelah kiri maupun kanan yang saling membelakangi
(ungkur-ungkuran), gunungan (kayon) yang ditancapkan di tengah-
tengah batang pisang (gedebog) dan sebelum dalang menempatkan
diri, itupun jelas mengandung nilai-nilai sastrawi yang berbobot.
(Purwadi dalam makalah Konggres Pewayangan 2005 di Yogya,
hal Pendahuluan).
Kini seni pewayangan yang sangat berbobot itu merupakan
pengembangan dari hasil budaya cipta-ripta yang munculnya dari
kreativitas masyarakat Jawa sejak masa-masa sebelum Masehi. Maka
tidak mustahil apabila seni pertunjukkan wayang itu sangat erat
sekali keterkaitannya dengan hidup dan kehidupan masyarakat Jawa.
Justru seni pertunjukkan wayang ini di kemudian hari digunakan
sebagai sarana pendidikan lahir batin bagi kehidupan masyarakat
secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Memang tujuan hidup masyarakat Jawa, mengutamakan
pencapaian hidup sorgawi. Ini berarti mereka yang berada pada posisi
generasi pendidik akan sangat mengutamakan ajaran-ajaran kerohanian.
Theology mereka sebagian besar menggunakan seni pewayangan
sebagai media pendidikan di dalam proses pembelajaran,
yang dipastikan akan lebih mudah untuk diterima bagi anak cucu.
93
Selanjutnya ajaran-ajaran tersebut tertuang melalui aspek
seni, yang terkandung dalam pewayangan. Aspek-aspek seni itu
adalah seni rupa, seni suara, seni drama, seni gerak, seni sastra.
Seni rupa berupa bentuk dan warna wayang, ukiran, seni
suara berupa tembang, suluk dan gending, seni drama berupa likuliku
cerita/lakon, seni gerak berupa tari dan laku wayang, seni sastra
berupa dialog, narasi, lakon gending, suluk dan lain-lain.
Namun demikian pembicaraan pada bab ini hanya akan
dikhususkan mengambil dari aspek sastra saja. Sebab dengan sastra
ini aspek yang lainnya akan ikut terbawa aktif sebagai jalan tercapainya
system pendidikan yang menjadi harapan masyarakat.
Aspek seni sastra yang realisasinya termasuk satu cabang
seni pertunjukkan wayang di mana sebagai pelaku utamanya adalah
dalang. Maka aspek ini dinyatakan sebagai Sastra Pedalangan (istilah
satu mata ajaran pada jurusan Pedalangan Jawatimuran di SMK
Negeri 9 Surabaya).
Kata sastra yang dalam bahasa Jawa kuna tertulis Çastra
berarti buku pelajaran, ilmu, pengetahuan, naskah, buku suci (Suwoyo
Woyowasito, Kamus Kawi Jawa Kuno-Indonesia). Dengan demikian
sastra artinya adalah tulisan (Bau Sastra Purwadarminta) juga
berarti piwulang/wewarah (pelajaran).
Namun sastra menurut pangawikan Jawa ialah pengetahuan,
bukan saja yang diperoleh dari apa yang tersurat, melainkan juga
yang tersirat. (R.M. Yunani Prawiranegara, Pemahaman Nilai Filosofi,
Etika Dan Estetika Dalam Wayang, makalah Konggres Pewayangan
2005 di Yogya, halaman XII – 16). Jadi segala buku atau segala
yang tersurat dan tersirat dalam cerita baik lama maupun baru,
yang dengan melalui tembang oleh dalang (suluk), dialog wayang
yang diakukan oleh dalang (antawacana) bisa dibicarakan bersamasama
dalam aspek seni sastra atau Sastra Pedalangan.
Dengan demikian BAB III dalam buku ini berisi pembicaraan
tentang sastra yang berupa suluk beserta isi dan analisa, sastra
yang berupa cerita dan analisa, sastra gending, sastra yang berupa
antawacana dengan pemilihan kata-kata, buku-buku sumber cerita.
Dan yang sama pentingnya adalah pandangan filosofis dan gambaran
simbolis bagi ajaran pangawikan Jawa.
3.2 Suluk Wayang
Sebelum uraian sastra suluk ini berlanjut, terlebih dahulu
akan dijelaskan tentang apa itu suluk. Seperti telah diketahui bersama
bahwa suluk ini adalah tembang yang dilagukan oleh seorang
dalang ketika menceritakan sebuah lakon wayang. Apalagi cara melagukan
terungkap melalui alunan suara dalang yang indah. Tentu
hal ini menambah kewibawaan dan kualitas sang dalang itu sendiri.
Jadi suluk itu indah. Lebih-lebih lagu suluk itu bersamaan dengan
94
ucapan-ucapan kalimat yang bergaya bahasa Jawa luhur atau tinggi
(lungit) dan bermakna. Kalimat-kalimat yang lungit, indah dan bermakna
di dalam suluk, itu disebut sastra suluk.
Sastra yang berada di dalam suluk dalang sebagian besar
berasal dari Kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu
Panuluh jaman pemerintahan raja Jayabaya di kerajaan Panjalu (Kediri)
tahun 1157 (Soeroso, Gamelan A, 1983 hal 17). Dan di antaranya
ada yang berasal dari epos Ramayana karya Walmiki.
Kakawin berupa susunan kalimat berbahasa Kawi (Jawa
Kuna), setiap seloka (saloka atau sloka) terjadi dari empat baris. Dalam
kesusastraan Jawa menjadi bentuk tembang Gedhe/Ageng atau
sering juga disebut Sekar Ageng.
Menurut para ahli tembang tradisional dan secara structural,
Sekar Ageng merupakan urut-urutan yang berada pada tempat
paling atas dari 3 bentuk tembang Jawa. Sedangkan urutan kedua
adalah Tembang Tengahan atau Sekar Tengahan yang terbentuk
dengan menggunakan Bahasa Jawa Pertengahan. Tempat ketiga
yaitu Tembang Cilik atau biasa disebut Tembang Macapat yaitu tembang
yang dalam aktifitasnya terbentuk dengan menggunakan bahasanya
rakyat kecil (kawula cilik). Tembang Macapat ini hidup dan
berkembang di kalangan rakyat jelata yang pada umumnya berada
di pedesaan.
Dalam perkembangan selanjutnya, susunan kalimat 4 baris
dalam Tembang Gedhe tadi tersusun dengan urutan sebagai berikut
setiap baris dinyatakan sebagai satu pada-pala (satu baris), dua pada-
pala (dua baris) dinyatakan sebagai satu pada-dirga, dua padadirga
(empat baris kalimat) dinyatakan satu padeswara.
Kata padeswara berasal dari kata pada dan iswara. Pada
berarti larikan (baris) dan iswara berarti raja dan identik dengan besar,
jadi padeswara adalah pada besar. Kakawin ini juga berpatokan
pada lampah (jumlah suku kata setiap baris) dan juga Guru- lagu
(dhong-dhing).
Dhong menyatakan suara berat (anteb) sebagai suatu pernyataan
rasa puas yaitu perasaan akhir, tanda akan dimulainya babak
baru. Dhing menyatakan suara ringan (ampang atau entheng)
sebagai suatu pernyataan rasa yang belum selesai (rampung). Dalam
hal ini perasaan belum (tidak) lega, masih menanyakan kelanjutannya.
Guru maupun Lagu bukan hanya pada akhir kalimat, tetapi
juga berada di tengah-tengah kalimat dan pada awal kalimat. Guru
dan Lagu dalam aturan bahasa Kawi merupakan sarana terbentuknya
kakawin. Sampai saat ini tidak ada seorang pun seniman dan
Budayawan Jawa yang berminat dan mampu untuk mencipta atau
mengarang kakawin lagi. Generasi sekarang ini hanya menerima peninggalan
saja.
95
Itulah sebabnya sastra kakawin yang tertulis dalam ÇlokaÇloka
Mahabharata, Ramayana, Bharatayuda atau yang lainnya diambil
sebagai sumber penulisan sastra suluk dalam karya tulis ini.
Inilah sastra suluk yang berupa Kakawin Bharatayuda:
Lêng- lêng řamnya nikang çaçangka kumênar mangrêngga
rūm ning puri
Mangkin tan pasiring halêp nikang umah mās luwir murub
ing langit
Têkwan sarwwa manik tawingnya sinawung sāksāt sêkar
ning suji
Unggwan Bhānuwatï yanāmrêm alangö mwang nātha
Duryyodhana.
Kalimat-kalimat kakawin di atas, disebut tembang Sardulawikridita,
artinya permainan harimau (L. Mardisuwito, Kamus Jawa
Kuna-Indonesia, tt. 563). Terjemahan Tembang Sardulawikridita itu
adalah:
Indah menarik hati, bulan yang bersinar menghiasi puri kedaton,
menjadikan semakin tidak ada yang menyamai keindahan
rumah emas, bagaikan menyala-nyala di atas langit,
lebih-lebih tebing yang dilapisi dengan mas manikam yang
berwarna-warni bagaikan rangkaian bunga indah, di tempat
itulah bila sang Dewi Banuwati sedang memadu kasih bersama
suami Sang Prabu Duryuddana.
Kakawin ini setelah dipakai oleh para dalang wayang sebagai
sulukan, ternyata mengalami penggeseran ucap dan pemenggalan
kata. Hal ini mungkin sekali akan bisa mengakibatkan perubahan
arti atau bahkan pengertiannya. Demikian inilah kalimat itu sekarang:
Lengleng ramnyaningkang, sasangka kumenyar
O.. Mangrengga ruming puri, O.. mangkin tanpa
Siring, halep ningkang ngumah, mas lir murub
ing langit, O.. tekyan sarwa manik O.. .
Sampai di sini kalimat itu diputus, kemudian diteruskan dengan permainan
gender (ompak-gender) sesaat, baru kemudian diteruskan:
tawingnya sinawung, O.. , O.. saksat sekar si
Nuji, unggwan Banowati, O.. yen amrema la-
Ngen, lan Nata Duryudana O.. Lan Nata Dur-
Yudana, O.. .
Terlihat sekilas kalimat itu seolah-olah tidak mengalami perubahan
makna. Andaikan berubah, hanya ucapannya saja. Hal ini
96
terjadi karena yang semula dari bahasa Jawa Kawi, kemudian dibawa
kepada ucapan bahasa Jawa Baru, di saat seni pertunjukkan wayang
kulit purwa menjadi garap kemasan baru, khususnya yang gagrag
Surakarta.
Dalam peristiwa demikian itu sering muncul suatu kekhawatiran
bagi sebagian seniman atau Budayawan. Namun perlu mengingat
terhadap hukum alam, bahwa kehidupan seni dan Budaya dari
jaman ke jaman, generasi ke generasi pasti mengalami perubahan.
Jika berpaling pada kondisi alami tersebut, maka perubahan
seperti yang ada pada Kakawin Sardulawikridita adalah sangat
wajar. Justru perubahan yang demikian itulah yang membuahkan hasil
pengayaan bagi seni dan Budaya dalam perkembangannya. Yang
penting sampai sekarang ini, generasi mudanya masih memiliki
catatan sejarah dari para pendahulunya. Biarkan sastra yang diambil
dalam seni pertunjukkan wayang purwa ini berkembang menurut jamannya
(anut jaman kelakon).
Dalam perubahan dan perkembangannya, tembang Sardulawikridita
setelah bersama-sama dengan seni pertunjukkan wayang
kulit purwa, berfungsi sebagai sulukan pengiring jejer I dalam laras
Slendro dalam waktu masih pathet Nem. Sehingga kakawin itu berubah
sebutan menjadi pathetan Nem Ageng, yang dalam gema lagunya
diiringi oleh instrument rebab, gender barung, gambang, suling,
kempul-gong dengan permainan menurut aturan tata nada dalam pathet
Nem.
Selanjutnya sebagai catatan kata-kata yang dipakai dalam
Kakawin Sardulawikridita tadi perlu diterjemahkan. Di bawah ini terjemahan
dari S. Padmosoekotjo dalam bukunya Suluk Pedalangan,
hal 14-15:
Lêng- lêng tegesipun anglam-lami,
Řamnya tegesipun endah, nengsemake,
Çaçangka tegesipun rembulan,
Kumênar tegesipun sumorot, sumunar,
Mangrêngga rūm ning puri tegesipun ngrengga endahaning
puri (keputren),
Mangkin tan pasiring,
Halêp nikang umah mās tegesipun endahe suyasa kencana,
Luwir murub ing langi tegesipu pepindhane kaya murub ing
langit,
Têkwan tegesipun sarta, lan maneh, apa maneh,
Sarwa manik tegesipun sesotya manek warni,
Tawing artinya tebing, srawing tegesipun aling-aling,
Sinawung tegesipun dipun-salut, linapis,
Suji tegesipun eri, sunduk,
97
Sāksāt sêkar ning suji tegesipun pepindhane kados reroncening
sekar, kados sekar renonce,
Unggwan Bhānuwatï tegesipun papan padununganipun
banuwati,
Yan āmrêm alangö mwang Duryyodana tegesipun manawi
sari alelangen (sih-sinihan) kaliyan Prabu Duryyodana,
Langö endah tegesipun kaendahan, klangenan,
Alango tegesipun lelangen (sih-sinihan.)
Terjemahan:
menyebabkan orang terpesona,
indah, menawan hati,
bulan,
bersinar,
menghias indahnya keputrian atau tempat putri,
saya tanpa tandhing (semakin tidak ada yang sama), keindahan
kerajaan emas,
bagaikan menyala di langit,
serta, lagi-lagi, apa lagi,
segala macam manikam,
tirai, tabir,
diberi lapisan,
(duri, tusuk). Juga biasa berarti renda, sulam,
bagaikan untaian bunga,
tempat tinggal Banuwati,
bila (akan) tidur berkasih-kasihan bersama suami yaitu Prabu
Duryyodana,
indah, keindahan, kesukaan,
bersuka cita, berkasih-kasihan.
Sebagai urutan suluk yang kedua dalam pertunjukkan wayang
adalah disebut Ada-ada Girisa dalam laras Slendro yang masih
berada dalam kawasan waktu pathet Nem. Demikianlah kalimat Adaada
Girisa:
Lengleng gatiningkang awan saba-saba
Niking Ngastina, samankara tekeng,
Tegak Kurunararya, Kanwa Janaka dulur Nara-
Da, kapanggih ing ika, O.. tegal miluring karya, sang Bupati
ta la ya.
Itulah ada-ada Girisa, di mana kalimat-kalimatnya mengambil
dari petikan Bharatayuda. Sedangkan yang asli dalam bahasa Jawa
Kuna adalah sebagai berikut:
Lêngêng gati nikang hawan sabha-shaba niking
Hāstina,
98
samantara têkeng têgal Kuru
narāryya Kŗşņān laku, sirang Paraçurama, Kaņwa Janakādulur
Narada, kapanggih irikang têgal milu ri karyya sang Bhūpati.
Artinya:
Sungguh indah menakjubkan kondisi jalan yang menuju
(ke) bangsal (tempat dialog) Hastina,
setelah keberangkatan Prabu Kresna, di alun-alun Kuru,
ia bertemu dengan Parasurama, Kanwa dan Janaka yang
sudah berbadan dewa bersama-sama dengan,
Barata Narada, untuk ikut membantu arya Sang Prabu
Kresna.
Keterangan kata-katanya:
Lêngêng tegesipun endah, edi, nengsemake,
Gati tegesipun kawontenan, Hawan tegesipun dalan/margi,
Lêngêng gati nikang kawan tegesipun asri nengsemaken
kawontening marginipun / asri, edi nengsemake kahane dalane,
Sabha tegesipun bangsal papan sarasehan, papan rembagan,
pandhapa kraton,
Samantara tegesipun boten antawis dangu/ora antara suwe,
Tegal Kuru tegesipun ara-ara Kuru,
Narāryya tegesipun Nara / tiyang (orang) + arrya tegesipun
minulya,
Narāryya Kresna laku tegesipun tindakipun prabu Kresna /
prabu Kresna olehe tindak,
Kresna laku tegesipun Kresna / olehe / anggone - laku: tindakipun
Kresna,
Sirang Paraçurama, Kaņwa…: Panjenenganipun Paracurama,
Kanwa..,
Janakādulur Narada tegesipun Janaka lan adulur /sesarengan
lan Narada / Janaka sesarengan kaliyan Narada,
Karyya tegesipun ayahan, padamelan,
Bhupati tegesipun Bhu /bumi lan pati / pengageng.
Terjemahan:
mempesona, menarik hati,
keadaan), (jalan,
indah mempesona keadaan jalannya,
pendopo sebagai tempat sarasehan,
tidak berapa lama antaranya / sementara itu, segera sesudah
itu,
99
alun-alun, tanah lapang Kuru,
dimuliakan, dalam tembang ini narāryya sama dengan prabu
/ raja,
kepergian sang Prabu Kresna,
kepergian Kresna,
beliaunya adalah sang Paracurama, Kanwa..,
Janaka bersama Narada,
tugas, pekerjaan,
raja, ratu.
Kalimat-kalimat berbahasa Kawi Kuna yang berada di dalam
Kakawin Sardulawikridita itu menyatakan keindahan dan ketenangan
(ayom lan ayem) negara Hastina dalam pemerintahan Prabu
Duryudana (raja wangsa Kuru). Selanjutnya keterangan itu menjadi
agak tegang setelah kehadiran Kresna bersama Resi Ramaparacu,
Resi Kanwa yang sudah berbadan dewa di negeri Hastina, yang
mengucik untuk kembalinya Hastina kepada para Pandawa. Dan terjadilah
perang besar Bharatayuda Jayabinangun. Sampai hari ke-13,
dalam pertikaian dari kedua belah pihak, para pahlawannya saling
berguguran.
Kemudian pada hari ke-14, Sri Kresna sebagai dalang (botoh)
nya para Pandawa, memanggil Gathotkaca untuk menjadi Senapati
Pandawa. Demikianlah çlokanya:
Irika ta sang Gathutkaca kinon mapagākkasuta,
Têkap ira Kŗşņa Partha manêhêr muji çakti nira,
Sang inujaran wawang masêmu garjjita harsa marêk,
Mawacara bhagya yan hana pakon ri patik nŗpati.
Sesuai dengan isi çloka itu yang menyatakan bahwa Gathotkaca
sebagai senapati (panglima) perang, maka kalimat-kalimat
çloka itu oleh para dalang wayang kulit purwa diambil untuk mengiringi
saat Gathotkaca akan terbang.
Irikata sang Gathutkaca kinon, mapak Arkhasuta (ada yang
mengucapkan Argasuta), O.. tekapira Kresna, Parta maneher
muji saktinira, sang inujaran wangwang masemu nggarjita,
O..
Ada perubahan sedikit, khususnya pada kata arkha suta
ada yang mengucapkan arga suta. Dan kalimatnya dipenggal hanya
sampai pada kata garjita. Dalam pengetrapannya çloka ini disebut
sulukan Ada-ada Greget saut Slendro Sanga.
Terjemahan çloka itu adalah sebagai berikut: pada waktu
itu Sang Gathotkaca disuruh bertemu berhadapan melawan anaknya
Batara Surya yaitu Adipati Karna oleh Batara Kresna. Parta atau Ar100
juna menjunjung tinggi kesaktian Gathotkaca. Sesaat itu yang disuruh
yaitu Gathotkaca nampak suka cita. Maka dengan kegembiraan
hati ia menghadap ke Prabu Kresna dan kemudian berkatalah kepadanya
“Aku merasa senang karena ada perintah kepadaku.”
Bahasa Kawi Kuna dalam perkembangannya, oleh para generasi
pembaharu seni pewayangan di Kraton Surakarta Adiningrat
yang baru saja pindah dari Mataram Kartasura nampaknya dianggap
lebih luhur dibanding dengan bahasa Jawa Baru. Hal ini terbukti
dengan pemilihannya terhadap Kakawin yang dipakai dan diterapkan
pada suluk dalang meskipun harus mengalami perubahan. Menurut
Porbocaroko dalam Kesusasteraan Jawa-nya, perubahan bahasa
Kawi Kuna ini terjadi sejak sebelum Majapahit runtuh. Hal ini lebih disebabkan
oleh generasi penerus yang tidak mampu lagi mengetrapkan
bahasa tersebut dalam pergaulan. Maka mereka tinggalkan
bahasa itu. Anggapan mereka sampai saat ini bahwa bahasa Kawi
Kuna adalah Bahasa Leluhur.
Sebutan bahasa leluhur-pun mengalami penggeseran menjadi
Bahasa Luhur. Itulah sebabnya mengapa Kakawin atau tembang
Kawi terpilih oleh pembaharu seni pewayangan di kraton Surakarta.
Justru sampai saat ini, bukan hanya tembang Kawi-nya saja yang
terpilih, melainkan seluruh Bahasa Luhur Kawi menjadi bahasa pilihan
bagi seni pertunjukkan wayang secara umum. Bahasa Kawi Luhur
masuk dalam kategori bahasa Pedalangan, khususnya seni pewayangan
versi Jogyakarta dan Surakarta, baik yang klasik maupun
garapan barunya.
Berbeda dengan sastra suluk dalam seni pewayangan versi
Jawatimuran. Dalam proses perkembangannya, secara turun-temurun
hanya dengan system mendengarkan, melihat dan menirukan
dalang yang sedang menyajikan karya. Itulah system nyantrik. Hasil
cantrikan dalam prosesnya antara cantrik yang satu dengan yang
lain sering berbeda dalam ucap bahasa, misalnya ucapan kata Apituwi,
ada yang mengucapkan Kapituwi. Gelanggang perang, ada
yang mengucapkan Pemedan, ada yang mengucapkan Permedan.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab setelah munculnya
buku-buku terbitan baru oleh penulis wayang Jawatimuran, maka
para dalang tentu bisa menyatu dalam satu buku itu sebagai pacu
kawruh (pengetahuan). Seperti pertunjukkan wayang pada umumnya,
wayang Jawatimuran-pun dalam sajiannya juga menggunakan
suluk yang terhias sastra dengan sangat indahnya. Suluk yang pertama
kali berupa lagu yang disebut Pelungan atau Drojogan, yang
urutan barisnya adalah sebagai berikut:
Ingsun miwiti andalang,
Wayangingsun bambang paesan,
Kelire jagad dumadi,
Yana larapaningsun naga papasihan,
Pracike tapele jagad gumelar,
101
Drojogku sanggabuwana,
Gligen rajeging wesi,
Yana blencong kencana murti,
Kothake wayang kaya cendhana sari,
Tutupe ndhuwur jati kusuma,
Kepyke gelap ngampar,
Ingsun dalang purbawasesa,
Gamelan larase Slendro pengasihan,
Gambang garuting ati,
Gender panuntuning laras,
Rebab cindhe lara tangis,
Kendhang panggetaking ati,
Kempul panduduting ati,
Pradangga putraning jiwa raga,
Waranggana saking Suralaya,
Kinayut-kayut swaranya lir dewa,
(Djumiran RA, Lagon vocal Dalang Jawatimuran)
Terjemahan:
Aku akan mulai mendalang,
Wayangku adalah bambangan (pemuda),
Layarnya bagaikan jagad ciptaan Tuhan,
Gedebogku berkekuatan dua naga yang sedang memadu
kasih,
Kekuatan pracik (ikat atas dan bawah) layar bagaikan sabuk
jagad raya,
Drojogku (penyangga) bagaikan penyangga jagad,
Kekuatan tiang penegak di sebelah kanan-kiri kelir sebagai
pagar (rajeg) yang berkekuatan besi,
Adapun lampu penerangnya (blencong) bagaikan mas yang
dimiliki dewa,
Tempat wayang (kotak) memakai bahan sarinya kayu cendana
yang harum itu,
Tutup kotak bagian atas menggunakan bahan kayu jati
yang harum (kusuma = kembang),
Kepyak (sebagai sarana kekuatan sabet) bagaikan bunyi
petir (gelap) menyambar (ngampar),
Aku inilah seorang dalang yang dikaruniai kekuasaan untuk
menguasai, mengatur/menata pada alam raya ini,
Sebagai alat pengiringku (gamelanku) yang berlaras
Slendro itu memiliki daya tarik kuat yang tak tertandingi,
Gambang (gamelan kayu) sebagai penopang rasa keprihatinan,
Gender (gamelan renteng) sebagai penuntun (petunjuk) semasa
dalang hendak suluk,
102
Rebab (gamelan gesek) terbalut/terhias dengan kain cindhe
sebagai penopang suasana kesedihan,
Kendhang sebagai penopang suasana emosional (lembut
dan keras/tegas),
Kempul sebagai penopang tempo di segala suasana,
Pemain gamelan (pradangga/wiyaga) yang mengisi/menggerakkan
jiwa raga dalam gambaran hidup dan kehidupan,
Pengidung wanita (waranggana = pesindhen = bidadari)
dari kahyangan = sorga (Suralaya),
Mengalun (kinayut-kayut) suaranya bagaikan suara mas
(suara dewa = suara baik = suara yang berkualitas).
Pelungan ini sebuah nama judul yang diberikan oleh seniman
kepada sebuah susunan syair dalam sastra suluk pada seni
pertunjukkan wayang Jawatimuran versi Mojokerto-an. Bagi wayang
Jawatimuran versi Porongan disebut Drojogan. Di samping syair tersebut
di atas, ada lagi susunan kalimat syair yang lain, yaitu:
Swuh rep data pitana,
Rep swuh rep, rep swuh rep saking karsaningsun,
Sekar kawi kang sinawung,
Kinarya resmining kidung,
Binarung swaraning gending Gandakusuma munya,
Kekanthening Budaya, ing nguni Budaya iku tanama,
Anane Budaya iku saking Negara,
Dhawuhe andika wali,
Kang sinawung mring pra pujangga Jawi,
Kinarya tepa tuladha,
Karo dene para janma sujana,
Lan swartane budi kang wus uning,
Ginane krawitan angiringi Budaya,
Ana gambaran ……….,
Mirip rupa warna jalma mengku sastra kang sunandhi,
Kedhik janma ingkang udani,
Manawa tan parameng kawi,
Lungguh panggung nyawang gegambaran,
Gegambaraning agesang,
Manungsa kang ana madyapada,
Aja kate darbe tindak ala,
Ngudia mring kautaman,
Dimen manggih kayuwanan.
(Ki Piet Asmara Mojokerto)
Syair di atas biasa dilagukan oleh para dalang wayang Jawatimuran
gagrag Mojokerto-an yang wilayahnya berada di sekitar
Mojokerto dan Jombang. Adapun terjemahannya adalah:
103
Dari suasana sepi, suwung, sunyi (awung-awung), kemudian
ada cerita,
Sunyi karena kehendakku,
Sekar (tembang) kawi yang enyertai,
Sebagai kidung resmi (sejati = suci),
Bersama suara gending Gondokusuma,
Sebagai bagian kebudayaan yang dulu tak ada,
Kalau ada berasal dari Negara,
Atas perintah para wali,
Yang direstui oleh para pujangga Jawa,
Sebagai suri teladan (contoh),
Bersama para cerdik-pandai,
Serta para budiman bijak,
(bahwa) fungsi gamelan sebagai pengiring seni Budaya,
Yang berujud gambaran,
Seperti wujud manusia ini mengandung sastra terselubung,
Sedikit orang yang mengerti/mengetahui,
Jika bukan ahli kawi (Budayawan),
Duduk di panggung mengamati gambaran,
Yaitu gambaran hidup dan kehidupan,
Manusia yang berada di dunia,
Jangan sampai berperilaku jahat,
Biarlah belajar tentang kebaikan/kesucian,
Agar mendapatkan keselamatan.
Menurut para dalang tua (sepuh) Ki Suleman dari Pasuruan,
Jawa Timur, dan Ki Toyib Gondocarito dari Krian Sidoarjo serta
para nara sumber lainnya yaitu Ki Bambang Sugiyo, Ki Surwedi, menyatakan
bahwa sastra tembang Pelungan / Drojogan itu sebenarnya
adalah doa yang dinyatakan dalam sastra suluk.
Apabila kita Mengamati kalimat Pelungan atau Drojogan
tersebut, ternyata berisi permohonan kekuatan alami agar menguatkan
pribadi si dalang dalam karyanya semalam suntuk (Ki Suleman).
Masih banyak sastra suluk yang ada, namun tidak mungkin akan diangkat
seluruhnya dalam karya tulis ini. Namun di bawah ini masih
ada beberapa yang perlu diungkap:
Sendhon Prabatilarsa Pathet Wolu
Nara nata nggonira miyos siniwaka
Sineba mring pra Santana
Sumewi munggwing ngayun
Ngelik:
Teja-teja, tejane wong kang Nembe kaeksi
Sumunar pindha Sang Hyang Bagaskara
104
Nyunani sagung para kawula
Ingkang ayem tentrem sami ngudi ngudi
Mring pakaryanira kinarya nyekapi
Ing kwajibanira………
(Ki Piet Asmara)
Sendhon Purwa Seba Pathet Wolu
Rupa candra sasi bumi
Nabi Budha roning medi
Sasadara wulan candra
Bumi watak siji
(Ki Piet Asmara)
Bendhengan Wayang Srambahan
Yana netra caksu naya
Dresthinya maluncana
Karna-karni suku loro
Wategana marang sawiji
Suku loro wategana marang sawiji.
(Ki Surwedi)
Yang disebut bendhengan sebenarnya greget saut yaitu sebuah
lagu ada-ada (daerah Solo). Di Jawatimuran Ki Suleman mengatakan
bendhengan bersuasana tegang. Bendhengan ini dimuat
dalam Lagon Vokal Dalang Jawatimuran tulisan Djoemiran RA.
Sendhon Angasih-Asih Slendro Sanga Jawatimuran
O..O.. dhahat atawang tangis e
Sambat amelas asih
Esmu kingkin ing panggalih
(Ki Cung Wartanu Mojosari-Mojokerto)
Oleh Ki Cung Wartanu, lagu sendhon ini dimunculkan secara
improvisasi. Menurutnya sendhonannya bukan itu. Sendhon yang
biasanya kurang/ tidak susah. Kecuali sastra suluk yang berupa lagon
dalang, masih ada lagi sastra suluk yang berupa suluk ilmu gaib.
Pada umumnya, sastra suluk ilmu gaib tidak terungkap melalui
lagon dalang, tetapi terungkap melalui tembang Macapat, berisi
ajaran tentang ilmu gaib, ilmu kebatinan atau ilmu kasampurnaning
pati. (S. Padmosoekotjo, Ngrengengan Kasusastran Jawi, tt. Hal.
80). Beberapa contoh sastra suluk ilmu gaib:
Maskumambang:
Batur tukon lamun nrima mesthi dadi
Ing kamardikannya
105
Nadyan wong mardika yekti
Yen loba dadi kawula
Artinya:
Budak (Batur tukon), maksudnya budaknya duniawi, orang
yang mudah terpengaruh oleh duniawi sebab dari watak
yang angkara murka
Kamardikan (kebebasan), tidak dikuasai duniawi
Rakyat kecil (kawula), yaitu Budaknya duniawi
Jadi makna tembang itu adalah orang yang senang terhadap
duniawi, sering disebut mangeran marang kadonyan. Mempertuhankan
barang-barang duniawi. Bagi mereka yang sudah tidak
membudak pada duniawi, disebut telah merdeka.
3.2.1 Mijil
Sagung pangkat kang sing alami,
Aywa sira raos,
Yeku apan warana jatine,
Marma singkirna aywa sira piker,
Terusa lumaris,
Nyenyandhang pitulung.
Samangsane sira sinung luwih,
Sing janma kinaot,
Poma aywa kasengsem den angge,
Nadyan katon solan-salin warni,
Singkirana kaki,
Ywa nganti kalimput.
Artinya:
Pangkat kemuliaan duniawi, kesenangan yang berada di
dunia, kenikmatan duniawi,
Jangan sekali-kali kamu rasakan kenikmatannya, supaya tidak
terpathok pada kenikmatannya duniawi,
Sebuah tirai. Maksudnya duniawi bisa menutupi jalan menuju
kearah kesempurnaan pati,
Jangan sekali-kali kamu rasakan kenikmatannya, supaya tidak
terpathok pada kenikmatannya duniawi,
Teruskanlah berperilaku yang menuju kepada kesempurnaan
pati,
Mohon pertolongan kepada Tuhan, dapatnya hati ini terbuka
sehingga mendapatkan jalan menuju kesempurnaan
pati.
106
Pada saat kamu kaya berlebihan,
Manusia mampu berbuat semuanya,
Jangan sampai larut kepada keduniawian yang dimiliki oleh
pribadimu,
Meskipun duniawi itu berganti-ganti warna, rupa dan tidak
membosankan….,
Jauhilah mumpung masih bisa,
Jangan sampai tertutup pemikiran atau penalaranmu oleh
duniawi sehingga lupa akan tujuan awal, yaitu kesempurnaan
pati.
Jadi tembang mijil yang terdiri dari 2 ayat atau 2 podo dan memuat
ajaran tasawuf ini merupakan tuntunan bagi manusia yang menghendaki
kesempurnaan.
Mijil Pituture Sri Rama Marang Wibisana
Damaring praja’ja mati-mati
Sadege keprabon
aywa kandheg madhangi jagad
mangka panariking reh sayekti
ing pati pinanggih
kautameng prabu
Artinya:
Diyan atau obor yang menjadi obor daripada tubuh adalah
hati atau pikir. Hati dan atau pikir adalah pelita hidup. Negara,
tetapi dalam suluk ini yang dimaksud negara adalah
tubuh,
Selama menjadi raja. Bagi ilmu kebatinan maksudnya adalah
selama hidup di dunia,
Jangan berhenti menerangi dunia, maksudnya jangan berhenti
berbuat baik,
Agar mendapat kesempurnaan yang semesthinya,
Kesempurnaan mencapai kematian,
Agar matinya bias atau mampu baik.
Tentu saja bila orang di dalam hidup dan kehidupannya senantiasa
berbuat baik dan berbakti serta berbuat darma tentu matinya
nanti akan mendapatkan kemuliaan sorgawi. Jadi dalam hal ini,
sang Ramawijaya di dunia sebagai jelmaan Wisnu memberikan ajaran
kepada seorang Wibisana yang telah bertaubat. Wibisana yang
kesehariannya bertempat pada keluarga yang jahat, merasa disia-siakan
oleh Rahwana kakaknya, maka atas pertolongan Anoman ia
mengabdikan diri dan sanggup membantu bersama-sama menghilangkan
laknat (iblis), yang berada pada diri kakaknya yaitu Rahwana.
Akhirnya Wibisana menjadi murid Ramawijaya.
107
Buku-buku yang memuat suluk, kebanyakan muncul pada
jaman Islam. Seperti misalnya suluk Sukarsa, suluk Wujil, suluk Malang
Semirang. Di bawah ini petikannya:
Suluk Sukarsa / Lagu: Girisa (Pelog)
Sastra gumelar ing jagad kang atuduh pangawikan,
kang weruh ing tuduh sampurna tan ana ireng ing pethak,
yen sira sampun waspada lumampaha alon-lonan,
kebirira lan sumungah ujub loba singgahana.
Ki Sukarsa wus alayar ing sakathahing segara,
Margane tekeng makripat tanpa etung urip pejah,
Damare murub tan pejah panganggo mulya tan rusak,
Asangu tan kena telas angungsi ing desa jembar.
Ki Sukarsa dennya layar perau sabar darana,
Salat mangka tiyangira kinamudhen pangawikan,
Linyaran amangun hak winelahan niat donga,
Den watangi panenedha den pulangi lawan tobat.
Den labuhi sukurulah den taleni lan kana’at.
Den pulangi lan wicara den damari lan makripat.
Ki Sukarsa dennya layar wus tekeng segara rakhmat.
Kawasa denira layar wus tekeng segara ora.
Demikianlah suluk Sukarsa. Menurut Prof. Dr. RM. Ng. Purbocaroko
dalam Kepustakaan Jawa-nya, mengemukakan bahwa kitab
suluk Sukarsa ini dalam bentuk tembang (ciri suluk), berupa çloka,
yaitu tembang cara kuna. Logat bahasanya adalah bahasa Jawa
Tengahan (pertengahan) yang muncul antara Jawa Kuna dan Bahasa
Jawa Baru. Çloka ini terdiri dari 4 baris, di mana setiap baris terdiri
laku delapan dan delapan, sudah tidak berpatokan dengan Guru
dan Lagu. Suluk Sukarsa empat itu merupakan bagian terakhir.
Adapun terjemahannya adalah:
Sastra tergelar di dunia menunjukkan sebuah pengetahuan
tentang tuntunan kesempurnaan,
tak ada hitam pada putih,
bagi orang yang telah mencapai hikmat berjalanlah pelanpelan,
takabur dan sombong perilaku tamak tentu disingkirkan.
Si Sukarsa bagaikan telah berlayar di segala lautan, sebagai
jalan untuk sampai ke tempat ma’ripat yang tidak memperhitungkan
hidup atau mati,
108
lampunya senantiasa menyala busana kemuliaan tak akan
rusak,
bekal yang dibawa tak akan habis, saat mengungsi di desa
luas.
Si Sukarsa dalam pelayarannya, dengan naik perahu kesabaran,
shalat sebagai orang yang mengemudi tentang pengetahuan,
dijalani sebagai pembangun hak, dengan menggunakan kemudi
niat dan doa dengan segala permohonan,
diakhiri dengan pertobatan.
Dilakukan dengan selalu bersyukur diikat dengan menggunakan
kana’at,
dilakukan dengan bela bicara dengan penerangan ma’ripat,
si Sukarsa dalam pelayarannya telah berada pada lautan
rakhmat,
selamatlah dalam pelayaran itu sehingga sampai pada lautan
tiada (meninggal dunia?).
3.2.2 Suluk Wujil
Kitab suluk wujil berisikan ajaran Sunan Bonang kepada seorang
bajang, bekas budak raja Majapahit bernama si Wujil. Ajarannya
tentang mistik. Dalam suluk wujil memuat tembang yang bermacam-
macam sejumlah 104 pupuh.
Kitab suluk wujil ini di dalamnya berisikan sebuah kalimat
berbunyi Penerus Tinggal Tataning Nabi. Artinya, Penerus menyatakan
bilangan 9, Tinggal menyatakan bilangan 2, Tata menyatakan
bilangan 5 dan Nabi menyatakan bilangan 1. Jadi kalimat itu menyatakan
bilangan tersusun menjadi 9251. Kalimat yang setiap katanya
menyatakan sebuah bilangan seperti di atas, dalam kesusasteraan
Jawa disebut Sengkalan. Setelah terjemahannya berujud angka, maka
pembacaannyapun harus dibalik. Jadi bila jajaran angka itu berupa
9251, maka akan terbaca menjadi 1529. Jajaran angka terbalik
inilah yang akan dinyatakan sebagai angka tahun, yaitu tahun 1529,
pada jaman kerajaan Mataram diperintah oleh Ramanda Sultan
Adung, yaitu Sinuhun Seda Krapyak. Dengan demikian jelas bahwa
Kitab Suluk Wujil ini sudah ada sejak jaman Mataram. Di bawah inilah
petikan tiga bait tembang Suluk Wujil, berupa sekar Dhandhang
Gula:
dipun weruh ing urip sejati,
lir kurungan raraga sadaya,
becik den wruhi manuke,
rusak yen sira tan wruh,
109
hih ra wujil salakuneki,
iku mangsa dadya,
yen sira ‘yun weruh,
becikana kang sarira,
awismaa ing enggon punang asepi,
sampun kacakrabawa.
Terjemahan:
hendaklah tahu akan hidup sejati,
bagaikan sangkar badan ini,
sebaiknya diketahui oleh sang burung,
celaka bila tuan tak tahu,
wahai sang wujil akan segala peri kelakuan tuan,
tak akan bisa tercapai itu (oleh tuan),
jika tuan ingin tahu,
sucikanlah,
tinggallah di tempat suci,
yang tak diketahui orang.
aja ‘doh dera ngulati kawi,
kawi iku nyata ing sarira,
punang rat wus aneng kene,
kang minangka pandulu,
tresna jati sarira neki,
siyang dalu tan awas,
pandulunireku,
punapa rekeh prayitna,
kang nyateng sarira sakabehe iki,
saking sipat pakarya.
Terjemahan:
tidaklah tuan jauh-jauh mencari kawi,
kawi itu sungguh berada pada diri prabadi,
semesta alampun telah rekandung di dalamnya,
yang akan menjadi alat untuk melihat,
cinta sejati akan diri tuan,
ngat-ingatlah siang dan malam,
akan penglihatan tuan itu,
apakah (di manakah) tempat itu,
yang nampak pada tubuh secara menyeluruh,
yang muncul sifat fa’al.
mapan rusak kajtinireki,
dadine lawan kaarsanira,
kang tan rusak den wruh mangke,
sampurnaning pandulu,
110
kang tan rusak anane iki,
minangka tuduh ing Hyang,
sing wruh ing Hyang iku,
mangka sembah pujinira,
mapan uwis kang wruha ujar puniki,
dahat sepi nugraha.
terjemahan:
memang rusak keasliannya,
akibatnya ada pada diri tuan,
oleh karena itu yang tidak rusak hendaklah tahu,
kesempurnaan pandangan,
dan yang tidak rusak ini,
akan menjadi petunjuk untuk menuju ke tempat Tuhan,
yang tahu akan Tuhan,
sembah pujinya akan diterima,
memang jarang yang tahu akan sabda ini,
dan sangat sepi dari anugerah.
3.2.3 Suluk Malang Semirang
Suluk Malang Semirang ditulis oleh Sunan Panggung tatkala
masuk ke dalam tungku perapian (tumangan) yang dipakai untuk
membakar orang yang dianggap salah oleh pemerintah Demak sebab
merusak syarak. Buku ini berisi tentang perilaku kehidupan yang
sudah sampai pada kejatiannya. Suluk Malang Semirang terdiri dari
tembang Dhandhang Gula. Di bawah ini cuplikannya sebanyak 3
bait:
dosa gung alit tan den singgahi,
ujar kufur kafir kang den ambah,
wus luwung pasikepane,
tan adulu-dinulu,
tan angrasa tan angrasani,
wus tan ana pinaran,
pan jatine suwung,
ing suwunge iku ana,
iang anane iku surasa sejati,
wus tan ana rinasan.
pan dudu rasa karaseng lathi,
dudu rasaning apa ‘pa,
lawan dudu rasa kang ginawe,
dudu rasaning guyu,
dudu rasa kang angrasani,
rasa dudu rarasan,
kang rasa anengku,
111
sakehing rasa kurasa,
rasa jati tan karasa jiwa jisim,
rasa mulya wisesa.
kang wus tumeka ing rasa jati,
sembahyange tan mawas nalika,
lir banyu milih jatine,
tan ana jatinipun,
muni-muna turu atangi,
saresiking sarira,
pujine lumintu,
rahina wengi tan pegat,
puji iku rahina wengi sireki,
akeh dadi brahala.
Terjemahan:
dosa besar kecil tak disingkiri,
perkataan kufur kafir yang diturut,
telah mabuk akan kelengkapannya,
tiada pandang memandang,
tiada merasa tak pula melepas rasa,
tiada lagi yang (harus) dituju,
memang sesungguhnya kejatiannya kekosongan,
dalam kekosongan ada hadlir,
dalam hadlir itu tersimpan makna sejati,
tak ada yang harus dirasakan.
Bukanlah rasa terasa di bibir,
bukannya lagi rasa apa apa,
bukan rasa sesuatu yang dibuat,
bukan rasa tertawa,
bukan rasa melepas rasa,
rasa bukan untuk dirasakan,
rasa yang meliputiku,
semua rasa yang terasa,
rasa jati tak terasa roh jisim,
(yaitu) rasa mulia kuasa.
Yang telah sampai pada rasa jati,
sembahyang-nya tiada pandang waktu,
pada hakekatnya laksana air mengalir,
tiada jatinya,
barang dikatakan tidur atau jaga,
barang yang di angan,
pujinya terus mengalir,
112
tak putus siang dan malam,
pujiannya siang malam,
banyak menjadi berhala.
Demikian sastra suluk di bagian kedua yang tergolong suluk
ilmu gaib. Tentu bukan hanya seperti yang tertulis di atas. Itu hanya
sebagai contoh diambil sebagai gambaran saja. Masih banyak
suluk ilmu gaib yang semua itu merupakan ajaran-ajaran rohani bagi
umat manusia, khususnya masyarakat Jawa.
Seperti beberapa contoh di atas, bahwa suluk ilmu gaib biasa
disebar dan diajarkan melalui tembang-tembang Jawa dengan
sebagian besar berbentuk Tembang Macapat. Dari tembang-tembang
Macapat ini oleh para dalang sering diambil menjadi sebuah
wejangan dalam adegan-adegannya, meskipun tidak ditembangkan.
Beberapa dalang mungkin hanya mengucapkan kalimatnya secara
utuh, namun ada juga yang mengucapkan secara apa yang tersirat.
Baik yang secara ditembangkan maupun diucapkan saja, yang jelas
kesemuanya itu adalah Pitutur Luhur bagi penonton masyarakat agar
berperilaku suci.
3.3 Sastra Lakon
Setiap dalang wayang kulit ataupun wayang golek atau juga
wayang yang lain tentu mahir menampilkan lakon/cerita untuk disajikan
dalam karya pertunjukkannya. Bagi para dalang pecantrikan pun
tentu telah mendapatkan banyak lakon dari sang guru pecantrikannya.
Namun demikian, dalam perkembangan baik dalang senior maupun
yuniornya masih juga membutuhkan penambahan untuk lebih
banyak lagi mendapatkan perbendaharaan lakon/cerita demi kekayaan
lakon itu sendiri.
Untuk itu sebagai sarananya, mereka tentu harus banyak
membaca buku-buku atau tulisan yang memuat tentang lakon/cerita
wayang, baik yang berbentuk tembang (puisi) ataupun prosa. Buku
atau tulisan yang memuat dan mengungkapkan lakon/cerita wayang
dan identitas tokoh dalam pewayangan itulah yang disebut Sastra
Lakon.
Sejak jaman Hindu sampai sekarang buku-buku sastra lakon
telah banyak diterbitkan dengan jumlah yang sangat besar dan
berisi lakon/cerita yang hampir tak terbilang. Ada yang berbentuk
prosa dan ada yang berupa tembang. Buku-buku atau tulisan, sastra
lakon yang isinya berbentuk kalimat prosa, contoh:
3.3.1 Tantu Panggelaran
Kitab ini tergolong tua, tetapi sudah menggunakan bahasa
Jawa Pertengahan. Adapun isinya dengan berbahasa prosa, mengisahkan
beberapa cerita, misalnya Batara Guru menciptakan sejodoh
113
manusia di pulau Jawa yang kemudian berkembang biak. Mereka
belum berpakaian dan belum dapat bertutur kata.
Para dewa diperintahkan untuk turun ke tanah Jawa supaya
memberikan pelajaran kepada manusia agar mampu berbicara, berpakaian,
membuat rumah dan alat-alat rumah dan lain sebagainya.
Juga diceritakan bahwa pulau Jawa masih terapung sehingga mudah
bergerak-gerak dan sering seperti timbangan. Sebelah timur berat,
bagian barat mencuat ke atas dan sebaliknya. Dewalah yang
akhirnya menerima perintah untuk menyeimbangkannya. Mereka terbang
ke tanah Hindu (India) untuk mengambil puncak gunung Semeru
dibawa ke pulau Jawa. Dimulai dari sebelah barat tanah gunung
tadi dijatuhkan. Tetapi Jawa sebelah timur menjadi mencuat ke atas.
Kemudian dari sebelah timur bagian tanah yang dijatuhi muncullah
gunung-gunung, berupa gunung Katong atau gunung Lawu, gunung
Wilis, gunung Kampud (Kelud), gunung Kawi, gunung Arjuna, gunung
Kemukus dan puncaknya paling akhir jadilah gunung Semeru.
Dengan tertanamnya puncak yang memunculkan gunung
semeru, maka pulau Jawa tidak lagi bergerak dan bahkan tidak akan
bergerak-gerak lagi. Di situ juga diungkapkan tentang terjadinya gerhana
bulan yang menyadur cerita Mengaduk Samodera Manthana
atau samudera susu dari kitab Adiparwa.
Juga diceritakan tentang Batara Wisnu turun menjadi raja di
Jawa bernama Prabu Kandiawan. Kemudian menurunkan putera-puteranya
Sang Mangukuhan, sang Sandang Garba, sang Katung Malaras,
sang Karung Kala dan Wreti Kandayun. Cerita prabu Kandiawan
diturunkan ke kitab-kitab babad. Hampir di setiap kitab babad
yang menceritakan jaman tersebut menyebut nama Kandiawan dan
putera-puteranya.
Kitab Tantu Panggelaran terkait dengan kitab babad. Dan di
dalam kitab tersebut terdapat nama-nama Medang Kamulyan, Medang
Tantu, Medang Panataran dan Medang Gana. Dalam kitab
Tantu Panggelaran juga memuat cerita yang bersifat Panggeli Hati
dan lain-lainnya.
3.3.2 Tantri Kamandaka
Kitab Tantri Kamandaka bersumber pada kitab Pancatantra.
Tantri Kamandaka berisi cerita tentang dongeng hewan. Namun
kitab ini mengawalinya dengan cerita mirip seribu satu malam.
Ada seorang raja, setiap malam harus kawin dengan wanita
yang masih gadis. Maka semua gadis di negeri itu hilanglah keperawanannya.
Seorang gadis, anak puteri sang patih tinggal satu-satunya
yang masih memiliki keperawanan. Ia bernama Dyah Tantri.
Cantik rupanya, molek parasnya. Ia tidak luput dari keinginan nafsu
sang prabu. Akhirnya Dyah Tantri tidak bisa apa-apa kecuali iya dan
iya. Tetapi atas kecerdikannya, Dyah Tantri minta didongengkan sebuah
cerita. Karena sang prabu sangat sayang kepadanya, maka
114
mendongenglah sang prabu. Begitu dongeng tamat sang prabu menagih
janji, Sang Dyah Tantri tidak menolak. Hanya dengan kelembutan
budi dan bicara sopan, dia merayu mohon agar didongengkan
sekali lagi. Mendongenglah sang prabu, dan tamatlah. Tagihan dirayu
minta didongengi dan terus sampai sang prabu sendiri nafsu kawinnya
menjadi berkurang banyak, bukan setiap malam. Maka tenanglah
negeri itu.
Dalam kitab ini juga diceritakan tentang prabu Anglingdarma
yang mengerti akan bahasa dialog hewan. Pada suatu hari, ketika
sang prabu Anglingdarma sedang berburu di hutan, dilihatnyalah
dua ekor ular sedang berlilitan dan bercumbu rayu. Setelah diamati
dengan seksama, ternyata si ular betinanya adalah putera sahabatnya
Brahmana Naga raja. Dalam hati sang prabu mengatakan bahwa
perilaku si Nagini itu tidak pantas sebagai anak brahmana. Maka
sebagai raja yang juga mempunyai kewajiban menjunjung tinggi golongan
brahmana, ular jantan itu dibunuh.
Nagini dipukul sehingga lari terbirit-birit sambil menangis
keras hingga mengagetkan para cantrik ular. Setelah tiba dan menghadap
sang rama brahmana Nagaraja lalu melaporkan tindakan
sang prabu Anglingdarma yang berani mau mengumpulinya. Karena
tidak mau lalu diperkosa dan dipukuli. Tanpa pikir panjang, sang
brahmana Nagaraja langsung menuju ke kerajaan menemui sang
prabu Aridarma. Sampai di kerajaan brahmana Nagaraja berubah
menjadi ular kecil langsung ke kamar peraduan, yang kebetulan
sang prabu sedang beradu. Sebelum tidur sang prabu menceritakan
perbuatan buruk si Nagini putera sahabatnya itu kepada permaisuri
Dewi Mayawati. Mendengar pembicaraan itu ular kecil itu keluar dari
bawah peraduan dengan berujud brahmana, sambil mengucapkan
rasa terima kasihnya atas peringatan yang diberikan kepada si Nagini
puterinya. Sang brahmana Nagaraja kemudian berkata kepada
prabu Aridarma: “Sang prabu, karena anda telah berjasa kepada
brahmana, maka perintahlah apa yang kau kehendaki!” Kemudian
sang prabu menjawab ingin bisa dan mengetahui bahasa ucap dari
semua hewan. Apa yang telah diinginkan prabu Aridarma dikabulkan,
dan mengertilah sang prabu Aridarma terhadap semua bahasa
binatang.
Pada suatu saat, berdualah sang prabu di peraduan. Sang
Aridarma mendengar suara seekor cecak sedang berkata dalam keluhannya:
“Aduh setia sekali sang prabu Aridarma ini dengan Mayawati
permaisurinya. Sedangkan aku ini punya suami tidak pernah
menyayangiku, tidak pernah memegangku seperti sang prabu mengasihi
sang permaisuri Dewi Mayawati.”
Mendengar kata-kata keluhan dan sanjungan untuknya,
sang prabu tertawa. Meskipun tawa itu hanya tawa kecil, namun itu
sangat mengagetkan sang permaisuri. Maka hal itu ditanyakan dan
hati Dewi Mayawati heran dan cemburu. Berhubung sang prabu Ari115
darma tidak menjawab (ilmu itu tidak boleh saiapapun mengerti) kalau
menjawab pasti mati. Besar keinginan sang dewi tetapi tidak dijawab,
maka memilih mati dibakar. Semua punggawa diperintahkan
untuk membuat tungku perapian. Konon setelah jadi tungku perapian
itu dan api mulai menyala, naiklah sang prabu bersama permaisuri.
Sebelumnya, sang prabu telah bersedekah kepada fakir miskin dan
para biksu.
Dengan rukun serta penuh mesra sambil bergandeng tangan
terus naik ke tungku perapian. Begitu sampai di puncaknya
sang prabu mendengar suara kambing betina bernama Wiwita dan
jantannya bernama Banggali. Pada saat itu Wiwita minta diambilkan
janur kuning. Tetapi Banggali tidak mau dan Wiwita merasa tidak dicintai,
kemudian ingin mati. “Kalau ingin mati, matilah”, begitu Banggali.
Demikian sang prabu perasaannya menjadi lebih rendah dari
Banggali. Maka turunlah sang prabu dari perapian, tidak jadi masuk
ke dalam perapian. Mayawati dan Wiwita akhirnya masuk tungku perapian.
3.3.3 Kunjarakarna
Kitab ini berisi seorang raksasa bernama Kunjarakarna
yang ingin menghapus dosanya agar menjadi manusia. Ia kemudian
menghadap kepada Batara Wairocana (dalam Pedalangan Maharsi
Budha Wirocana) yang menjabat sebagai pimpinan Dyani Budha.
Sang Kunjarakarna kemudian diperintah oleh sang Wairocana
pergi ke neraka supaya mengetahui situasi kondisi neraka. Berangkatlah
ia ke kahyangan sang Batara Yama. Sampai di kahyangan
Yomani dan sesudah bertemu dengan sang Yama, kemudian diperlihatkanlah
akan segala macam hukuman dan jiwa yang disiksa.
Demi melihat sebuah kawah yang dibersihkan, sang Yama
memberi tahu bahwa kawah itu dibersihkan untuk menghukum sang
Purnawijaya putera Batara Indra yang sangat besar dosanya. Keluarlah
Kunjarakarna dari neraka itu dan langsung menemui kawannya
sang Purnawijaya. Kunjarakarna kembali menghadap sang Wairocana
dan kemudian diwejang. Dengan taat Kunjarakarna menjalankan
wejangan-wejangan itu, maka sang Kunjarakarna menjadi manusia
berwajah bagus. Sang Purnawijaya juga minta wejangan kepada
sang Wairocana. Maka ketika ia meninggal yang mestinya dihukum
100 tahun, hanya menjadi 10 hari dan nyawanya boleh dikembalikan
ke tubuhnya.
Kitab Kunjarakarna isinya sebagai pelajaran untuk orangorang
Budha golongan elit (Mahayana). Dan kitab ini juga promosi
agar mereka senantiasa melakukan hal-hal yang baik, sesuai dengan
ajaran sang Budha Gautama. Sudah barang tentu hal ini juga
merupakan ajaran kepada para birokrat lainnya, agar selalu berpegang
teguh sebagai umatnya Sang Hyang Maha Budha. Sedangkan
116
penganut Budha yang terdiri dari kaum bawah, orang-orang miskin
digolongkan sebagai umat Budha Hinayana.
3.3.4 Kitab Utara Kandha
Kitab ini termasuk kitab Kandha yang paling baru. Memang
dipetik dari cerita Ramayana Walmiki bagian akhir dari Kakawin yang
berbahasa Jawa Kuna. Kitab Utara Kandha yang baru, ditulis dengan
menggunakan gubahan baru, berbahasa prosa. Isinya bermacam-
macam gubahan. Rincian ceritanya banyak sekali, misalnya terjadinya
raksasa-raseksi, yaitu cerita tentang nenek moyang Dasamuka.
Juga tentang lahirnya Dasamuka dan sikap dan sifat Dasamuka
yang kejam dan tidak hormat kepada para dewa dan pendeta. Bahkan
cerita Arjunasasrabahu-pun dimuat juga. Dalam kakawin Ramayana
tidak memuat gubahan ini. Kitab Utara Kandha gubahan baru
ini isi pokoknya adalah menceritakan Dewi Sinta ketika sudah pulang
ke Ayodya.
Dikisahkan bahwa masyarakat masih mencemburukan kepada
Sinta tentang kesuciannya selama berada dalam belenggu Dasamuka.
Mendengar berita kecemburuan masyarakat, segeralah Rama
menyuruh Sinta pergi dari Ayodya dalam kondisi sedang hamil.
Dalam perjalanannya sampai di sebuah pertapaan yang dihuni oleh
seorang Empu bernama Walmiki. Kemudian Sinta tinggal di pertapaan
tersebut hingga melahirkan bayi kembar laki-laki diberi nama Kusa
dan Lawa.
Dua orang anak Kusa dan Lawa inilah yang kemudian dididik
Empu Walmiki sehingga pandai mampu membaca lontar, pandai
bercerita. Bahkan bisa menceritakan kehidupan sang ayah yaitu Sri
Rama hingga muncul buku Ramayana. Ketika Sinta akan kembali ke
Ayodya memenuhi panggilan Sri Rama, tiba-tiba setelah beberapa
langkah, buminya retak sangat lebar dan Sinta terjerumus ke dalamnya
dan meninggal. Sri Rama tidak lama kemudian harus pulang ke
kahyangan sebagai Wisnu.
3.3.5 Korawaçrama
Dalam kitab ini menyebutkan sang Hyang Taya yang ditempatkan
di atas Sang Hyang Parameçwara (Batara Çiwa atau Batara
Guru). Dalam bahasa Jawa kata Taya berarti kosong atau tidak kelihatan,
tidak bisa diraba, bersifat gaib. Sang Hyang Taya adalah nama
untuk menyebut Tuhan orang Jawa-asli. Percaya kepada Sang
Hyang Taya disebut Kapitayan. Di Jawa Sang Hyang Taya sama dengan
Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Wenang, itulah Tuhan
orang Jawa asli dan masih ada nama lain.
Isi Kitab Korawaçrama juga beraneka ragam. Tetapi pokok
isinya adalah para Korawa akan dilakonkan membalas dendam kepada
Pandawa.
117
Bagawan Abiyasa diminta untuk menghidupkan kembali para
Korawa dan para sekutunya. Mereka-pun hidup atas kehendak
Sang Begawan. Kemudian mereka merencanakan untuk mengadakan
pembalasan terhadap saudara-saudaranya yaitu Pandawa. Sudah
barang tentu dengan wataknya yang sombong itu mereka akan
membuat sakit dan siksa serta susah bagi orang-orang Pandawa, biarlah
hidupnya tidak tenteram. Tetapi apa mau dikata, belum lagi
sampai kepada pembalasan, habislah cerita itu.
3.3.6 Kitab Bharatayuda (saduran baru)
Kitab ini jelas menyadur dari Kitab Bharatayuda yang lama.
Disadur oleh Kiai Yasadipura jaman kerajaan Surakarta Islam. Tentu
saja banyak hal yang disanggit untuk disesuaikan dengan pemikiran
dan penalaran yang diperbarui oleh pengarangnya, dan yang pasti
unsur ke-Islam-an tentu mendasarinya.
Namanya saja menyadur, tentu ada hal-hal yang berbeda
atau bahkan dibedakan sebab kondisi maupun situasi alaminya sudah
mengalami pergeseran. Namun demikian banyak para ahli sastra
yang mencela atau menyalahkan. Ki Yasadipura pun dalam penyaduran
Bhratayudanya dianggap hanya meraba-raba tidak mengerti
Bharatayuda aslinya secara mendalam. Kritikan Purbocaroko
yang dianggap meraba-raba itu misalnya begini : Di dalam Kitab Kawi
bagian 10 bait yang ke-6 berbunyi, “Kunang tawuri sang nrepang
Kuru ya kari lud brahmana, rikan sira sinapa sang dwija sagotra matya
laga”. Artinya, “Adapun tawur (tumbal atau korban) sang Duryudana
adalah seorang brahmana (dengan cara dibunuh), menyusullah
(tawur Pandawa), oleh sebab itu dikutuknyalah sang Duryudana
oleh sang Brahmana itu, bahwa ia akan mati dalam peperangan bersama
wangsanya.
Ada lagi yang dianggap meraba-raba atau kurang pas, bagian
ke-12 bait ke- 5 yang kalimatnya berbunyi: “…prabu ing Ngastina,
tawurira pandita Sagotra nak putuneki apan kinarya tawur
Ngastina neggih. “ Terjemahan: ….” Prabu di Hastina, tawur atau
korbannya pandita, Sagotra beserta anak cucunya memang sungguh-
sungguh dibuat tawur ( korban ) oleh Hastina.” Adapun yang dianggap
salah faham yang berhubungan dengan Sagotra itu memang
sudah lama.
Di dalam lakon Bale Si Gala-gala, Sagotra adalah seorang
satriya gunung (bang-bangan) yang baru saja kawin, tetapi istrinya tidak
mencintainya. Berkat petunjuk Raden Arjuna, maka kedua-duanya
mau saling menyeimbangkan cintanya. Jadilah hubungan suami
istri itu sangat harmonis. Maka bersumpahlah Sagotra “Kelak jika perang
Baratayuda terjadi, sanggup menjadi tawur (korban) untuk para
Pandawa.”
Demikan pula tentang matinya raden Jayad-ratha karena
kepalanya terhempas oleh panah yang diceritakan dalam kitab Kawi
118
bagian ke-16 bait ke-7 yang demikian “teka mara ye kisapwani bapanya
atemah sirah juga.” Artinya “datanglah di pangkuan ayahnya
yang terperanjat karena ternyata hanya kepala saja. Kata ye kisapwani
bapanya dipisahkan menjadi yeki sapwani bapanya. Dalam kitab
Jarwa, sapwani lalu menjadi nama ayah raden Jayad-ratha, Bagawan
Sapwani, yang dalam pewayangan menjadi Sempani.
Dalam kitab Kawi bagian ke-18 bait ke-2 berbunyi : “kuneng
apan eweh anggra batane gati karya temen. Si tutu tatanpa nanggaha
mene kigegong sakareng”, artinya “memang sungguh berat (ewed)
orang akan menyelesaikan perkerjaan yang penting tetapi si
patuh tak memikirkan barang sesuatu, itulah yang saya jadikan pegangan
sekarang ini.”
Di sini kata Si tutu tatanpa diterjemahkan berbunyi si patuh
tak memikirkan barang sesuatu-pun anut miturut boten mawi …. “
Si tutu ta menjadi Si tutu ka, lalu menjadi Si Tutuka atau Si Gathutkaca.
Memang “ta” dalam bahasa Kawi sering tertukar menjadi “ka”.
Tutuka ada yang mengucap Tutruka. Itu semua terjadi sewaktu Gathotkaca
minta diri untuk berhadapan dengan Adipat Karna.
Ada lagi ketika prabu Salya meninggal dalam pertempuran.
Dewi Satyawati menerima laporan “wonten bhretya kaparcaya ‘tuha
ya ta ‘jar i sira” (kita Kawi bagian 44 bait 1). Artinya ada prajurit yang
dipercaya, dialah yang berdatang sembah kepadanya. Kata Tuha ya
ta (tua ia itu) dijadikan nama patih negeri Mandraka bernama Tuhayata.
Dan yang lebih hebat lagi dalam bentuk wayangnya patih Tuhayata
ini menjadi terbakukan berwujud patihan bermuka hijau/biru.
Bermata kedondongan, hidung dempak, berjamang dengan rambut
terurai bentuk oren-gimbal, mengenakan sumping kembang kluwih,
kalung ulur-ulur bermacam selendang, berkeris yang nampak ujudnya,
menandakan ia bukan satriya. Mengenakan gelang berpontoh
dan berkeroncong, berkain rapekan tentara, bercelana selendang
(cindhe) (Harjowirogo, Sejarah Wayang Purwa,1982 : 241 )
Juga anak Raden Setyaki yang berjumlah 9 orang itu tidak
disebut nama-namanya, hanya disebut Sang Asanga artinya mereka
yang 9 orang itu. Akhirnya sampai sekarang disebut Raden Sangasanga.
Masih banyak gubahan-gubahan yang baru dalam Bharatayuda
Yasadipura. Nampaknya Bharatayuda ini sangat disenangi
banyak orang. Terbukti buku ini sering dicetak tidak di satu tempat.
Sedangkan isi ceritanya tetap Korawa dan Pandawa berebut Negara
Hastina.
3.3.7 Sena Gelung
Sena Gelung sebuah cerita wayang Jawatimuran petikan
dari lakon Ramayekti versi Jawatimuran. Lakon Sena Gelung belum
pernah terbukukan. Judul Sena Gelung-pun hampir-hampir belum
banyak yang mengetahui. Hanya beberapa dalang saja yang pernah
119
menampilkan. Mereka tahu dan mengerti apa maksud dan tujuan lakon
itu ditampilkan.
Atas persetujuan ki Dalang Suleman, seorang dalang senior
dari Gempol, Pasuruan, Jawa Timur dan didukung oleh para dalang
yang lain, lakon Sena Gelung ini disusun dalam pakeliran singkat
oleh Djumiran RA. Lakon ini dipentaskan pertama kali oleh ki Dalang
Suleman dengan waktu 3 jam, tahun 1995 di kota Malang.
Lakon ini terjadi setelah Bratasena selesai membabat hutan
Samartalaya. Sementara belum mampu membuat besar, maka mereka
para Pandawa hanya membuat rumah seadanya, dengan diberi
nama Pondhok Waluh (rumah janda).
Di luar Pondhok Waluh agak jauh, Bratasena yang juga
bernama Pujasena (Wijasena) sedang duduk di atas batu sambil melamun
dengan banyak pertanyaan. Aku ini bernama Sena, padahal
Sena berarti prajurit. Prajurit kan harus sakti. Benarkah aku ini sakti.
“Hm… kalau begini, aku jadi ingat pesan Abiyasa kakekku”. “Ketahuilah
cucuku Sena, kamu besok akan menjadi orang kuat, kamu suka
menolong, kamu akan menjadi sentosa dan kuat. Bersihkan dirimu,
sisirlah rambutmu yang gimbal itu dengan Jongkat – Penatas,
carilah !”. “Dimana aku harus mencari Jongkat Penatas? Siapa punya
Jongkat itu? Siapa yang menyisir ?
Demikian lamunan Sena tak kunjung henti. Semakin lama
semakin dia berpikir. Memikirkan ibunya yang adalah seorang Walu
(janda), adik dan kakanya dalam percarian makan sehari-hari masih
harus bergantung kepada kekuatan pribadinya… “bagaimana ini”?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikirannnya melalui
lamunan. Melamun, melamun terus melamun.
Dia sang Wijasena semakin lupa akan tempat dimana dia
berada. Siapapun yang lewat tidak akan tahu. Tetapi dengan tiba-tiba
ia tergerak keras sampai tergeser duduknya. Ada apa gerangan ?
Wijasena membelalakkan mata karena bahunya disentuh orang,
langsung berdiri secara reflek tangan kanannya bergerak Nempeleng
orang yang menyentuh tadi.
Sudah barang tentu yang ditempeleng itu jatuh terjungkal
jauh karena kerasnya tempelengan Wijasena. Tetapi orang itu terus
ditolong sama Wijasena, sebab ia tahu bahwa yang ditempeleng keras
sampai terjungkal itu Raden Patih Harya Suman. Sesudah agak
reda maka bertanya BrataSena (Wija-Sena) kepada Sengkuni. “Paman
Harya Sengkuni, ada apa sebenarnya bahwa patih meNemuiku
dengan sikap yang mengagetkan aku?” Patih Harya Sengkuni/Suman
dengan pura-pura bilang bahwa ada raksasa setan ngamuk
mencari Bratasena. Merasa pernah membabad hutan Samartalaya
dan serta merta membunuh setan, maka meloncatlah Wijasena lari
mencari raksasa setan yang akan membalas dendam. Hati Sengkuni
girang sukacita sambil meloncat-loncat bertepuk tangan.
120
Bratasena selalu ingat pesan Resi Wiyasa kakeknya, supaya
hati-hati dalam bertindak. Jangan tergesa-gesa dan terburu nafsu
dalam setiap mengambil keputusan. Terpaksa berhenti Wijasena
sambil menanti patih Sengkuni. Wijasena bertanya: “Betulkah paman
yang mencari aku itu raksasa setan?” patih menjawab dengan purapura
“betul nak betul, mari nak keburu prajurit Astina banyak yang
mati.”
Seketika itu Wijasena meloncat dengan tiga loncatan, ternyata
sebelum mendekat “benar-benar ada raksasa setan mengamuk.”
Wijasena berdiri menyelinap sambil mengintip siapa sebenarnya
raksasa yang disebut oleh Sengkuni “Buta (raksasa) – Setan”
itu? Dari tempat mengintip, Wijasena sudah bisa memastikan bahwa
itu bukan raksasa-setan tetapi memang raksasa. Wijasena juga
mendengar raksasa itu mengatakan, namanya “Wreka” mencari kakaknya
bernama Wangsatanu yang berada di negeri Astina. “siapa
Wangsatanu?” pikir Wijasena. Dengan melihat perang kerubutan
orang Astina terhadap Wreka seorang, Wijasena meloncat mendekat
Wreka dipukuli, ditendang, dikenai pisau gobang, tusukan keris, tlorongan
tombak di tubuhnya tidak dirasakan, bahkan tidak mempan.
Bagi Wijasena, ini adalah penghinaan.
Setelah dekat dengan raksasa itu, semua prajurit Astina disuruh
menyingkir. Sekarang tinggal Wijasena dengan Wreka. Demikian
Wreka merasa menemukan apa yang dicari. Maka ditubruknyalah
Wijasena. “Lha… inilah yang kucari, he… kakang Wangsatanu,
aku adikmu Wreka sangat merindukanmu, hayo kakang terimalah
sembahku kakang.” Mendengar ajakan Wreka seperti itu, Wijasena
menjadi marah …, dan semakin marah…, bahkan menjadi marah
besar. Akibatnya dengan kekuatan yang sebesar kekuatan Wreka diringkus
dan diinjak sampai tidak mampu bergerak, maka katanya si
Wreka “jelas, jelas sekali kamu kakangku Wangsatanu, aku tidak
akan menang denganmu kakang, jika tidak menerima sembahku,
maka bunuh saja aku, asal yang membunuh kamu kakang Wangsatanu
ya kakang Wijasena. Aku lega karena yang kucari sudah kutemukan.”
Tidak berapa lama, datanglah wanara seta (kethek putih), si
kera putih melerai keduanya. Wreka diajak mundur berada di belakang
Wanara Seta (Anoman) yang berdiri berhadapan dengan Wijasena.
Wanara Seta (kera putih) menjelaskan bahwa Wreka itu cantriknya
sendiri di pertapaan Kendalisada. “Yang menempati Kendalisada
itu aku sendiri. Nama saya Bhagawan Kapiwara, juga bernama
Raden Anoman.”
Wijasena merasa heran, kera kok pendheta, kera kok Raden
(raden dari mana). Namun demikian Bratasena mengangguk
tanda setuju. Kemudian Bratasena bertanya, ”ada maksud apa Wreka
mencari Wijasena/Bratasena?” Anoman menjelaskan bahwa Wreka
baru saja bermimpi akan mendapat ketenteraman jika sudah ber121
temu kakaknya yang bernama Wangsatanu yang berada pada pribadi
satriya Astina. Kecuali itu Anoman juga menjelaskan bahwa syarat
ketenteraman itu bisa diraih Wreka yang harus juga menyisir rambut
gimbal milik seorang pemuda yang belum diketahui namanya. Syarat
yang lain ialah nama Wreka harus dipakai oleh pemuda yang disisir
itu. Wijasena rupanya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Anoman.
Kemudian menanyakan siapa diri Anoman itu dan kenapa busana
yang dipakai Anoman sama dengan busana yang dipakainya.
Padahal busana yang dikenakan Wijasena pemberian Sang Batara
Bayu.
Begitu mendengar pertanyaan Wijasena, Anoman sang wanara
seta (Anjila) teringat akan pesan sang guru nadi (Batara Vayu/
Bayu) bahwa kalau ketemu pemuda yang berbusana sama itulah
saudaramu Satu Puruhita bernama Bratasena/Wijasena (Bungkus).
Sesudah semuanya jelas maka Wreka yang sudah lama membawa
pusaka Jungkat Penatas segera menyisir rambut gimbalnya Wijasena.
Terurailah rambut gimbal Bratasena. Puaslah Wreka karena
sembahnya diterima. Oleh Anoman rambut yang sudah terurai bersih
kemilau kehijau-hijauan itu digelung. Karena digelung brodhol-brodhol
(terurai) terus, sehingga harus disangga dengan sumping Pudhak
Sinumpet. Maka selesailah Gelung Wijasena, dan diistilahkan
Gelung melengkung pindha lung gadhung (gelung melengkung seperti
ranting pohon gadung). Ketiganya saling merangkul dan nama
Wreka terus dipakai oleh Bratasena menjadi Wrekodara (Wreka artinya
anjing ajag, udara artinya perut). Upacara Sena Gelung diberi
nama Pujasena Cawis Prawira.
3.3.8 Sastra Berbentuk Kakawin
Buku/tulisan sastra lakon/cerita yang berbentuk tembang
Kawi atau Kakawin, di antaranya ialah:
3.3.8.1 Kresnayana, karangan Empu Triguna.
Isinya meriwayatkan Kresna yang sebagai anak nakal sekali,
tetapi dikasihi orang karena suka menolong dan mempunyai kesaktian
yang luar biasa. Setelah dewasa ia menikah dengan Rukmini
dengan jalan menculiknya.
3.3.8.2 Gathotkacaçraya, karangan Empu Panuluh
Isinya menceritakan peristiwa perkawinan Abimanyu dengan
Siti Sundhari, yang hanya dapat dilangsungkan dengan bantuan
sang Gathotkaca. Dalam kitab ini untuk yang pertama kali muncul
tokoh-tokoh punakawan, seperti Jurudyah, Prasanta dan Punta sebagai
pengiring Raden Abimanyu.
122
3.3.8.3 Arjuna Wiwaha, karangan Empu Kanwa
Isinya meriwayatkan Arjuna yang pertapa untuk mendapatkan
senjata, guna keperluan perang melawan Korawa, kelak dalam
Bharatayuda. Sebagai petapa Arjuna berhasil pula membasmi raksasa
Nirwatakawaca yang menyerang Kahyangan. Sebagai hadiah, Arjuna
boleh hidup di Indraloka beberapa lama. Kitab ini digubah oleh
Empu Kanwa pada masa Airlangga raja di Jawa Timur dari sekitar
tahun 941 – 946 saka (019 – 1042 Masehi).
3.3.8.4 Smaradahana, karangan Empu Darmadja
Ketika batara Siwa sedang bertapa, seorang raja raksasa
bernama Nilarudraka datang di Kahyangan untuk merusak Sorga.
Sang Kamajaya disuruh oleh para dewa untuk menyusulnya. Sampai
di tempat bertapa, Kamajaya berkali-kali membangunkan tapanya
dengan berbagai cara, tetapi gagal. Dicoba dengan panah bunganya-
pun gagal juga. Akhirnya dipanah pamungkasnya yaitu panah
Pancawiyasa yaitu sebuah panah yang bisa membangkitkan rasa
rindu-dendam terhadap pendengaran dan persaan, penglihatan yang
serba nikmat.
Seketika itu juga, Batara Siwa rindu terhadap isterinya
Sang Batari Uma. Namun Batara Siwa marah karena tahu bahwa itu
adalah ulah Kamajaya. Maka dari “mata-ketiga” Batara Siwa terpancarlah
api menempuh dan membakar Kamajaya sehingga matilah
Kamajaya. Batara Siwa melenjutkan perjalanan pulang ke Sorga.
Sampai di Sorga bertemulah dengan permaisuri, kerinduan bisa lepas
dan tersalur hingga sang Batari hamil.
Sementara Kama Ratih mencari sang suami yang mati terbakar,
terlihat tangan Kamajaya bagaikan melambai-lambai, maka
Ratih menggelebyur ke dalam nyala api (dahana mulat) hingga terbakar
dan mati. Oleh Batara Siwa keduanya tidak dimaafkan, Kamajaya
disuruh menyatu dengan tubuh setiap lelaki dan Batari Ratih harus
menyatu pada tubuh setiap perempuan sampai sekarang.
Dicerikan kehamilan sang Batari Uma telah sampai pada
saat kelahirannya. Maka lahirlah seorang bayi (jabang-bayi) berkepala
gajah. Ini akibat dari waktu hamil sang Uma terkejut melihat gajah
yang dibawa oleh para dewa ketika pura-pura menjenguk Batara
Siwa. Bayi yang lahir itu diberi nama Batara Ganesa. Kehadiran raja
raksasa Nilarudraka yang akan merusak sorga itu dapat dipukul
mundur dan dibunuh oleh Ganesa.
Kitab Smaradahana juga menyebut nama raja Kediri Prabu
Kameswara titisan Kamajaya yang ke-3. Parameswari Sri Kirana Ratu
sebagai titisan Kama Ratih. Pemerintahan Kameswara ini terjadi
pada tahun 1037 – 1052 Saka atau tahun 1115 – 1130 Masehi.
123
3.3.8.5 Bomakawya
Kitab ini berisi cerita peperangan antara Sri Kresna melawan
sang Boma. Demikianlah cerita peperangan tersebut.
Kehadiran Batara Narada di negara Dwarawati minta tolong
kepada Sri Kresna agar membunuh para bala raksasa anak buah
(prajurit) sang Boma, yang sedang mengepung ke Inderaan. Samba
putera Sri Kresna diperintahkan untuk berangkat mendahului bersama-
sama beberapa tentaranya. Sampai di kaki gunung Himalaya,
bertempurlah mereka melawan raksasa-raksasa dan musnahlah semua
bala raksasa.
Dengan berakhirnya perang itu Raden Samba melihat sebuah
pertapaan rusak dan sepi, hanya ada seorang jejanggan bernama
Puthut Gunadewa. Di situlah Raden Samba menanyakan bagaimana
riwayat pertapaan itu. Sang Gunadewa kemudian menceritakannya,
bahwa tempat itu adalah bekas pertapaan Sang Dharmadewa
putera Batara Wisnu.
Sesudah sang Dharmadewa wafat, maka permaisurinya
menjadi tapa-tapi di pertapaan tersebut. Tetapi tidak lama kemudian,
permaisuri yang bernama Yadnawati itu meninggal. Terakhir pertapaan
ini ditempati oleh seorang pendeta gurunya Gunadewa bernama
Pendeta Wismamitra.
Mendengar cerita si jejanggan Gunadewa, maka terlintaslah
kembali dalam ingatan Raden Samba bahwa Dharmadewa (putera
Wisnu) itu adalah dirinya sendiri. Ia sekarang sangat rindu kepada
Yadnawati.
Sementara kerinduan Raden Samba terhadap Yadnawati tidak
terbendung, datanglah Batari Titlotama yang mengatakan bahwa
Yadnawati menitis pada puteri raja dari utara nagara dan namanya
tetap Yadnawati. Tetapi karena kerajaan diserang oleh seorang raja
raksasa prabu Boma, ayah ibunya meninggal. Kini sang puteri dipelihara
sang Boma.
Raden Samba diantar oleh Batari Titlotama, dengan diamdiam
menemui sang Yadnawati. Di situ pula Samba berhadapan dengan
bala raksasa penjaga. Samba mampu mengalahkan para penjaga
dan matilah penjaga itu. Tetapi Yadnawati telah dibawa oleh
Boma ke negaranya yang lain di Projatisa.
Batara Narada datang memberitahukan agar Raden Samba
kembali ke Dwarawati, sebab di situ bahaya mengancamnya. Cepatcepat
Raden Samba ke Dwarawati tetapi tak bisa bertemu kekasihnya
sang Yadnawati. Gandrung tak terelakkan hingga sakit. Kresna
ayahnya marah, Boma dibunuhnya. Raden Samba sembuh dan lalu
dipertemukan dengan Yadnawati, bermadu asmara. Buku ini pengarangnya
tidak jelas.
124
3.3.8.6 Sutasoma
Raden Sutasoma seorang pangeran yang diperanakkan
oleh raja Mahaketu di negeri Astina. Ia tidak mau diangkat sebagai
pengganti ayahnya dan juga tidak mau dikawinkan, ia pemeluk Budha
Mahayana, sangat rajin. Suatu saat Raden Sutasoma pergi dari
istana, semua pintu terbuka bagaikan memberi jalan kepadanya. Dengan
kepergian Sutasoma tentu raja dan parameswarinya sangat sedih.
Penghibur istana tidak terhiraukan.
Perjalanan Raden Sutasoma sampai di sebuah hutan, melihat
kuil kecil dan masuklah ia memuja kepada Maha Budha. Datanglah
batari Widyukarali yang memberitahu bahwa permohonannya dikabulkan.
Kemudian Raden Sutasoma naik ke gunung Himalaya dengan
dihantar oleh para pendeta. Sampai di sebuah pertapaan, semua
yang dilakukan Raden Sutasoma diceritakan kepada orang
yang ada di situ. Di samping itu, Raden Sutasoma juga mendapat
cerita tentang seorang raja yang bagus rupa tetapi titisan raksasa
yang gemar memakan daging manusia. Raja itu bernama prabu Purusada
atau Kalmasapada. Suatu saat daging yang akan disantap hilang
dimakan anjing dan babi.
Sudah barang tentu pelayan itu bingung. Maka dicarinyalah
mayat manusia yang baru untuk diambil dagingnya sebagai santapan
sang prabu Purusada. Ternyata pelayan itu langsung memasak
daging yang didapatnya. Setelah disantap, ternyata daging sebanyak
itu habislah. Dengan merasakan segar dan nikmat, sang prabu Purusada
menanyakan daging apa yang baru disantapnya? Dengan jujur
ia menjawab ”daging manusia”. Demikian kesenangan makan daging
manusia bagi sang Prabu Purusada semakin tak terbendung. Akibatnya
penduduk di negeri itu habis dimakan.
Karena kuasa Sang Hyang Wenang, raja raksasa itu terluka
kakinya dan tidak bisa disembuhkan, akhirnya ia benar-benar menjadi
raksasa penghuni sebuah hutan. Sang Purusada merasa tersiksa
atas kakinya yang sakit itu. Lalu berjanji akan mempersembahkan
seratus raja untuk santapan batara Kala bila sembuh kembali.
Batari Pertiwi dan para dewa meminta Sutasoma untuk
membunuh raja Purusada, tetapi tidak mau. Raden Sutasoma meneruskan
perjalanannya dalam rencana untuk bertapa. Dalam perjalanannya
Raden Sutasoma bertemu dengan raksasa berkepala gajah
yang juga pemakan daging manusia. Kebetulan Raden Sutasoma tidak
mau dimakan, maka bergulatlah, dan raksasa terguling ditindih
olehnya. Ia merasa keberatan, bagaikan tertindih gunung. Raksasa
berkepala gajah itu kemudian tunduk kepada Raden Sutasoma. Diajarlah
ia supaya tidak suka membunuh orang dan kemudian menjadi
sahabatnya.
Seekor naga besar yang menyambar Raden Sutasoma ternyata
bisa ditaklukkan oleh raksasa kepala gajah dan menjadilah
125
muridnya. Ada seekor harimau yang akan memangsa anaknya sendiri
(gogor). Oleh Raden Sutasoma dilarangnya, harimau tadi memakan
dirinya. Langsung saja Raden Sutasoma ditubruknya dan matilah.
Dengan kesadaran sendiri harimau itu merasa berdosa dan menangislah
pada kaki Raden Sutasoma dan ingin mati saja.
Sutasoma dihidupkan oleh Batara Indra. Setelah saling berdialog,
Indra kembali ke Kahyangan. Raden Sutasoma lalu bertapa.
Meskipun banyak godaan tetapi tak tergoda, malah menjelma sebagai
sang Budha Wairocana. Setelah para dewa ingin menghormat
maka menjadi Raden Sutasoma kembali dan langsung pulang.
Sepupu Raden Sutasoma yang bernama Prabu Dasabahu
sedang berperang melawan tentara raksasa Prabu Kalmasapada.
Raksasa kalah mengungsi kepada Raden Sutasoma. Prabu Dasabahu,
mengejarnya ternyata ketemu dengan sepupunya. Bala raksasa
disuruh kembali. Raden Sutasoma diajak pulang ke negerinya, terus
dikawinkan dengan adiknya Prabu Dasabahu, dan berputralah mereka,
terus pulang ke Astina bergelar Prabu Sutasoma.
Prabu Purusada yang sudah mampu mengumpulkan 99
orang raja tinggal seorang saja segera akan diserahkan ke Batara
Kala. Ternyata setelah ketemu dengan Prabu Sutasoma yang sanggupkan
dirinya sebagai penggenapan jumlah 100 orang raja.
Sebelum sampai di hadapan Batara Kala, sang Prabu Purusada
terharu akan kesanggupan Prabu Sutasoma. Akhirnya bertobatlah
sang Purusada dan 99 orang raja tawanan dibebaskan.
Kitab Sutasoma ditulis pada jaman pemerintahan Raja Hayam
Wuruk di Kerajaan Majapahit. Induk karangan ada di negeri Indu.
Sayang sekali siapa penulisnya tidak diketahui dengan jelas.
3.3.8.7 Parthayadnya
Purbocaroko, dalam Kapustakan Jawa-nya mengungkapkan
bahwa buku Parthayadnya sederet dengan Kitab Arjunawijaya
dan Sutasoma. Pernyataan pada isi buku, bahwa buku ditulis pada
jaman Majapahit pertengahan sampai akhir. Isi kitab ini mengisahkan
kehidupan orang Pandawa sesudah kalah main dadu. Mereka dipermalukan,
dianiaya diseret ke hadapan para raja yang berkumpul di
negara Astina. Kemudian dibuang ke hutan selama 12 tahun.
Akhirnya dalam mempersiapkan diri, oleh Yudhistira, Arjuna
disuruh bertapa di gunung Indrakila. Dalam perjalanannya sang Arjuna
singgah di pertapaan Bagawan Mahayani di dalam hutan Wanawati.
Ketika laju perjalanannya Arjuna bertemulah dengan Dewi Sri
(wahyu istana Indraprastha) yang pergi meninggalkan istana karena
raja Yudhistira telah berbuat kurang pantas. Ia sanggup kembali ke
istana asal dipelihara. Maka gaiblah wahyu Dewi Sri.
Arjuna juga bertemu dengan Kamajaya dan diberi wejangan-
wejangan berharga dan diberi peringatan bahwa akan datang
mara bahaya yang dibawa oleh seorang raksasa bernama Nalamala
126
yang berkepala 3, yaitu sebuah kepala gajah, sebuah kepala raksasa
dan yang ketiga kepala garuda.
Setelah diperingatkan oleh Kamajaya, tidak lama kemudian
Arjuna diserang oleh Nalamala. Tetapi hanya dengan bersemedi
sang Arjuna nampak berbadan Batara. Nalamada takut dan pergilah
dengan ancaman suatu saat nanti akan ketemu berperang lagi, pada
jaman Kaliyuga.
Dalam perjalanan selanjutnya Arjuna bertemu dengan sang
kakek Maharsi Wiyasa. Diberi petunjuk dan wejangan tentang perilaku
hidup dan kehidupan bagi seorang satria bangbangan (bambangan).
Usai diberi wejangan, di antar ke Indrakila dan bertapalah.
Prof. Dr. R.M.Ng. Purbocaroko dalam Kepustakaan Jawanya,
menjelaskan bahwa Kitab Parthayadnya tidak mengandung
lakon. Hanya menceritakan perjalanan Raden Arjuna untuk menuju
bertapa ke Indrakila yang dalam perjalanannya mendapatkan ajaran
dan ilmu bermacam-macam. Penulis buku Parthayadnya juga tidak
jelas, namun hal ini disejajarkan dengan kitab Sutasoma.
Demikian beberapa buku (tulisan/sastra) yang diambil dari
buku yang bertembang dan sastra prosa. Tentu masih banyak bacaan-
bacaan lain yang berhubungan dengan sastra lakon.
3.4 Sastra Gending
Gending adalah lagu-lagu yang dimainkan dengan menggunakan
gamelan. Pembicaraan Sastra Gending tidak akan mengutamakan
masalah gendingnya, tetapi lebih dikhususkan pada Kesusasteraan
yang ada kaitannya dengan gending, yaitu Kesusasteraan
termuat dalam tembang. Dalam bernyanyi atau nembang sering terdengar
istilah syair (cakepan), bawa atau buka, Jineman, umpak,
senggakan, gerong, sindhenan, laras, titilaras, irama, pathet, cengkok,
merong, dan pedhotan.
3.4.1 Syair (Cakepan).
Cakepan itu berupa sususan kata-kata terpilih yang kemudian
tersusun menjadi kalimat indah dan kemudian dipakai dalam
tembang, gerong, senggakan, suluk, sindhenan, Jineman. Jadi jangan
salah tafsir, bahwa yang dimaksud cakepan itu bukan tembangnya,
melainkan kata-katanya.
Biasanya dalam cakepan memuat Purwakanthi (kalimat
bersanjak) guru swara, guru sastra, lumaksita. Demikian juga memuat
parikan, wangsalan, guritan dan sebagainya.
Selanjutnya bagi seorang vokalis sudah tentu akan bernyanyi
dengan melagukan kalimat tembang dengan jelas. Si pendengar
akan menangkap lebih jelas sehingga tujuan kalimatnya dapat dimengerti
dengan jelas juga. Orang nembang jawa jangan grayem (suara
senandung) dituntut perubahan huruf vokal harus jelas.
127
3.4.2 Bawa / Buka
Bawa adalah sebuah lagu vokal sebagai pendahulu gending
yang akan dimainkan. Namun demikian permainan sebuah gending
juga bias didahului dengan Buka, yang pada umumnya menggunakan
instrument gamelan Rebab atau Gender. Biasanya juga dengan
Bonang atau dengan Kendhang, dan biasa juga dengan menggunakan
Gambang meskipun jarang. Yang jelas sebelum Buka / Bawa
dilagukan, seyogyanya ada lagu pathetan agar tidak terjadi tumpang
tindih suasananya.
3.4.3 Jineman
Jineman itu bagian dari kalimat bawa yang dilagukan secara
bersama. Bisa dilagukan oleh para vokalis (wiraswara) sebuah panembrama.
Jineman juga sebuah bentuk lagu yang permainannya dilagukan
oleh sorang Sindhen bersama gamelan yang bernada lembut
saja, misalnya Gender Barung (Gender babon), Gender Penerus
(Gender lanang), Slenthem, Siter, Kendhang, Gong kempul dan Kenong,
contoh Jineman Uler Kambang, Mari Kangen, Kandheg, dan
sebagainya.
3.4.4 Umpak
Umpak-umpak adalah bagian gending yang tidak digerongi,
khususnya bagi gending yang berbentuk ketawang. Umpak-umpak
seperti ini biasanya dimulai dengan menggunakan buka swara atau
salah satu alat gamelan.
Ada lagi umpak-umpak yang menggunakan syair atau kata
(cakepan), itu biasanya dilagukan pada penyajian panembrama., dan
cakepannya biasanya menggunakan parikan, contoh rujak nangka
rujake para sarjana, aja ngaya dimen lestari widada. Kalimat dua baris
yang di atas itu berupa parikan isinya memberikan patuah kepada
setiap insan hidup dalam kehidupannya agar berlaku sabar tidak
emosional supaya mendapat selamat, contoh parikan lain kembang
menur tinandur ing pinggiring sumur, miyar miyur atine wong ora jujur.
Kalimat parikan di atas juga mengandung pendidikan bagi setiap
umat manusia agar di dalam kehidupannya melakukan kejujuran.
Namun perlu dimengerti, bahwa kedua cakepan tersebut
yang menggunakan kata awal rujak dan kembang juga berupa purwakanthi.
Cakepan yang diawali dengan kata rujak dalam sastra Jawa
disebut purwakanthi swara, dan yang diawali dengan kata kembang
disebut purwakanthi aksara.
3.4.5 Senggakan
Ada satu atau beberapa kata yang terlontar pada sela-sela
cakepan yang dibunyikan, kata-kata itu didalam kesusasteraan Jawa
128
dinamakan orang sebagai Senggakan. Ada senggakan yang dilagukan
dan ada yang tidak dengan dilagukan. Contoh senggakan yang
dilagukan: ayu kuning bentrok maya, sing lanang seniman, sing wadon
seniwati, e.. obakso.., eling-eling sing peparing...dan lain-lain.
Yang sangat aneh, bahwa antara cakepan dan senggakan
tidak ada keterkaitan baik arti ataupun maksud dan tujuannya, tetapi
bersatu dalam sebuah bingkai gending atau lagu. Sedangkan senggakan
yang tidak dilagukan misalnya: ha.. e, so…, lho..lho..lho..,
ha..yo..ta.., dan lain sebagainya. Tanpa lagu tetapi membikin semarak
dari gending/lagu yang di senggaki. Demikian juga yang terungkap
dengan lagu itupun juga menambah suasana menjadi lebih gembira,
suka cita dan menyegarkan jiwa.
3.4.6 Gerong
Gerong adalah nembang bersama-sama, dibarengi dengan
gamelan dalam memainkan gendingnya. Gerong ini ditembangkan
sesudah umpak-umpak. Biasanya menggunakan cakepan yang diambil
dari tembang Macapat yang jumlahnya 14 atau 15 buah itu,
misalnya:
Kinanthi
Nalikanira inga dalu
Wong agung mangsah semedi
Sirep kang bala wanara
Sadaya wus samiguling
Nadyan ari sudarsana
Wus dangu nggenira guling
Pucung
Ngelmu iku kalakone kanthi laku
Lekase lawan khas
Tegese khas nyantosani
Setya budya pangekese durangkara
Bisa juga cakepan gerongan ini diambil dari tembang Tengahan, misalnya:
Juru Demung
Cirine serat iberan
Kebo bang sungunya tanggung
Saben kepi mirahingsun
Katon pupur lelamatan
Kunir pita kusut kayu
Wulu cumbu madukara
Paran margining ketemu
129
Balabak
Rogok-rogok asradenta gedhe-dhuwur
Dedege
Godheg tepung mberuwes nggabres anjemprok
Jenggote.
Girisa
Amiyos kang Jeng Sang Nata, saking paraba suyasa ginarbeging
upacara, kang ngambil srimpi badhaya myang
manggung ketanggung jaka, palara-lara sadaya Sri Nata
ngrasuk busana, kadhaton tuhu respatya.
Jadi seperti yang tergabung dalam penataan karawitan
bahwa gerong sering terucap nggerong adalah nembang. Gerongan
adalah barangnya, penggerong adalah pelaku (wiraswara). Untuk itu
perlu dipertegas bahwa gerongan yang berwujud barang yang ditembangkan
itulah yang termasuk di dalam bingkai sastra gending. Sebagian
besar dari kalimat-kalimatnya berisi tentang pendidikan jiwa
bagi semua umat manusia.
3.4.7 Sindhenan.
Pelaku Sindhenan disebut Pesindhen. Kata Sindhenan berasal
dari kata Sindhen. Dalam ucapan sehari-hari secara sastrawi
kata Sindhen ini sering dikaitkan dengan kata Sesendhonan, sehinga
menjadi Sindhen Sesendhonan. Kata sesendhonan berasal dari kata
sendhon, dan kata sendhon berasal dari kata Jawa Sendhu yaitu tegur,
disendhu artinya ditegur.
Sindhen Sesendhonan dalam bahasa Jawa Sastrawi berarti
tetembangan. Dengan demikian sindhen pun bisa diartikan tetembangan.
Lalu apa yang ditembangkan? Sudah barang tentu kalimatkalimat
bahasa jawa yang sastrawi berbentuk parikan ataupun purwakanthi.
Beberapa contoh wangsalan dalam sindhenan:
sayeng kaga (kala), kagakresna mangsa sawa (gagak),
wong susila, lagake anujuprana, ancur kaca (banyurasa),
kaca kocak mungging netra (tesmak), wong wruh rasa, tan
mama ing tata karma, mong ing tirta (Baya), tirta wijiling sarira
(kringet)sapa baya, banget ngudi basa jawa, Ngrekapuspa
(nggubah), puspa nedheng mbabar ganda (mekar)
Nggubah basa mrih mekar landheping rasa, Carang wreksa
(pang), wreksa kang rineka janma (golek), Nora gampang,
golek krawuh mrih kaonang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seorang pesindhen
dalam karyanya akan memberi teguran, mengingatkan dan bisa
disebut mendidik, memberi sindiran kepada manusia.
130
3.4.8 Irama
Pada hakekatnya irama itu adalah sebuah tempo atau jarak
waktu. Jarak waktu di dalam karawitan berupa tempo untuk mengatur
jarak pukulan satu ke pukulan lainnya. Untuk itu demi teraturnya
irama dan sesuai dengan karakter gending, sajian irama dapat diatur
sebagai berikut: Irama lancar, bisa juga disebut irama setengah, Irama
lamba, bisa disebut irama kebar atau irama siji (satu), Irama dadi,
juga disebut irama loro (dua), Irama wiled atau irama telu (tiga
atau ciblon), Irama rangkep atau irama papat (empat). Ada lagi irama
yang namanya sesuai dengan bentuk/nama gending, misalnya Irama
srepek sejenis irama satu, Irama sampak sejenis irama setengah,
Irama palaran sejenis irama srepek dan sampak. Masih ada sebuah
irama yang perjalanannya tergantung pada pelaku, yaitu disebut
irama Bebas. Irama ini sering tersaji dalam lagu Tembang Jawa
yang berbentuk Bawa, tembang Macapat Tengahan dan Ageng Andhengan.
Irama bebas dalam tari sering terjadi, dan disebut irama
dalam hati. Irama bebas dalam pewayangan setiap saat bisa terjadi.
3.4.9 Cengkok
Cengkok itu adalah lekuk-lekuk suara yang dibawakan oleh
seseorang vokalis. Namun seiring wirawiyaga juga bisa membawa
cengkok itu kedalam tabuhan.
3.4.10 Merong
Merong adalah bagian gending yang belum minggah ,contoh
Gending Gambirsawit kethuk 2 kerep minggah 4. Ada merong
yang digerongi, ada yang tidak digerongi, yaitu dengan disindheni
saja. Dalam Merong ini Sastra Gending sangat jelas, dibawakan oleh
Pesindhen.
3.4.11 Pedhotan
Pedhotan yang dimaksud di sini bukan pedhotan dalam
tembang, tetapi pedhotan dalam gending. Istilah pedhotan dalam
gending mungkin generasi muda jarang mendengar, tetapi lebih sering
di dengar dengan istilah Pos. Pada waktu lampau (th 40-55) disebut
Pedhotan artinya berhenti sebelum suwuk dan bukan di akhir
gending. Karena dilakukan mandheg (berhenti sejenak) lalu disebut
Andhegan.
Selanjutnya perlu diketahui dari sub poin 3.1 cakepan sampai
dengan sub poin 3.14 Pedhotan yang merupakan unsur-unsur
Sastra Gending yang di dalam Sekar Macapatnya Kanjeng Panembahan
Senapati Mataram tembang Sinom, contoh:
Marma sagung trah Mataram,
kinen wignya tembang kawi,
131
jer wajib ugring ngagesang,
ngawruhi titining ngelmi,
kang tumraping praja ‘di,
yembang kawi asalipun,
tan lyan titining sastra,
paugeraning dumadi,
nora nan kang liya tuduhing sastra.
3.5 Sastra Antawacana
Dalam pelajaran Antawacana pada Sekolah Menengah Kejuruan
Negeri jurusan Seni Pedalangan, dapat dibagi-bagi menjadi
Janturan, Ginem, Pocapan. Ketiga-tiganya tentu membutuhkan kecermatan
didalam pengucapan, memilih kata, ingat akan tingkatan
bahasa / unggah-ungguh basa dan parama sastra. ini harus dilakukan
dengan persiapan yang super hati-hati, agar di dalam sajian pertunjukkan
si penonton pulang dengan membawa kepuasan. Untuk itu
semua perlu dibicarakan satu per satu.
3.5.1 Janturan
Pada hakekatnya Janturan itu sebuah orasi seorang dalang
yang ingin menjelaskan tentang apa yang disajikan pada pakelirannya.
Kebanyakan janturan yang berlaku pada pertunjukkan wayang
berupa kalimat-kalimat indah (basa rinengga) diucapkan secara gancaran
dan lesan. Isinya janturan menceritakan dan mengupas situasi
dan kondisi suatu Negara. Namun sebagaimana umumnya yang berlaku
pada pewayangan jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Barat maupun
Jawa Timur dan Bali, orasi ini berwujud Jejer suatu Negara / kerajaan,
pertapaan, rumah panakawan. Janturan yang berisi panyandra
(menggambarkan) dan menceritakan bagaimana suasana suatu
Negara / pertapaan, rumah. Biasanya diambil dari hal-hal yang baikbaik
saja, kecuali Jejer Astina atau di tempat raksasa.
Dalam adegan Jejer, apabila masih dalam kondisi pathet
Nem (Solo, Yogya, Banyumas) suara dalang saat berorasi harus berada
pada bilah 2 atau 6. Kata-kata / kalimat-kalimat yang rangkaiannya
berupa gaya bahasa indah (Basa rinengga) tersusun dengan
memilih kata yang sudah berdasanama (sinonim) sehingga membentuk
menjadi basa pedalangan.
Jejer di dalam wayangan semalam suntuk terjadi minimal 3
kali, dan bisa sampai 5 atau 6 kali, yaitu jejer I, pada awal dimulai
pertunjukkan kira-kira pukul 21.00. Kemudian jejer II terjadi sesudah
“Budhalan” prajurit dengan naik kuda, kira-kira pukul 23.00. selanjutnya
jejer ke III terjadi sesudah ada tanda peralihan waktu dari wilayah
pathet Nem masuk ke dalam wilayah pathet Sanga. Maka jejer
ke III ini terjadi sudah berada dalam wilayah pathet Sanga, sehingga
132
peristiwa jejer III sering disebut Jejer Sanga I. Sering juga sebelumnya
diisi gara-gara.
Peristiwa dari jejer I, jejer II dan seterusnya itulah janturan
ikut berpersan aktif sebagai sarana penjelasan kepada para penonton.
Secara structural, janturan jejer tersusun demikian Pertama
Adangiyah (kata-kata awal) Berbunyi “swuh rep data pitana” artinya
dari kosong (/suwung, sepi / mandheg / mati ), akan digelar kehidupan
di dunia ini.
Dalam hal ini sebagai penggelar kehidupan adalah Sang
Maha Hidup (yang punya hidup) yang di dalam seni pertunjukkan
wayang kulit dilambangkan bahwa Sang Dalang yang menceritakan
lakon. Kedua Pambuka berupa penjelasan Sang Dalang kepada penonton
di awal cerita, contoh janturan.
……….. Hanenggih nagari pundit ta ingkang kaeka adi dasa
purwa. Eka sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh, purwa wiwitan.
Sanadyan kathah titahing dewa, ingkang kasongan
ing angkasa, kasangga pratiwi kapiting samodra, kathah
ingkang sami anggana raras boten wonten kadi nagari
Dwaraka ya Dwarawati. Mila kinarya bubuka, ngupayaa nagari
satus tas antuk kalih, sanadyan sewu tan jangkep sadasa.
Mila winanstan Dwarawati dados palawangane jagad,
utawi wenganing rahsa, Dwaraka panggenan pambuka.
Ketiga isi berupa untaian kalimat yang menjelaskan tentang
Gambaran suatu Negara yang dikelirkan (dilakonkan). Biasanya tentang
kemakmuran Negara, keadilan (watak adil para marta) dan kebijakan
pemerintah. Bagian isi ini berbunyi agak panjang dan diakhiri
penjelasan. Tentang keperluan sang prabu pada pemerintahannya.
Isi dalam janturan itu biasanya berbunyi sebagai berikut :
………..Dhasar nagari panjang-punjung, pasir wukir loh jinawi
gemah aripah karta tur raharja. Pajang dawa, punjung
luhur kawibawane, pasir samodra wukir gunung, dene nagari
ngungkurake pegunungan, ngeringake pasabinan nengenake
benawi ngayunaken bandaran gedhe. Loh tulus
kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku. Gemah
para lampah dagang rahinten dalu tan ana pedhote,
labet tan ana sangsayaning margi. Aripah janma manca
kang samya gegriya ing salebeting praja katingal jejel riyel
aben cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak saking
rejaning praja. Karta kawula ing padhusunan padha tentrem
atine, mungkul pangolahing tetanen. Ingon-ingon kebo sapi,
pitik iwen tuwin raja kaya tan ana kang cinancang, yen rahina
aglar ing pangonan, yen bengi mulih marang kandhange
dhewe-dhewe. Raharja tebih ing parangmuka. Para mantra
133
bupati padha kontap kautame, bijaksana limpad ing kawruh,
putus marang pangrehing praja, tansah ambudidaya kaluhuraning
nata.
Dhasar nagari gedhe abore, padhang jagade, dhuwur kukuse,
adhoh kuncarane. Boten namung ing tanah jawi kemawon
ingkang sami sumujud, sanadyan para narendra ing
mancanagari kathah ingkang sumawita tanpa karana ginebaging
bandayuda, among kayungyun marang popoyaning
kautaman. Bebasan ingkang celak manglung, ingkang tebih
tumiyung. Saben antara mangsa sami asok bulubekti, glondhong
pangareng-areng. Peni-peni reja peni guru bakal guru
dadi mas picis rajabrana minangka panungkul. Sinten ta
jujuluking narendra ingkang anglenggahi dhamparing kaprabon.
Wenang den ucapna jujuluking nata, ajejuluk Prabu
Sri Batara Kresna, Harimurti, Padmanaba, Kesawa, Narayana,
Wasudewa, Wisnumurti, Danardana, Janardana. Mila
jejuluk Sri Batara Kresna, dene cemeng sarirane trus balung
sungsum ludirane, yen ayama ayam cemani, kenging
kinarya sarana. Nadyan Srinata dadi sarana ungguling
prang Bharatayuda darah Pandhawa. Arimurti luwih padhang,
dene wruh sadurunge winarah.
contoh janturan:
Ing pagelaran Jawi andher sowane para mantra bupati beg
amber mbalapar ngantos dumugi sanjawining taratag kaya
ndhoyong-ndhoyongna pancake sujining alun-alun para wadya
kang samya nangkil. Abra busananing wadya yayah
sekar setaman. Ing alun-alun papanjen umbul-umbul bendhera
lalayu paying agung miwah bawat tinon angendanu
pindha mendhung kaya nyurem-nyuremna sorote Sang
Hyang Pratanggapati. Dene ingkang anindhihi ing pagelaran
inggih ta Rekyana patih Udawa, bagus warnane sembada
prawireng yuda mumpuni salwiring guna ing aguna, putus
sandining weweka dhasar ambeg paramarta tansah
angresepi saisining praja marma wong sapraja wedi asih lahir
trus ing batin. Kacarita ing pagedhongan sri narendra arsa
mangun boja wiwaha. Lire boja dhedhaharan, wiwaha
darbe karya. Yektine sang nata arsa mantu. Sinten ta ingkang
den unggar-unggaring karya, tuhu rayi nata putrid ing
Banoncinawi asesilih dewi wara Sembadra ginadhang dhaup
lan raden Arjuna satriya ing Madukara.
Keempat penutup disebut wasana menjelaskan bahwa,
Sang nata akan mulai dialog (Ginem). Permainan gending berhenti
134
(suwuk). Bagian keempat penutup (wasana) contohnya adalah sebagai
berikut:
Ing pagedhongan sang nata sampun ndhawuhaken manguyu-
uyu, mangka dereng ngaturi uninga ingkang raka nata
ing Mandura Prabu Baladewa. Mila mangkana pangudyasmaraning
driya “Iya jagad dewa batara, yen kaka prabu miyarsa
mendah saiba dukane.
Demikianlah Janturan jejer I. Di sana dijelaskan, bahwa raja
Kresna akan menikahkan adik yang bernama dewi Wara Sembadra.
Selanjutnya Janturan jejer II, Janturan jejer III dan seterusnya. Secara
structural akan tersusun seperti pada Janturan jejer I, yaitu berupa
Adangiyah, Pambuka, Isi dan diakhiri dengan penutup (Wasana).
Tentunya ada perbedaan, misalnya waktunya lebih pendek
secara otomatis susunan kata-katanya pun akan lebih pendek pula.
Demikian juga Adangiyahnya pun tentu berbeda. Lebih-lebih isinya,
pasti akan berbeda jauh. Sedangkan pambuka dan panutupnya meski
berbeda, tetapi tidak terlalu jauh. Bahkan bisa juga dilakukan dengan
cara mengarang sendiri, atau membaca karangan orang lain.
Jika memang sudah memiliki perbendaharaan kata cukup maka Janturan
jejer bisa dilakukan secara improvisasi. Namun seyogyanya tidak
meninggalkan struktur.
Yang tidak boleh dilupakan bahwa setiap pergantian jejer
harus menggunakan singgetan (wayang gunungan ditancap di tengah-
tengah jagadan), sebagai tanda aleh tempat. Sebelum kayon
dicabut untuk tanda akan ke jejer lanjutan dimulai, sang dalang mengucapkan
kalimat Adangiyah demikian, contoh:
Anenggih sinigeg gantya ingkang winursita ing kawi, ingkang
wonten nagari…, candrane kaya surya kalingan
mega.
(sasmita / tanda dalang minta gending Remeng Slendro pathet Nem)
Selanjutnya dalang harus memilih kata untuk disusun sebagai
pambuka janturan jejer lanjutan, contoh:
Minangka sambunging carita, seje panggonane, nanging
bareng angkate. Punika ta gelare nagari…………
Sedangkan untuk isi, dalang harus melanjutkan memilih kata
sebagai sarana untuk mengungkapkan kondisi alam suatu negara
atau pertapaan, pedesaan yang sedang jejeran. Ada beberapa hal
yang harus diucapkan sang dalang di antaranya yaitu mengenai kondisi
alam dari suatu negara atau pertapaan atau pedesaan, nama raja
atau nama pendeta atau tokoh pedesaan, yang sedang dialami ra135
ja, pendeta atau tokoh pedesaan. Sebagai penutup (pamungkas
atau wasana) tidak berbeda jauh dengan contoh Janturan jejer I.
3.5.2 Ginem
Ginem adalah dialog antara tokoh yang satu dengan tokoh
yang lain dalam seni pertunjukkan wayang purwa Jawa. Ginem dalam
pewayangan harus terucap jelas agar para penonton serta pendengar
bisa mengerti dengan mudah dan memahaminya, sehingga
pesan-pesan yang bersifat mendidik akan mudah diterima oleh masyarakat.
Ginem dalam penyajian wayangnya diatur berdasarkan
suara bilah gamelan, misalnya dalam kawasan waktu pathet Nem
suara tokoh Kresna mengikuti laras pada bilah 2, dan apabila dalam
lingkungan pathet Sanga mengikuti laras pada bilah 1, dalam pathet
Manyura mengukuti laras pada bilah 2. Suara tokoh Duryudana dalam
pathet Nem mengikuti bilah 6, dalam pathet Sanga mengikuti bilah
1 dan dalam pathet Manyura mengikuti suara bilah 6.
Sedangkan tokoh wayang lainnya bisa dilakukan dengan
cara mendasar pada bentuk wayang (wanda). Secara structural, ginempun
juga tersusun seperti pada janturan, yaitu terdiri dari bagianbagian,
yaitu Adangiyah, Pambuka, Isi, dan Wasana. Contoh ginem:
Kresna : Jagad dewa batara wayah batara jagad.
Nganti sapandurat kalepyan yen den
adhep para nayaka myang Santana .
(Adangiyah). Kulup Samba apa baya ora
dadi guguping atinira ingsun piji aneng
ngarsaningsun (Pambuka)
Samba : Kawula nuwun-nuwun sareng kula tampi
dhawuh timbalan paduka, dhahat guguping
manah, nalika wonten jawi kados sinamber
gelap tuna, tinubruk ing mong tuna, upami
uninga gebyaring caleret tuhu mboten uninga
dhawahing gelap, raosing manah kumepyur
kados panjang putra dhumawahing
sela kumalasa, upami kambengan salamba
pinanjer ing madyaning alun-alun katiyubeng
samirana sakalangkung anggen
kula kumejot kumitir carob wor lan maras,
sareng dumugi ing ngarsa nata, asreping
manah kula kados siniram toya ing wanci
enjing, babar pisan datan darbe maras.
Kawula nuwun-nuwun………………
Dialog Raden Samba yang no. 2 di atas merupakan dialog
yang masih berada pada bagian pambuka, dan dialog pambuka ini
136
juga diisi dengan ucapan selamat kepada kawan bicara (bage-binage).
Bage-binage tersebut biasanya agak panjang, sebab tokoh yang
dikelirkan juga banyak. Sekarang contoh dialog pada bagian isi.
Kresna : Kulup Samba, seje ingkang ingsun pangandikake.
Mungguh bakal gawene bibinira
Bratajaya dhaup lan pamanira Premadi.
Ing samengko kurang pirang dina, lan
kang padha nindakake pakaryan tarub-tarub
makajangan ing para mantri bupati sarta
pondhok-pondhok apa wus rumanti?
Samba : Kawula nuwun-nuwun kangjeng dewaji. An
dangu badhe damelipun kanjeng bibi Bratajaya,
namung kirang sacandra kalenggahan
punika. Dene panggarap-ipun tarubtarub
makajanganipun para mantri bupati
sampun sami paripurna sadayanipun. Dalah
para among tamu sarta sapasren-pasrenipun
sampun sami mirantos, malah
sampun wiwit manguyu-uyu. Kawula nuwun-
nuwun…….
Kalimat-kalimat ginem di atas hanya merupakan cuplikan
saja. Berisi tentang persiapan menjelang akan adanya perhelatan
perkawinan dewi Wara Sembadra. Namun yang perlu diamati adalah
susunan kata-katanya yang indah, berdasarkan unggah-ungguh basa
yang benar.
Seperti sastra-sastra yang tergabung dalam sastra pedalangan
lainnya, sastra antawacana pada bagian ginem-pun terkandung
unsur-unsur purwakanthi (kalimat bersajak), tingkatan bahasa
(unggah-ungguh basa), tata bahasa (paramasastra), kalimat emosional
(ukara sesumbar) dan lain sebagainya. Kalau di depan diberikan
contoh tentang kalimat ginem dalam kondisi yang tenang, maka
dibawah ini adalah contoh ginem pada saat dua tokoh bersitegang.
Dalam hal ini ki dalang saat memilih kata harus jeli, karena akan memilih
kalimat emosional (ukara sesumbar). Contoh prajurit berhadapan
dengan prajurit.
Prajurit 1 : Hayo, yen pancen sugih kendel, bandha
wani tandhingana aku
Prajurit 2 : Waaaaahh, sumbarmu kaya bisa mutung
wesi gligen. Kaya lanang-lananga dhewe.
Apa wis sacengkang kandele kulitmu. Hayo
dak teter kaluwihanmu.
137
Prajurit 1 : Heeee…… majua sayuta ngarsa, sakethi
wuri ora bakal mundur sajangkah
Prajurit 2 : Kopat-kapita kaya ula tapak angin, kekejer
kaya manuk branjangan, lena pangendhamu
kena dak saut, sabetake prabatang sirna
ilang kuwandhamu!
Prajurit 1 : Tumengaa ing akasa tumungkula ing pratiwi
dak tebak dhadhamu sumyur…..
Contoh ginem raksasa melawan satriya:
Raksasa : Yen kena tak eman, hayo balia
Satriya : ora gawar, ora ana kentheng sarta tan ana
awer-awer kena apa ngalang-alangi laku?
Raksasa : Ndhas buta pating jenggeleg kang minangka
gawar kentheng
Satriya : Ndhas buta pating jenggeleg dak sampar
dak sandhung rambute nggubed ana ing
suku dak tigas curiga lebur tanpa dadi
Raksasa : We lha dala. Ora kena dieman. Wani kowe
karo aku
Satriya : Apa sing dak wedeni?
Raksasa : He…satriyaaaa…..dhuwurmu cendhek, gedhemu
cilik.
Satriya : Ora ana satriya Nempiling ndhase buta
ndadak nganggo ancik-ancik
Raksasa : Kecek sugih japa mantra
Satriya : Ora watak satriya maguru bathangmu
Raksasa : Ngati-ati dak paribasakake timun mungsuh
duren dak bruki remuk dak glundhungi ajur
Kalimat-kalimat ginem di atas dalam kasusasteraan Jawa
sering direkayasa menjadi kalimat tembang Macapat. Misalnya cerita
Partakrama R.Ng. Sindusastra ada yang dibentuk dalam tembang.
Tembang Pangkur:
Denira arsa mangsulana,
Wrekodara krodha sru turireki,
Eh pambarep kadangingsun,
Aja mangsuli sira,
Ingsun ingkang mangsuli prakara iku,
During tutug wong Astina,
Nggone ngajak ora becik.
Tekan si Bule Mandura,
Wiwit milu-milu atining iblis,
138
Jalithenge teka katut,
Yen pareng karsanira,
Si Janaka ingsun arak sesuk esuk,
Sarta sun payungi gada,
Sun iring kaprabon jurit.
Pangantene wadon kana,
Si Bule kang amayungana bindi,
Kurang kurawa kang wuwuh,
Kang njajari gegaman,
Mring panganten sun tunjange ganjuringsun,
Singa tiwas ing ayuda,
Kang raka datan nauri.
3.5.3 Pocapan
Seorang dalang disamping mengucapkan janturan jejer juga
sering memberikan penjelasan kepada para penonton atau pendengar
dengan melalui sebuah narasi yang mengungkapkan tentang
kejadian di suatu tempat atau kejadian yang sedang dilakukan oleh
seorang tokoh wayang, atau kejadian itu baru akan dijalankan. Ungkapan-
ungkapan melalui narasi itulah yang dimaksud dengan pocapan
(pa-ucap-an atau pa-omong-an). Kalimat kejadian yang dimaksud
adalah seorang tokoh bertamu, seorang tokoh melamun, bersemedi,
seorang tokoh dirundung kesedihan, seorang tokoh yang sedang
jatuh cinta (gandrung), seorang tokoh yang akan berangkat ke
medan perang, kejadian sesudah perang, kejadian sedang geger,
bencana alam, dan masih banyak lagi yang lainnya. Contoh pocapan
seorang tokoh yang bertamu ke suatu negara, Prabu Baladewa bertamu
ke suatu negera.......,biasanya pocapan dimulai dari negara
yang akan menerima kehadiran Prabu Balawadewa, misalnya:
Reg reg reg, wauta gumeder, gumarenggeng, gumuruh
swaraning janma padha salang-tunjang kaya gabah den iteri
kaya jebug sinemburan, bledug mangampak-ampak, cingak
para mantra bupati kang padha sumewa temahan sami
taken tinakenan “hehehe dialon kanca, dialon kanca..”
Pocapan di atas terungkap untuk penggambaran di pihak
negara yang akan kedatangan tamu. Hal Ini dilakukan sebagai tanda
hormat suatu negara kepada Prabu Baladewa. Selanjutnya apabila
tamu sudah berada di dalan pasewakan, dalang kembali pocapan,
misalnya:
Lah ing kana ta wau, dupi srinarendra kakalih nenggih Prabu
Duryudana kalayan Prabu Baladewa sampun aben
ajeng nulya gapyuk rerangkulan samya kangen-kangenan.
139
Saparipurnaning rerangkulan nulya samya lenggah sekeca.
Kakalih-kalihipun yen sinawang saking mandrawa candrane
pindha Sang Hyang Bhathara Sambu miwah Bhathara
Brahma angejawantah neng jagad sigra andum bagya. Prabu
Baladewa rawuh ing nagari Astina mahanani sepi sidhem
ing pasewakan wit kaprabawan maring pangaribawaning
nata Mandura kang amengku gati. Mangkana pangandikane
prabu Duryudana : “kaka prabu, sakecakna”!
Pocapan / Kandha Bedholan Jejer I (gaya Jawatimuran)
Parpurna pangandikaning sang nata Sri Batara Kresna
sigra paring sasmita kundur angedhaton. Tedhak jog saking
palenggahan “dhampar dhenta” Kadherekaken para emban
cethi biyada srimpi manggung ketanggung jaka palara-lara,
sami ngampil pirantining kanarendran. Tindake sang nata
ngagem bungkul kencana, keclap-keclap kinarya tindak
amecak. Sapecak mandheg sapecak tumoleh. Sri nata datan
karsa mriksani adi rengganing gapura. Laju manjing kadhaton
trus kadhatulaya, kapapag garwa prameswari tetiga.
Sagunging para seba nuli bibaran saking sitinggil solahe
kaya seinamberan dhandhang.
(Ki Dalang Cung Wartanu, Mojokerto-an 1979)
Pocapan / Kandha Semedi
Sri Batara Kresna dupi manjing kedhaton sarta sampun kapapag
ingkang garwa tetiga nulya manjing sanggar pamujan
sarwi ngagem busana sarwa seta, sigra nenuwun dhateng
panguwasane batara srana semedi. Traping Semedi
kanthi sedhakep asta, suku tunggal. Sedhakep wus ngarani,
asta tangan, tunggal kumpul. Tegese Srinata ngeningaken
ciptane, ngempalaken pancaindriyane nutupi babahan
hawa sanga. Mandeng pucake grana mandeng nyawang,
pucak pucuk, grana irung. Lire sajuga kang sinidikara. Keplasing
cipta amung sawiji kang sinedya, sowan marang
ngarsane Sang Hyang Pramesthi Guru, amung nyuwun pangayoman
mrih wudharing reruwet.
(Ki Dalang Cung Wartanu 1979)
Kandha / Pocapan Ajar Kayon
Bubaring para seba kanthi tandha tengara panabuhe beri,
swarane gumonthang mengungkang-ungkang saksad sundhul
ing akasa.Tineteg, tinitir kaya pecaha-pecaha, kaya
butul-butula. Sepisan tandha pasewakan bubaran, ping pin140
dho pratandha ana prakara. Patih Kala Rangsang duta saking
nagari Rancang Kencana dutane Prabu Kala Kumara
sigra den pilara Prabu Baladewa. Mila ribut sagung para seba.
Pating sliri pating bilungkung pindha kawula ngluru bendara,
bendara ngluru kawula. Solah nganti kaya gabah den
interi. Golong-golong mangulon, golong-golong mangetan
candrane kaya sela blekithi. Sela arane watu, blekithi semut,
kaya semut lumaku ana sak ndhuwure watu mujudake
barisan kaya prajurit ngadhepi bebaya.
(Ki Dalang Cung Wartanu 1979)
Pocapan Kresna Semedi
Kacarita, Sri Batara Kresna sigra patrap semedi maladi hening,
sedhakep saluku juga nutupi bahahan hawa sanga,
ngeningaken pancadriya. Panca ateges lima, driya pangangen-
angen, sekawan kang binengkas sajuga kang sinidikara
anut lebu wetuning bajra herawana kinarya nut laksitaning
brata, ana rupa tan dinulu ana ganda tan ingambu, ana
swara tan rinungu. Hanapas hanupus pan yayah mati sajroning
urip, amung warana ingkang taksih lumaris, campur
kalayan layap liyeping aluyup, pindha pesating sukma sumusup
ing rasa jati sejatine tumlawung. Jagad wus rinegem
dadi sawiji amung kari samrica binubud. Dudu jagad kang
gumelar, nanging jagade Sri Kresna kang wus datan kaendhih
dening Sir-Budi-Cipta-Rasa, amung kari satata nedya
hormat ingkang tanpa karana. Datan antara dangu wus antuk
wewengan bakal kasembadan sasedyane nanging yaamung
sinimpen ing driya, temahan amung nalangsa marang
kang akarya jagad saisine. Dhasar Sri Batara Kresna
narendra kang widagda ulah puja.
(Kastana-Supriyono-Partakrama Pakeliran Gaya Surakarta 2003)
Demikianlah beberapa contoh pocapan. Sebenarnya masih
banyak lagi pocapan yang harus ditampilkan dan diungkapkan oleh
dalang selama penyajiannya. Hampir setiap jejeran dan adegan dari
awal hingga akhir pertunjukkan, dalang selalu bernarasi (pocapan).
Ada pocapan yang dalam suasana tenang, merdeka tetapi
juga ada pocapan yang bersitegang, keras, emosional sehingga dalam
sajian harus bersama dengan dhodhogan kothak dan ucapannya
lebih keras. Para ahli nabuh gamelan mengatakan bahwa grimingan
gender, dalam mengiringi pocapan yang tegang, harus grimingan
ada-ada (vokal dalang dalam suasana tegang), misalnya pocapan
tokoh Gathotkaca ketika akan terbang. Demikian juga pocapan
tokoh Wrekodara mlumpat (meloncat) dan ketika seorang bang-bangan
(bambangan) akan masuk hutan (alas-alasan) dalam suasana
141
tegang, maka dhodhogan, grimingan gender ada-ada harus mengiringinya.
Berbeda dengan pocapan yang dalam susana merdeka,
maka grimingan gender menggunakan grimingan pathetan, tanpa
dhodhogan kothak.
Dalam pertunjukkan wayang kulit Jawatimuran, pocapan ini
pasti ditopang dengan iringan gending/lagu yang dilagukan oleh alat
gamelan yang lembut: slenthem, gambang, siter, gender babok, suling
yang diawali gender lanang yang dinamakan gadhingan.
Contoh pocapan alas-alas :
Laju lampahira wong bagus sang hamara tapa satriya ing
Plangkawati kekasih Raden Angkawijaya ya Raden Abimanyu,
kadherekaken abdi panakawan catur Semar-Gareng-
Petruk lan Bagong. Purna angambah geriting ancala tepining
waudadi. Sigra laju manjing wana wasa. Wana gung liwang
liwung alas angker gawat kaliwat sabab dadya panonopane
jim setan peri parayangan engklek-engklek balung
atandhak. Bebasan sato mara sato mati, janma mara janma
mlayu.Tan ana janma wani mlebu mring wana Tri Baya, sapa
wani bebasan mulih kari aran. Nanging dupi katrajang
marang lampahe sang abagus Raden Angkawijaya sadaya
buron alas samya bubar lumajar salang tunjang. Yen ta bisa
tatajalma teka mangkana pangucape: ”He para kanca
padha piyak sumingkira, aja wani-wani midak wayangane
mesthi lebur tanpa dadi, sabab iki dudu wong lumrah nanging
maksih turasing kusuma rembese madu, wijiling kang
handanawa rih.” Sak-sak-sak-sak gropak gedebug sanalika
kaya sinapon jumedhule para raseksa sigra ngamuk panggung
marga liwung.
Pocapan alas-alasan di atas dapat dipakai untuk bambangan
yang lain. Artinya bukan hanya tokoh Abimanyu saja.Tokoh pewayangan
yang tergolong bambangan kecuali Abimanyu yaitu Raden
Irawan, Bambang Priyambada, Pramusinta, Nakula dan Sadewa
ketika masih muda dan mungkin masih ada lagi. Disebut tokoh bambangan
karena usia tokoh tersebut masih muda, masih sendirian dan
baru saja lolos dari perguruan di mana sebagai gurunya adalah seorang
pandhita, pertapa, begawan, resi, maharsi, wasi dsb. Sebutan
bambangan berasal dari bahasa Jawa. bang-bang-an yang mulanya
dari kata bang berarti harap. Bang-bang-an berarti pengharapan.
Gelar atau sebutan bang-bang-an (bambangan) diperoleh oleh seorang
pemuda yang sudah memiliki semua ilmu pengetahuan, perang
dan berulah senjata, guna kasantikan, pengetahuan tentang lahir
dan batin (kesaktian) yang didapat dari seorang guru/pendeta di
142
pertapaan. Pertapaan (pertapan) biasanya berada pada tempat jauh
dari kehidupan masyarakat ramai atau jauh dari kota, dan pada
umumnya pertapaan berada di lereng gunung, di tepi hutan dan di
pedasaan. Oleh karena itu bambangan sering disebut satriya gunung.
Bila hal ini dilakukan oleh seorang gadis, maka gadis itu mendapatkan
sebutan/gelar yaitu Endang yang artinya gadis gunung. Jadi
pada hakikatnya satriya gunung atau gadis gunung adalah sebuah
generasi harapan yang harus bisa dan mampu untuk meneruskan
perjuangan para generasi sebelumnya.
Bila generasi bambangan ini merupakan generasi harapan
maka lamanya pendidikan tidak ditentukan oleh waktu bulan atau tahun,
melainkan sangat tergantung kepada calon bambangan itu sendiri.
Mereka dituntut menjadi seorang bang-bangan (bambangan)
yang berkualitas. Sang guru pun ikut menentukan bagi selesainya
para calon bambangan. Bila sang guru sudah mengatakan bagus
(paripurna) maka sang bambangan bisa melanjutkan kariernya sebagai
satriya yang harus menunjukkan karya-karyanya bagi keluhuran
nusa dan bangsa.
Mengamati kondisi bambangan yang begitu berkualitas,
maka para dalang dalam penggambaran pocapan bambangan diungkapkan
melalui pemilihan kata dengan bahasa Jawa yang luhur
dan lungguh (pantas). Dalam pocapan bambangan ini, sang dalang
harus mengucapkan dengan bersama-sama dhodhogan dan dengan
nada emosional. Demikian pocapan yang penyajiannya sebagai narasi,
menjelaskan sebuah perilaku seorang tokoh pewayangan

Oleh Supriyono dkk, Pedalangan untuk Sekolah Kejuruan Jilid 1

No comments:

Post a Comment