var adfly_protocol = 'https'; var popunder = true;

Monday, August 7, 2017

Resi Kumbayana



Orang sakti bertubuh cacad itu telah mengangkat murid baru, Bimasena dan Harjuna, dan disusul Puntadewa, Nakula dan Sadewa. Dalam pernyataan awal mereka berlima berjanji akan selalu patuh kepada guru. "Ha, ha, ha, bagus-bagus! Aku tidak menyangka bertemu kalian berlima yang terkenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Dengan suka hati aku bersedia menjadi gurumu"

Patih Sengkuni gusar. Orang asing yang berhasil mengambil Cupu Lenga Tala, telah mengangkat murid Pandhawa. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa Lenga Tala akan diberikan Pandhawa. Apalagi setelah mengetahui bahwa para Kurawa telah merebut paksa dari tangan Begawan Abiyasa. Namun sebelum kemungkinan paling buruk terjadi, Patih Sengkuni segera mendekatinya, dengan penuh hormat ia memperkenalkan diri. "Namaku Sengkuni, patih Hastinapura, dan yang berada di sekitar sumur itu adalah putra-putra raja. Jika diperbolehkan aku akan memanggilmu Kakang, seperti layaknya sebutan untuk saudara tua. Kebetulan Sang raja butuh guru sakti bagi putra-putranya. Untuk itu kakang, sekarang juga engkau aku ajak menghadap raja. Aku akan meyakinkan kesaktianmu, sehingga raja berkenan mengangkatmu menjadi guru resmi istana."

Sebenarnya orang asing tersebut tidak membutuhkan murid, selain Pandhawa lima. Namun tawaran Patih Sengkuni perlu dipertimbangkan. Karena dengan menjadi guru istana, ia dapat memanfaatkan kekuatan dan kebesaran Hastinapura untuk tujuan-tujuan pribadi. "Baiklah Adhi Sengkuni, aku terima tawaranmu, asalkan anakku Aswatama dan Pandhawa lima boleh masuk ke istana untuk bersama putra-putra raja mendapatkan ilmu dariku."

Sengkuni keberatan dengan syarat itu. Ia tidak suka Pandhawa tinggal di istana. Bahkan beberapa waktu lalu Patih Sengkuni berhasil membujuk raja untuk mengusir Pandhawa, dengan alasan bahwa Pandhawa telah menghasut rakyat untuk memusuhi raja. "Jika kalian keberatan dengan syarat itu, akupun keberatan untuk masuk istana. Maaf! Selamat tinggal! Ayo murid-muridku, ikutilah aku!"

"Adhuh celaka! Lenga Tala dibawa! Para Kurawa kejar dia!!"

Ketika Kurawa bergerak untuk mengejar mereka, tiba-tiba kabut tebal menghadang jalan. Orang sakti dan Pandawa lima lenyap di balik putihnya kabut.

Siapakah sesungguhnya orang sakti itu? Ia menuturkan riwayatnya kepada Pandawa Lima sebelum mengajarkan ilmu di Padepokan tempat tinggalnya.

Namaku Durna atau Kumbayana, artinya bejana air. Nama itu dipilih untuk mengingatkan peristiwa kelahiranku. Ketika ayahku bertapa, ia tergoda oleh seorang bidadari bernama Dewi Grahitawati, yang sedang mandi di telaga. Karena tidak kuasa menahan nafsu, maka air kama ayah jatuh ke telaga. Air kama itulah kemudian di tempatkan di dalam bejana air yang kemudian menjadi anak manusia, dan diberi nama Kumbayana.

Ayahku adalah raja di Hargajembangan, bernama Prabu Baratwaja. Sebagai anak tertua, aku disiapkan menjadi raja. Semula Hargajembangan merupakan kerajaan kecil, namun semenjak Rama Baratwaja menyimpan keris Pulanggeni pinjaman Begawan Abiyasa, guru Ramanda dari tanah Jawa, Hargajembangan menjadi sebuah negara besar. Kerajaan-kerajaan di bumi Atasangin tunduk kepada Hargajembangan. Aku tahu bahwa Ramanda Prabu berilmu hebat, namun menurutku kebesaran tahta Hargajembangan bukan karena kehebatan ramanda, melainkan karena kesaktian Pulanggeni. Bagaimana jadinya jika tanpa Pulanggeni? Apakah negara-negara Bumi Atasangin masih tetap tunduk dibawah Hargajembangan? Jika tiba saatnya nanti aku menggantikan Ramanda dengan Pulanggeni, tentunya akupun dapat menjadi raja besar. Tetapi aku heran, mengapa Begawan Abiyasa membiarkan keris Pulanggeni bertahun-tahun berada di Hargajembangan? Apakah di padepokannya masih tersimpan puluhan pusaka sekelas Pulanggeni. Betapa beruntungnya jika aku dapat bertemu dan berguru kepadanya.

Sore itu, Hargajembangan memamerkan ke kesuburannya. Tanaman padi umur lima pekan menghampar hijau bak permadani menyelimuti sebagian besar bumi Hargajembangan. Hingga sore merambat malam, para petani enggan beranjak, sebelum mereka mendengar gemericiknya air mengaliri tanamannya. Karena bagi mereka suara gemericik dari ujung petak sawahnya bagaikan kidung malam yang menghantar ke tempat peraduan, untuk berbaring tidur dalam kelegaan.

Jauh dipusat Kota, di malam itu juga, Ramanda Prabu memanggil aku dan adikku Sucitra. Rupanya ada hal yang begitu penting. Aku berdebar menghadapnya.

"Kumbayana, karena usia yang mendekati senja, kesehatanku semakin menurun, dan gampang lelah. Pada siapa lagi tahta kuserahkan, kalau bukan padamu. Oleh karenanya matangkanlah ilmumu untuk bekal menjadi raja."

"Kapan Ramanda?"

"Lebih cepat lebih baik."

Inilah saat yang kutunggu Dengan Pulanggeni aku akan menjadi raja besar, menguasai raja-raja di Bumi Atasangin. Namun belum reda getar suka-citaku, Ramanda Prabu mengambil keris Pulanggeni dan menyerahkannya kepada Sucitra "Kembalikan keris ini kepada Bapa Guru Abiyasa dan mohon doa restunya untuk penobatan Kumbayana." Debar suka citaku berhenti seketika. Menyusul keringat dingin ketakutan.


Perasaan takut menyelinap di dalam hatiku, setelah keris Pulanggeni berada di tangan Sucitra dan segera akan dikembalikan pemiliknya di Tanah Jawa. "Rama Prabu, kalau boleh, keris Pulanggeni jangan dikembalikan terlebih dahulu, aku sangat membutuhkannya sebagai ‘sipat kandel’ menjadi raja."

"Kumbayana, pengembalian pusaka tidak mungkin untuk ditunda. Aku sudah berjanji kepada Bapa Guru Abiyasa, jika Hargajembangan telah menjadi besar, keris Pulanggeni segera aku kembalikan. Tidakkah engkau melihatnya sekarang? Bumi Atasangin telah menjadi satu di bawah Hargajembangan. Engkau tinggal memelihara dan mempertahan-kan kebesaran negeri ini."

"Ampun Ramanda Prabu, memelihara dan mempertahankan lebih berat dari pada merintis dan membangun."

"Kumbayana, memelihara dan mempertahankan memang butuh kesabaran dan welas asih. Hal itu bukan berarti lebih berat dibandingkan dengan merintis dan membangun. Baik itu membangun atau pun memelihara, keduanya mempunyai kesulitannya masing-masing. Namun yang lebih penting bahwa engkau jangan salah mendudukan pusaka dalam hidupmu! Untuk menjadi raja yang terutama adalah ilmu dan kesiapan lahir batin.

"Ampun Ramanda, jika Ramanda telah mengambil tuah dari pusaka Pulanggeni untuk merintis dan membangun, apa salahnya aku menginginkan Pulanggeni untuk memelihara negri yang Ramanda wariskan."

"Kumbayana, ada hal yang belum kau mengerti, bahwa Bapa Guru Abiyasa memberikan pusaka Pulanggeni untuk mengangkat wibawa, menebarkan rasa segan dan takut bagi yang berniat jahat dan membahayakan kelangsungan Hargajembangan. Karena dengan demikian orang akan mudah ditundukan dan diatur. Bukanlah hal tersebut telah terbukti? Namun sekarang, para raja Bumi Atasangin telah tunduk kepada kita. Mereka bukan musuh kita lagi. Mereka adalah sahabat-sahabat yang bersama-sama dengan Hargajembangan menjaga keutuhan Bumi Atasangin. Apakah engkau tega menebar rasa takut kepada para sahabat kita?"

"Jika demikian Ramanda, biarlah aku yang mengembalikan Keris Pulanggeni ke tanah Jawa, siapa tahu karena kebaikan Begawan Abiyasa, aku diberi pinjaman pusaka sekelas Pulanggeni untuk kepentingan yang berbeda, yaitu menjaga kebesaran Hargajembangan dan persatuan Bumi Atasangin.

"Kumbayana, perjalanan ke Tanah Jawa membutuhkan waktu yang tidak pendek, terlebih letak Padepokan Saptaarga yang berada di puncak gunung ke tujuh, tidak cukup ditempuh selama satu bulan. Itu artinya engkau akan membuang waktu yang seharusnya dipergunakan untuk mempersiapkan dirimu menjadi raja?"

Rama Prabu Baratwaja bergeming pada perintah semula, pengembalian keris Pulanggeni dipercayakan Sucitra.

Pada hari yang disepakati, pagi-pagi benar, Sucitra membawa Keris Pulanggeni, meninggalkan Hargajembangan. Firasatku mengatakan bahwa wahyu keraton telah hilang dari Bumi Atasangin. Kewibawaan Hargajembangan akan menjadi surut. Raja-raja di Bumi Atasangin yang selama ini tunduk kepada Hargajembangan akan berontak, dan yang terkuat akan menguasai Hargajembangan.

Aku menjadi takut dinobatkan, dan tidak mau menjadi raja sebelum mendapat pusaka sekelas Pulanggeni.

Maka aku berniat meninggalkan tanah tumpah darahku, Negara Hargajembangan di bumi Atasangin.

Aku pamit melalui selembar surat.

"Ramanda Prabu yang aku hormati,

Ketika Pulanggeni dibawa pergi Sucitra, ada sesuatu yang lepas dari Negara Hargajembangan. Oleh karena itu Ramanda dengan terpaksa aku meninggalkan Bumi Atasangin untuk mencari pusaka pengganti Pulanggeni di tanah Jawa.

Jika aku ditakdirkan menjadi raja, kelak aku pasti akan kembali di Bumi Atasangin. Maafkan Ramanda Prabu dan selamat tinggal."

Putranda yang durhaka
Kumbayana

Pada tengah malam aku tinggalkan Bumi Atasangin. Niatku pergi ke tanah Jawa, menemui Begawan Abiyasa.

Semakin jauh Negara Hargajembangan aku tinggalkan, semakin sedih rasanya.

Tidak terasa kedua pipiku basah oleh airmata. Berat juga berpisah dengan Ibunda Ratu dan Ramanda Prabu, yang sejak kecil mengasuh, mendidik dan mencintaiku.

Perjalanku terhenti di tepi Samodra. Suasana hening sepi. Berhadapan samodra luas, disertai deburan ombak besar bergulung susul menyusul, kesaktianku tidak berarti.

Apakah adikku Sucitra menyeberangi samodra ini? Bagaimana caranya?

Bagaimana aku dapat sampai ke tanah Jawa? Oh Dewa tolonglah aku.

Hanya Dewalah yang dapat menolong.

Jika Orang, pasti keturunan Dewa.

Namun jika binatang, tentu kendaraan Dewa.

Kalaupun ada yang dapat menolongku, jika wanita akan aku peristri, jika laki-laki, aku angkat menjadi sahabat.

Tiba-tiba di angkasa ada benda putih terbang menuju tempat aku berdiri.

Semakin dekat, semakin jelas. Seekor Kuda Bersayap!

Binatang yang hanya aku kenal dalam dongeng tersebut, mendarat tepat di depanku.

Ke empat kakinya ditekuk, sayapnya dikibas-kibaskan, ia memberi isyarat dengan kepalanya agar aku duduk di punggungnya.

Apakah binatang ini dikirim dewa untuk menolong aku? Menyeberangkan aku ke tanah Jawa? Tanpa pikir panjang, aku naik di punggungnya.

Tiba-tiba sayapnya dikepakan.

Aku dibawa terbang. Tinggi dan semakin tinggi.

No comments:

Post a Comment

var adfly_protocol = 'https'; var popunder = true;